14.48 · 22 September 2026

Emas Bertahan Saat Minyak Turun dan ETF Terus Beli

Harga emas naik tipis pada Selasa, 22 September, ke kisaran US$4.360 per ons, membalikkan sebagian koreksi tajam sehari sebelumnya setelah harga minyak mentah turun lebih dari 9% dalam empat sesi perdagangan. Penurunan harga energi membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang sebelumnya ikut mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.

Namun, perkembangan yang lebih menarik justru terlihat dari perilaku investor. Ketika harga emas terkoreksi, investor ETF berbasis emas justru terus menambah posisi. Kondisi ini menunjukkan bahwa keyakinan jangka panjang terhadap emas masih bertahan meskipun volatilitas jangka pendek meningkat.

Minyak Turun, Emas Dapat Ruang Bernapas

Mekanisme yang menggerakkan emas saat ini cukup jelas.

Harga minyak menjadi salah satu sumber utama tekanan inflasi. Ketika harga energi turun, kekhawatiran terhadap inflasi ikut mereda sehingga alasan bagi The Fed untuk terus mengetatkan kebijakan moneter menjadi sedikit lebih lemah.

Brent crude turun ke kisaran US$100 per barel, memperpanjang penurunan selama empat sesi berturut-turut setelah muncul perkembangan diplomatik terkait konflik AS-Iran.

Presiden Trump juga mengindikasikan keterbukaan untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum PBB di New York pekan ini.

Dari sisi suplai, aliran minyak mentah dan LNG melalui Selat Hormuz dilaporkan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, sementara jalur transit utama dikonfirmasi bebas dari ranjau.

Kondisi ini berbeda dengan awal September, ketika harga minyak sempat mendekati US$110 per barel setelah serangan Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi.

Lonjakan tersebut memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga dan sempat menekan emas ke level terendah dalam lima minggu di sekitar US$4.290 per ons.

Investor ETF Justru Membeli Saat Harga Turun

Data yang paling menarik dari pergerakan emas September bukan hanya harga spot, tetapi perilaku investor institusional.

Meskipun emas telah turun sekitar 22% dari rekor tertingginya di US$5.589 per ons pada Januari 2026, arus dana menuju ETF berbasis emas fisik tetap positif.

Pada Agustus 2026, ETF emas global mencatat inflow sekitar US$18 miliar, terbesar kedua sepanjang sejarah, dan mendorong total kepemilikan menjadi rekor 4.189 metrik ton.

Tren tersebut berlanjut pada September, dengan sekitar 50 ton tambahan inflow sepanjang bulan ini. Jika berlanjut hingga akhir bulan, September akan menjadi bulan ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan kepemilikan ETF emas.

Posisi short yang dibangun sebagian investor menjelang keputusan The Fed juga dengan cepat ditutup setelah harga emas justru rebound sekitar 2,5% tidak lama setelah pengumuman suku bunga.

Kenaikan Suku Bunga Belum Menghentikan Emas

Keputusan FOMC pada 16 September untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% memang sempat memberikan tekanan terhadap emas.

Namun rally pada sesi berikutnya menunjukkan bahwa pasar sebelumnya sudah banyak memperhitungkan kenaikan tersebut.

Fokus investor sekarang bergeser pada jalur kebijakan berikutnya.

Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed mengindikasikan setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Goldman Sachs merespons perubahan outlook tersebut dengan memangkas estimasi nilai wajar emas akhir 2026 dari US$4.900 menjadi US$4.650 per ons.

Namun target akhir 2027 tetap dipertahankan di sekitar US$5.400.

Salah satu alasan utama outlook jangka panjang emas tetap relatif konstruktif adalah pembelian dari bank sentral global.

Pembelian tersebut berjalan di sekitar 91 ton per bulan, jauh di atas rata-rata sebelum 2022 yang hanya sekitar 17 ton.

Permintaan struktural dari bank sentral menjadi salah satu faktor yang membantu menopang emas meskipun lingkungan suku bunga masih ketat.

Bagaimana Investor Bisa Mendapatkan Eksposur?

Investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap tren emas tanpa membeli emas fisik juga dapat melihat ETF sektor pertambangan emas seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX).

GDX melacak kinerja sejumlah perusahaan tambang emas terbesar di dunia dan saat ini diperdagangkan di sekitar US$94–95 per saham, dengan return year-to-date sekitar 11–15%.

Dari sisi harga, GDX berada sekitar 19% di bawah level tertinggi 52 minggu di US$117,18, sehingga juga mengalami koreksi yang cukup besar dari puncaknya.

Perbedaan utama GDX dibanding ETF emas fisik terletak pada operating leverage.

Ketika harga emas naik, perusahaan tambang dapat menikmati kenaikan margin yang lebih besar karena sebagian biaya produksi relatif tetap. Namun mekanisme tersebut juga bekerja sebaliknya. Jika The Fed kembali memperketat kebijakan atau harga minyak melonjak akibat eskalasi geopolitik, harga emas dapat kembali tertekan dan saham perusahaan tambang biasanya mengalami pergerakan yang lebih besar dibanding harga emas itu sendiri.

Karena itu, GDX bukan sekadar pengganti langsung emas fisik. ETF ini memberikan eksposur terhadap bisnis pertambangan emas, sehingga investor juga harus mempertimbangkan risiko biaya produksi, margin, operasional perusahaan, dan volatilitas saham.

GDX tersedia untuk diperdagangkan melalui platform XTB sebagai salah satu produk ETF AS.

22 September 2026, 00.51

Daily Summary: Nasdaq Melonjak 2%, Minyak Turun Jadi Katalis

21 September 2026, 21.31

Tokenized Stocks Mulai Masuk Pasar AS

21 September 2026, 20.56

US Open: Nasdaq Naik, Fokus Beralih ke Trump–Xi

21 September 2026, 16.40

Kirkland Makin Besar, Brand Konsumer Mulai Tertekan

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.