Hari Sibuk di Pasar: Inggris dan Payrolls AS Jadi Sorotan
Hari ini, kalender ekonomi dipenuhi data penting. Data Non-Farm Payrolls (NFP) AS dirilis lebih awal karena libur 4 Juli besok. Biasanya, NFP menjadi sorotan utama, namun kali ini, perhatian pasar juga tertuju ke aset Inggris, menyusul gejolak tajam di pasar obligasi Inggris (Gilts) pada Rabu.
Yields obligasi Inggris melonjak dan pound sterling melemah drastis setelah Perdana Menteri gagal menunjukkan dukungan kepada Kanselir Keuangan Rachel Reeves dalam sesi tanya jawab parlemen. Namun, Reeves justru mendapat dukungan dari pasar obligasi. Kenaikan yield menjadi peringatan bagi PM dan Partai Buruh: pasar tidak ingin melihat kanselir yang lebih berpandangan kiri. Reeves dianggap sebagai sosok paling “market-friendly” yang bisa diharapkan dari kubu Buruh.
Pasar Obligasi Tegaskan Pesan untuk Partai Buruh
Pasar obligasi telah memberi sinyal keras kepada sayap kiri Partai Buruh: ekonomi Inggris tidak mampu menanggung beban belanja kesejahteraan saat ini. Kenaikan yields juga dipicu oleh kekhawatiran menjelang Anggaran Musim Gugur (Autumn Budget). Rencana pemangkasan belanja sosial yang dilunakkan menimbulkan kekhawatiran akan naiknya pajak atau peningkatan utang negara — dua opsi yang tidak disukai pasar.
Pesan dari pasar jelas: Reeves harus segera mengendalikan belanja sektor publik, atau konsekuensinya adalah gejolak lebih dalam di pasar obligasi.
Volatilitas Pasar Obligasi Jadi Tren Baru Inggris
Meskipun yields obligasi Inggris sempat turun pada akhir perdagangan Rabu setelah PM menyatakan dukungan terhadap Reeves, yield 10 tahun tetap naik 15 basis poin dan yield 30 tahun melonjak hampir 20 basis poin — lonjakan terbesar sejak April.
Sejak 2022, volatilitas di pasar obligasi Inggris semakin sering terjadi, mencerminkan struktur fiskal yang rapuh. Tren ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga utang publik Inggris mulai menurun dan belanja negara kembali ke level pra-Covid.
Pound Sempat Pulih, Tapi Masih Terlemah di G10
Pound sterling hari ini menguat, tapi masih menjadi mata uang terlemah di kelompok G10 selama Juli. GBP/USD naik tipis selama sesi Asia dan memulihkan hampir 50% dari penurunan hari Rabu. Ketegangan politik di pemerintahan Inggris menjadi faktor utama volatilitas mata uang ini.
Menariknya, setelah menjadi mata uang terburuk, pound kini menjadi top performer di G10 pada Kamis pagi — tanda betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan politik Inggris.
Pratinjau Data Payrolls AS
Sementara itu, pasar saham AS mencetak rekor baru pada hari Rabu menjelang rilis data NFP hari ini. Ekspektasi pasar saat ini adalah penciptaan 106.000 pekerjaan, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,3% — tertinggi sejak 2021. Upah per jam diperkirakan turun tipis menjadi 3,8% YoY, sementara klaim pengangguran awal diprediksi meningkat.
Data ADP Payrolls yang negatif tidak mengguncang pasar kemarin, dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed naik dari 20% ke 25%. Namun, jika NFP di bawah 100.000, pasar bisa semakin yakin bahwa pemangkasan suku bunga Fed akan terjadi lebih cepat, yang bisa melemahkan dolar AS dan menurunkan yield Treasury.
Hari Penentu: Inggris Pagi Ini, AS Nanti Malam
Fokus pasar pagi ini ada di Inggris, sebelum beralih ke data ekonomi AS. Suasana pasar diperkirakan tetap hati-hati, meskipun dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang G10 dan futures S&P 500 menunjukkan pembukaan lebih tinggi malam nanti.
Morning Wrap (02.03.2026)
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