Di tengah perhatian investor yang terfokus pada koreksi tajam indeks saham AS dan pelemahan saham SpaceX, pasar logam mulia juga mengalami tekanan yang tidak kalah besar. Harga emas turun 1,7% dan mendekati level USD 4.100 per ons. Sementara itu, harga perak merosot hampir 4% dan bergerak mendekati USD 62 per ons.
Sejak mencapai rekor tertinggi di sekitar USD 5.600 pada akhir Januari, harga emas kini telah kehilangan sekitar 5% sepanjang tahun berjalan. Bahkan pada kuartal ini saja, emas telah terkoreksi hampir 12%, menghapus seluruh kenaikan yang sempat tercatat sepanjang 2026. Kekhawatiran terhadap inflasi yang tetap tinggi kini lebih dominan dibanding optimisme sementara dari negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut menekan harga minyak Brent ke bawah USD 78 per barel.
Tekanan Inflasi dan Sikap Hawkish The Fed
- Konflik Timur Tengah Mendorong Inflasi. Konflik yang berlangsung hampir empat bulan di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga energi dan barang konsumsi, meningkatkan risiko inflasi yang lebih persisten.
- Peluang Kenaikan Suku Bunga Meningkat. Tekanan inflasi yang tinggi memperbesar kemungkinan bank sentral, khususnya Federal Reserve, kembali memperketat kebijakan moneternya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
- Pejabat Fed Tetap Hawkish. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, menyampaikan kekhawatiran bahwa inflasi masih jauh di atas target dan bergerak ke arah yang tidak diinginkan.
Sementara itu, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, terus mengadopsi retorika hawkish dan menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga secara penuh.
Dolar AS Semakin Kuat
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, ditambah data ekonomi AS yang tetap solid, mendorong penguatan dolar AS. Pasangan EURUSD turun ke area 1,14, mencerminkan dominasi dolar terhadap mata uang utama lainnya. Saat ini pasar mulai memperhitungkan peluang besar kenaikan suku bunga pada September, meskipun faktor politik seperti pemilu paruh waktu AS dan evaluasi internal The Fed masih dapat memengaruhi keputusan akhir.

Sumber: Bloomberg Finance LP
Situasi Teknikal dan Arus Keluar Dana
ETF Emas Mengalami Arus Keluar Dana. Permintaan investasi tradisional juga menunjukkan pelemahan. Terjadi arus keluar dana yang berkelanjutan dari ETF berbasis emas, sementara investor terus melakukan penjualan unit kepemilikan. Di China, harga emas lokal bahkan diperdagangkan dengan diskon dibandingkan harga Comex, mengindikasikan bahwa impor emas dari negara tersebut belum akan memberikan dukungan signifikan dalam waktu dekat.
Bank Sentral Masih Menjadi Penopang Utama
Satu-satunya faktor yang tetap memberikan dukungan kuat terhadap pasar emas adalah pembelian dari bank sentral global. Permintaan ini diperkirakan tetap tinggi dalam jangka panjang dan menjadi fondasi utama yang menopang pasar saat minat investor institusional melemah.
Bank Investasi Pangkas Target Harga Emas
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS memaksa sejumlah bank investasi besar merevisi proyeksi harga emas mereka.
Deutsche Bank
Deutsche Bank memangkas proyeksi harga emas lebih dari 20%.
Target baru mereka adalah:
- Kuartal III 2026: USD 4.300 per ons
- Kuartal IV 2026: USD 4.800 per ons
Bank tersebut juga memperingatkan bahwa jika The Fed menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali lagi, harga emas berpotensi turun hingga USD 3.800 per ons.
Goldman Sachs
Goldman Sachs juga memangkas target harga emas akhir tahun sebesar USD 500. Target terbaru kini berada di level USD 4.900 per ons. Revisi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga sama sekali sepanjang tahun ini.
Fokus Pasar Beralih ke The Fed
Saat ini, arah pergerakan emas lebih banyak ditentukan oleh tiga faktor utama:
- Kebijakan suku bunga Federal Reserve
- Pergerakan imbal hasil obligasi AS
- Kekuatan dolar AS
Selama pasar masih meyakini bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, potensi kenaikan harga emas diperkirakan tetap terbatas meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Kalender Ekonomi: Utang AI Bayangi Wall Street
Market Wrap: AI Tertekan, Minyak Turun Usai Kemajuan AS-Iran
Daily Summary: Alphabet dan SpaceX Seret Wall Street Lebih Rendah
Selat Hormuz Kembali Stabil, Risiko Energi Belum Hilang
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.