Senin terakhir di bulan Mei akan memberikan jeda singkat bagi pasar keuangan global, dengan perdagangan ditutup di AS untuk libur Memorial Day, bersama penutupan pasar di Inggris, Hong Kong, dan Korea Selatan. Namun ketenangan ini kemungkinan bersifat menipu.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih sangat tinggi, sementara pekan depan akan dipenuhi data makroekonomi penting yang berpotensi membentuk sentimen investor dalam jangka pendek. Fokus utama pasar adalah data inflasi pilihan Federal Reserve, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) index, bersama serangkaian data inflasi konsumen (CPI) Eropa dan komentar penting dari para bankir sentral. Menjelang berbagai katalis tersebut, ada tiga instrumen utama yang layak diperhatikan secara ketat: S&P 500 (US500), EUR/USD, dan USD/JPY.
S&P 500 (US500 Futures)
Indeks acuan AS menghadapi ujian penting terhadap ketahanannya.
Setelah berhasil stabil dan kembali mendekati rekor tertinggi sepanjang masa, perhatian investor kini tertuju pada paket data penting AS yang akan dirilis Kamis depan.
Dari perspektif kebijakan moneter, fokus utamanya adalah laporan personal income and outlays April yang mencakup core PCE deflator — indikator inflasi favorit Federal Reserve.
Meski demikian, preferensi tersebut sewaktu-waktu dapat berubah di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
Rilis data ini akan memberikan sinyal yang lebih jelas mengenai ruang bagi potensi perubahan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Selain PCE, Kamis depan juga akan menghadirkan data GDP AS, durable goods orders, dan weekly jobless claims.
Meskipun laporan earnings luar biasa Nvidia baru-baru ini dianggap sebagai penutup musim laporan keuangan utama, sejumlah perusahaan besar seperti Salesforce, Dell, Costco, dan Snowflake masih akan merilis hasil kuartalan mereka pekan depan.
Waller Guncang Pasar dengan Nada Hawkish
US OPEN: Wall Street Dekati Rekor Baru di Tengah Euforia AI
Kalender Ekonomi: Fokus Data Sentimen Konsumen AS
Market Wrap: Saham AI Asia Melonjak, Nasdaq Dekati Rekor Baru
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.