Pasar logam mulia sedang mengalami salah satu aksi jual paling tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada Jumat, 30 Oktober, harga emas anjlok lebih dari 3% selama sesi perdagangan hingga menembus ke bawah US$3.900 per troy ounce, padahal pada awal pekan pasar masih berupaya mempertahankan level psikologis US$4.000. Emas juga berisiko mencatat harga penutupan terendah dalam lebih dari 12 bulan. Sebagai perbandingan, pada akhir Agustus, harga emas sempat mendekati puncak US$4.700, sehingga sejak saat itu telah kehilangan hampir US$800 per troy ounce. Sepanjang Oktober saja, penurunannya mencapai sekitar 6%. Berdasarkan data imbal hasil bulanan kami sejak 2006, ini merupakan kinerja Oktober terburuk bagi emas sejak 2008. Saat itu, setelah kebangkrutan Lehman Brothers, harga emas anjlok 16,9%, justru ketika karakteristiknya sebagai aset aman (safe haven) seharusnya memberikan perlindungan. Dinamika serupa kini kembali terjadi, menunjukkan bahwa ketika investor membutuhkan likuiditas, hampir tidak ada aset aman selain uang tunai. Pola yang sama juga terlihat pada 2020.

Kejatuhan Saham Teknologi di Wall Street
Pemicu langsung aksi jual emas pada Jumat adalah gelombang penurunan baru saham perusahaan teknologi. Laporan keuangan kuartalan yang mengecewakan semakin memperbesar keraguan investor mengenai kemampuan investasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan keuntungan yang sepadan. Nasdaq 100 turun sekitar 2,2% di pasar spot pada Jumat, sementara S&P 500 melemah sekitar 1,3% dan bergerak mendekati moving average 100 hari. Saham Intel anjlok hampir 30% setelah merilis proyeksi kinerja yang lebih lemah dari ekspektasi, sedangkan Amazon turun 2% setelah mengumumkan peningkatan belanja modal. Menurut Bloomberg, perusahaan teknologi raksasa AS diperkirakan menghabiskan total sekitar US$750 miliar untuk AI tahun ini. Sementara itu, bisnis inti mereka, termasuk periklanan, e-commerce, dan layanan konsumen, mulai menunjukkan perlambatan, sebagian karena terdampak persaingan dari teknologi AI yang mereka kembangkan sendiri. Sepanjang Oktober, kapitalisasi pasar Nasdaq 100 menyusut lebih dari US$1,2 triliun. Analis Wall Street menyoroti bahwa ketika indeks mengalami penurunan tajam, investor berhenti memindahkan modal antarsektor dan mulai beralih ke uang tunai. Mekanisme inilah yang turut mendorong aksi jual emas hari ini.
Paradoks Safe Haven: Mengapa Emas Ikut Anjlok?
Harga emas justru turun ketika sentimen penghindaran risiko (risk aversion) mendominasi pasar keuangan. Namun, modal yang mencari perlindungan saat ini terutama mengalir ke obligasi pemerintah AS (US Treasuries), yang berada di jalur untuk mencatat kinerja bulanan terbaik sejak Februari 2025. Menariknya, kenaikan harga obligasi, yang menyebabkan penurunan yield, terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga minyak mentah. Kondisi ini menyerap likuiditas dari pasar saham, sementara emas ikut terseret dalam momentum penurunan. Investor yang harus memenuhi margin call cenderung menjual aset yang paling likuid dan sebelumnya menghasilkan keuntungan terbesar. Emas dan perak memenuhi kedua karakteristik tersebut.
Gejolak juga melanda pasar mata uang kripto. Binance mengungkapkan insiden peretasan dengan nilai kerugian mencapai rekor, sementara Bitcoin turun ke bawah US$77.000. Harga emas tidak mendapatkan dukungan dari gejolak tersebut, memperkuat indikasi bahwa aksi jual saat ini lebih didorong oleh kebutuhan likuiditas dibandingkan perubahan fundamental pasar emas.
Sikap Hawkish Fed dan Tingginya Yield Obligasi AS
Faktor utama kedua di balik kejatuhan harga emas adalah kebijakan moneter Federal Reserve (Fed). Pada Rabu, Fed mempertahankan suku bunga acuan, tetapi tidak menutup kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperhitungkan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember sebesar lebih dari 70%. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,95%, sehingga meskipun harga obligasi mengalami penguatan sepanjang Oktober, biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas tetap sangat tinggi.
