Harga emas mengalami penurunan tajam selama sesi perdagangan hari ini, turun lebih dari 1,3% hingga berada di bawah level US$4.270 per ons. Pelemahan tersebut sekaligus menghapus seluruh kenaikan harga emas yang tercatat sepanjang tahun ini. Pergerakan turun yang dinamis ini didorong oleh kombinasi kekhawatiran hawkish dan revisi proyeksi harga oleh sejumlah institusi keuangan besar di Wall Street.
Fakta Penting dan Anomali Pasar
- Citigroup Pangkas Proyeksi Harga Emas: Citigroup menurunkan target harga emas untuk tiga bulan ke depan dari US$4.300 menjadi US$4.000 per ons. Para analis memperingatkan bahwa jika blokade Selat Hormuz terus berlanjut dan permintaan fisik emas tetap melemah, harga dapat turun lebih jauh hingga mencapai US$3.500 per ons. UBS juga memangkas proyeksi harga emas pada akhir tahun ini dari US$5.900 menjadi US$5.500 per ons.
- Anomali Harga: Menariknya, aksi jual emas terus berlanjut meskipun ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat sedikit menurun. Saat ini, kontrak futures memperkirakan hanya satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, dibandingkan 1,2 kali kenaikan yang diperkirakan pada awal pekan ini setelah data Non-Farm Payrolls (NFP) Jumat lalu dirilis jauh lebih kuat dari perkiraan.
- Harga Minyak dan Wall Street Sama-Sama Turun: Penurunan harga emas terjadi bersamaan dengan pelemahan harga minyak mentah, di mana WTI turun di bawah US$90 per barel. Secara teori, kondisi ini seharusnya mengurangi tekanan inflasi dan memberikan dukungan jangka pendek bagi emas. Namun demikian, sentimen penghindaran risiko masih mendominasi pasar. Modal juga keluar dari pasar saham, yang terlihat dari koreksi signifikan pada indeks utama Wall Street seperti US500 dan US100.
Saat ini, emas menunjukkan perilaku yang tidak biasa dengan mengabaikan pelonggaran kecil dalam ekspektasi jalur suku bunga The Fed. Hal ini mengindikasikan bahwa investor kemungkinan sedang merealisasikan keuntungan setelah reli yang berlangsung selama beberapa bulan atau mengurangi eksposur mereka di tengah melemahnya sentimen pasar secara umum.
Apa Selanjutnya?
Ujian terpenting bagi pelaku pasar emas akan datang besok, ketika Amerika Serikat merilis data inflasi CPI bulan Mei.
Jika inflasi dirilis lebih tinggi dari perkiraan pasar, tekanan terhadap harga emas berpotensi meningkat. Pasar kemungkinan akan kembali memperhitungkan biaya pinjaman yang lebih tinggi di AS, yang dapat mendorong harga emas turun mendekati level US$4.000 per ons.
Saat ini, harga emas masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 sesi. Sebelum mencapai area US$4.000, terdapat level support penting lain berupa retracement Fibonacci 38,2% dari gelombang kenaikan besar yang berlangsung sejak tahun 2023.
Sinyal penting berikutnya bagi pasar emas adalah kemungkinan kembalinya pelemahan dolar AS. Saat ini, indeks dolar AS (DXY) terlihat kembali bergerak menuju area 100, level yang sebelumnya menjadi titik perdagangan penting pada akhir Maret serta Juli dan November 2025.
Pada periode-periode tersebut, area tersebut selalu menjadi titik pantulan yang mendukung pemulihan harga emas.
Daily Summary: Nasdaq Tertekan, Pasar Waspadai CPI AS
Harga Minyak WTI Jatuh di Bawah US$90, Koreksi Berlanjut?
Kalender Ekonomi: Fokus Pasar Beralih ke Data Inflasi AS
Market Wrap: Pasar Pulih Setelah Meredanya Ketegangan Iran-Israel
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.