15.53 · 24 Juni 2026

Emas Tertekan Setelah Deutsche Bank Pangkas Target Harga

Harga emas turun hampir 0,7% hari ini dan diperdagangkan di bawah USD 4.100 per ons setelah Deutsche Bank secara signifikan merevisi prospek pasar logam mulia.

Bank tersebut memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk kuartal ketiga 2026 menjadi USD 4.300 per ons dan kuartal keempat 2026 menjadi USD 4.800 per ons. Revisi ini setara dengan penurunan lebih dari 22% dan 17% dibandingkan estimasi sebelumnya.

Padahal pada April lalu, Deutsche Bank masih memperkirakan harga emas berpotensi naik menuju USD 6.000 per ons dengan dukungan defisit fiskal global, tren de-dolarisasi, dan berkurangnya kepemilikan obligasi pemerintah AS oleh bank sentral negara berkembang.

Perubahan pandangan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih hawkish serta ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang terus berlanjut.

Menurut Deutsche Bank, kombinasi repricing ekspektasi suku bunga The Fed dan kuatnya ekonomi AS kini menjadi hambatan terbesar bagi emas.

Dalam skenario dasar mereka, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga hingga akhir 2026. Namun bank tersebut memperingatkan bahwa tiga hingga empat kali kenaikan suku bunga tambahan dapat mendorong harga emas turun hingga USD 3.800 per ons.

Mengapa Emas dan Perak Terus Turun?

  • Goldman Sachs juga memangkas proyeksi harga emas akhir tahun sebesar USD 500 menjadi USD 4.900 per ons dan tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026.
  • Bank of America juga mulai menjauh dari target sebelumnya sebesar USD 6.000 per ons dengan alasan inflasi yang masih tinggi berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
  • Selain itu, arus keluar dana dari ETF berbasis emas menunjukkan bahwa permintaan investor jauh lebih lemah dibandingkan fase bull market sebelumnya.
  • Harga emas di China yang diperdagangkan dengan diskon terhadap harga Comex juga mengindikasikan bahwa impor emas dari China kemungkinan tidak akan menjadi sumber dukungan utama dalam waktu dekat.
  • Di sisi lain, bank sentral global tetap menjadi pilar permintaan yang paling kuat dan diperkirakan akan terus mendukung pasar emas dalam jangka panjang.
  • Emas dan Perak Gagal Mendapatkan Dukungan dari Risiko Geopolitik. Sejak pecahnya konflik Amerika Serikat–Iran pada akhir Februari, harga emas telah turun lebih dari 22%, meskipun secara historis logam mulia biasanya diuntungkan oleh meningkatnya risiko geopolitik.
  • Perak bahkan mengalami kinerja yang lebih buruk. Sejak akhir Februari, harga perak telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya dan turun lebih dari 5% pada sesi perdagangan terbaru.
  • Kontrak berjangka emas ditutup turun sekitar 1,3% pada Selasa di sekitar USD 4.149 per ons, sementara harga spot sempat mendekati USD 4.090 per ons.
  • Penguatan dolar AS juga terus memberikan tekanan tambahan terhadap logam mulia. Indeks Dolar AS (DXY) telah naik sekitar 0,8% sejak pertemuan terakhir Federal Reserve.

Pasar Menunggu Data Inflasi PCE

Ujian berikutnya bagi pasar emas adalah laporan inflasi PCE Amerika Serikat yang akan segera dirilis.

Jika angka inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, narasi The Fed yang hawkish berpotensi semakin kuat dan memberikan dukungan tambahan bagi dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah.

Bagi emas, kondisi tersebut menjadi tantangan karena logam mulia tidak menghasilkan pendapatan dan harus bersaing langsung dengan instrumen berbunga yang semakin menarik.

Kondisi makro saat ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik saja tidak lagi cukup untuk mendorong harga emas naik.

Selama ekonomi AS tetap kuat, dolar bertahan di level tinggi, dan Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, emas dan perak kemungkinan akan kesulitan mengembalikan momentum kenaikannya.

 

24 Juni 2026, 01.03

Daily Summary: Saham Chip Anjlok, Nasdaq Tertekan di Tengah Keraguan AI

23 Juni 2026, 19.37

Koreksi AI Mengguncang Pasar

23 Juni 2026, 16.07

Nasdaq Tertekan, AI Hadapi Ujian Besar dari Fed dan Micron

23 Juni 2026, 14.00

Harga Emas Anjlok, Pasar Kini Bertaruh pada Kenaikan Suku Bunga Fed

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.