Wall Street mengakhiri sesi dengan penurunan di seluruh pasar. S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun 0,3%, sementara Nasdaq melemah 0,6%.
Pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi CPI hari ini, 12 Agustus 2026.
Situasi di sekitar Selat Hormuz tetap tegang. Hal ini terjadi meskipun Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki “kontrol penuh” atas selat tersebut dan jalurnya sudah terbuka. Data lalu lintas kapal belum mengonfirmasi pernyataan tersebut.
Insiden tambahan yang melibatkan kapal komersial di kawasan Bab al-Mandab dan Teluk Oman juga menunjukkan bahwa risiko terhadap pelayaran masih tinggi.
Negara-negara Teluk semakin aktif mencari rute alternatif yang menghindari Selat Hormuz.
Hal ini menunjukkan bahwa mereka melihat situasi tersebut sebagai masalah yang lebih dari sekadar krisis jangka pendek.
Harga minyak tetap tinggi meskipun Presiden Trump menyatakan Amerika Serikat mengendalikan selat.
Harapan terhadap kesepakatan AS-Iran dan pembukaan kembali Hormuz masih berhadapan dengan serangan baru terhadap kapal di kawasan.
Di satu sisi, terdapat tanda-tanda bahwa pembicaraan menuju pembukaan kembali selat mengalami kemajuan.
Di sisi lain, insiden baru di Laut Merah dan Teluk Oman menunjukkan bahwa risiko pelayaran masih tetap tinggi.
EIA menaikkan proyeksi harga minyak untuk 2026 dan 2027.
Lembaga tersebut menyoroti gangguan produksi dan tantangan transportasi sebagai faktor utama.
Pasar saham Asia bergerak beragam hari ini.
Rebound saham teknologi dan produsen chip menjadi penopang utama.
KOSPI naik lebih dari 3%, didorong kenaikan kuat Samsung dan SK Hynix. Nikkei bergerak lebih moderat dengan kenaikan sekitar 0,9%.
Emas naik sekitar 0,6% dan menguji area US$4.400 per ons.
Perak bergerak di atas US$65 per ons.
Daily Summary: Nasdaq Unggul Saat Minyak Turun Tajam
Minyak Turun Saat Risiko Pasokan Mulai Mereda
US Open: US100 Dekati Rekor, Saham AI Tetap Memimpin
Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.