Harga gold melemah mendekati level terendah dalam sembilan minggu meski ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat.
Pergerakan ini membalik asumsi klasik bahwa eskalasi geopolitik otomatis mendorong permintaan safe haven dan mengangkat harga emas.
Rilis FOMC Minutes mempertegas satu pembacaan penting: The Fed memang dapat menahan suku bunga pada Oktober, tetapi siklus pengetatan belum tentu selesai.
Narasi inilah yang saat ini lebih menentukan arah gold dibandingkan headline geopolitik.
Perang Kali Ini Jadi Beban, Bukan Pendorong, bagi Gold
Transmisi geopolitik kali ini berjalan berbeda dari pola biasanya.
Eskalasi di Selat Hormuz mendorong harga oil naik agresif, dengan Brent telah menguat lebih dari 70% sepanjang 2026.
Lonjakan harga energi tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi AS.
Alih-alih mendorong The Fed ke arah yang lebih dovish, risiko inflasi yang kembali meningkat justru membuat komite tetap berhati-hati dan mempertahankan narasi higher for longer.
Yield Treasury 10 tahun AS bertahan di sekitar 5,3%, dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Yield yang tinggi meningkatkan opportunity cost memegang gold yang tidak memberikan bunga.
Pada saat yang sama, dolar AS yang menguat bersama kenaikan yield membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli non-USD.
Biasanya dua tekanan tersebut dapat diimbangi oleh safe-haven demand ketika risiko geopolitik meningkat. Namun kali ini, permintaan tersebut belum cukup kuat untuk membalik tekanan dari yield dan dolar.
FOMC Minutes Geser Fokus Pasar dari Oktober ke Desember
Minutes dari pertemuan The Fed 15–16 September menunjukkan komite masih memprioritaskan risiko inflasi dan belum memberikan sinyal bahwa kebijakan akan segera dilonggarkan.
Reposisi pasar untuk pertemuan 28 Oktober terlihat jelas dalam data CME FedWatch.
Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00% mencapai 81,7%, sementara peluang kenaikan ke 4,00%–4,25% hanya 18,3%.
Angka tersebut turun tajam dibandingkan probabilitas kenaikan lebih dari 60% pada akhir September.
Namun, ekspektasi untuk pertemuan 15–16 Desember belum ikut turun.
Pasar masih memperhitungkan probabilitas kenaikan sekitar 83%.
Artinya, investor bukan melihat The Fed telah selesai menaikkan suku bunga, melainkan hanya memperkirakan timing kenaikan berikutnya bergeser dari Oktober ke Desember.
Lebih jauh, kurva futures masih memperkirakan suku bunga bertahan dekat 4,7% hingga akhir 2027, sekitar 60 basis poin di atas median dot plot September The Fed.
Selama premium pengetatan tersebut masih bertahan di kurva suku bunga, upside gold akan sulit memperoleh pijakan yang stabil.

Sumber: CME FedWatch
Yang Perlu Dipantau Trader Gold Setelah Ini
Katalis berikutnya kemungkinan lebih banyak datang dari data ekonomi dibandingkan headline geopolitik.
Rilis CPI AS menjadi salah satu variabel terpenting.
Jika inflasi tercatat lebih rendah dari ekspektasi, pasar dapat dengan cepat memangkas pricing kenaikan suku bunga Desember dan membuka ruang pemulihan bagi gold.
Treasury yield 10 tahun AS dan indeks dolar DXY juga menjadi indikator real-time yang penting.
Selama keduanya tetap kuat, premium geopolitik dari Selat Hormuz saja belum tentu cukup untuk mendorong kenaikan gold secara berkelanjutan.
Harga Brent dan WTI tetap menjadi penghubung utama antara ketegangan Timur Tengah, risiko inflasi, dan keputusan The Fed.
Dalam setup saat ini, kombinasi harga oil yang melemah dan CPI yang lebih lunak menjadi skenario yang paling mendukung bagi potensi rebound gold.
Daily summary: Wall Street Bertahan, Silver Jatuh di Bawah US$60
FOMC Minutes: The Fed Masih Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Stok Crude Oil AS Turun, Tapi Harga Oil Masih Tertahan
Gold Turun, Yield AS Kembali Menekan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.