Ekspektasi kenaikan suku bunga semakin diperkuat oleh data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk September, yang meningkat 0,5% secara bulanan (MoM), tertinggi sejak Maret, dan 3,6% secara tahunan (YoY). Sementara itu, inflasi inti PCE tercatat 3,1% YoY. Produk domestik bruto (PDB AS) tumbuh 3,4% secara tahunan yang disetahunkan (annualized) pada kuartal ketiga, melampaui proyeksi 3,2%. Perekonomian yang kuat dan inflasi yang kembali meningkat mengurangi alasan bagi Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter, sekaligus melemahkan faktor pendukung kenaikan harga emas.
Harga Minyak, Konflik Timur Tengah, dan Pemilu Paruh Waktu AS
Tekanan inflasi juga diperkuat oleh kenaikan harga minyak. Setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak Brent melonjak hingga 2,5% selama sesi perdagangan menuju sekitar US$117,76 per barel, level tertinggi sejak April. Sementara itu, harga minyak WTI menembus US$104 per barel. Pasar mengkhawatirkan kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran segera setelah pemilu paruh waktu (midterm elections) pada Selasa. Ketegangan geopolitik yang biasanya mendukung harga emas justru memberikan tekanan kali ini karena memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Pasar prediksi memperkirakan peluang Partai Demokrat memenangkan kedua kamar Kongres AS sekitar 68%. Analis menilai skenario tersebut sedikit negatif bagi dolar AS. Namun, bahkan pelemahan dolar yang terbatas belum mampu melindungi emas dari aksi jual pada perdagangan hari ini.
Analisis Teknikal Harga Emas
Sejak mencapai puncaknya pada Agustus, harga emas membentuk pola puncak yang semakin rendah (lower highs) dan lembah yang semakin rendah (lower lows) pada grafik harian. Harga masih berada di bawah moving average 50, 100, dan 200 hari, yang mengindikasikan dominasi tren bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) telah turun ke wilayah jenuh jual (oversold) di sekitar 30 poin, tetapi MACD masih menunjukkan konfigurasi bearish. Area support terdekat berada di US$3.850–3.880, dan penembusan ke bawah zona tersebut berpotensi membuka ruang penurunan menuju US$3.800. Sementara itu, resistance utama berada di US$4.000, diikuti US$4.100 dan kumpulan moving average pada kisaran US$4.200–4.490.

Harga Perak, Platinum, dan Palladium Tertekan Lebih Dalam
Harga perak anjlok hampir 5% pada Jumat menjadi US$49,64 per troy ounce, sehingga total penurunannya sepanjang Oktober mencapai sekitar 18%. Dengan penurunan tersebut, perak telah menghapus seluruh kenaikan sejak awal Desember, ketika reli selama dua bulan yang membawa harga melampaui US$120 per troy ounce dimulai. Meskipun indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh jual, perak masih menghadapi risiko likuidasi posisi beli (long liquidation) dan aksi jual oleh dana investasi berbasis momentum (momentum funds), yang dapat membuka jalan menuju US$45. Rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) meningkat ke level tertinggi sejak Desember, mencerminkan kerentanan perak yang lebih besar terhadap penurunan harga. Emas sendiri masih menarik investor yang relatif kurang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Harga platinum dan palladium juga melanjutkan penurunan. Sejak awal tahun (year-to-date/YTD), platinum telah melemah lebih dari 30%, sementara palladium kehilangan 40% nilainya. Selain tekanan likuiditas dan prospek kenaikan suku bunga, kedua logam tersebut juga terbebani oleh pelemahan struktural permintaan dari sektor otomotif.
Bagaimana Prospek Harga Emas Selanjutnya?
Aksi jual emas saat ini merupakan hasil dari beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Setelah laporan keuangan sektor teknologi mengecewakan, investor semakin membutuhkan likuiditas, sementara modal yang mencari perlindungan justru mengalir ke obligasi pemerintah AS, bukan logam mulia. Tekanan tersebut diperburuk oleh inflasi yang masih tinggi, meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga Fed pada Desember, mahalnya harga minyak mentah, serta ketidakpastian menjelang pemilu paruh waktu AS dan perkembangan konflik Timur Tengah. Selama Fed belum memberikan sinyal perubahan arah menuju pelonggaran kebijakan moneter dan aksi jual Wall Street belum mereda, harga emas tetap rentan menguji level yang lebih rendah meskipun secara teknikal sudah berada di wilayah jenuh jual. Namun, pengalaman pada krisis keuangan 2008 menunjukkan bahwa setelah fase penjualan paksa (forced selling) berakhir, emas dapat dengan cepat kembali mendapatkan statusnya sebagai aset safe haven.
OPEC+ Bekukan Kuota, Harga Minyak Bisa Makin Panas?
Intel Anjlok 20% Meski Laba Lampaui Ekspektasi!
Ekspor LNG Rekor, Harga NGAS di Bawah US$3! Bisa Rebound?
Saham Caterpillar Melonjak? Data Center AI Jadi Mesin Baru!
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.