17.31 · 2 November 2026

Harga Minyak Anjlok 3,5%! Trump Redam Konflik Iran?

Inti pembahasan
Inti pembahasan
  • Harga minyak Brent anjlok lebih dari 3,5% mendekati US$109 per barel karena meredanya premi risiko geopolitik.
  • Pasar merespons sinyal diplomasi AS dan penundaan tindakan militer menjelang pemilu paruh waktu.
  • Tren kenaikan jangka panjang Brent tetap bertahan di atas indikator moving average utama.

Harga minyak Brent anjlok lebih dari 3,5% pada Senin, turun mendekati US$109 per barel dan menghapus hampir seluruh kenaikan pekan sebelumnya. Harga minyak WTI juga melemah dengan persentase serupa menuju sekitar US$100 per barel. Sekilas, pergerakan ini terlihat mengejutkan karena Presiden Donald Trump pada akhir pekan menegaskan bahwa dirinya tidak berniat mengesampingkan opsi militer terhadap Iran. Namun, pasar justru merespons laporan Axios yang menyebutkan bahwa Trump telah memberi tahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai keinginannya untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum mempertimbangkan dimulainya kembali serangan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengonfirmasi pada Sabtu bahwa belum ada keputusan mengenai serangan baru dan Presiden lebih memilih penyelesaian diplomatik.

Kurva harga kontrak berjangka minyak Brent menunjukkan penurunan untuk periode setidaknya satu tahun ke depan. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

Peningkatan kemiringan kurva dalam periode satu tahun (M1–M12) mengindikasikan kondisi jenuh beli yang signifikan, ketika selisih harga kontrak mencapai hampir US$30. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

Situasi ini merupakan contoh klasik ketika pasar lebih memercayai bocoran informasi tidak resmi mengenai niat sebenarnya dibandingkan retorika keras dalam pernyataan publik. Menurut Arne Lohmann Rasmussen dari A/S Global Risk Management, perang tidak populer di Amerika Serikat, salah satunya akibat tingginya harga bahan bakar. Karena itu, Presiden memiliki kepentingan politik untuk memberikan sinyal kemungkinan berakhirnya konflik. Menurutnya, sinyal diplomasi tersebut bisa bersifat taktis dan sengaja disampaikan menjelang pemilu paruh waktu AS pada Selasa.

Pemilu tersebut menjadi faktor utama untuk memahami pergerakan harga minyak hari ini. Berdasarkan laporan Wall Street Journal sebelumnya, AS telah memberi tahu sejumlah negara Teluk Persia agar bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer singkat tetapi intensif terhadap Iran, namun hanya setelah pemilu Selasa. Pasar menafsirkan informasi ini sebagai sinyal bahwa tindakan militer yang lebih agresif ditunda hingga pemungutan suara selesai. Dalam jangka pendek, penundaan tersebut mengurangi risiko eskalasi langsung dan menghilangkan sebagian premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) dari harga minyak.

Meski demikian, situasinya tidak sepenuhnya menunjukkan arah deeskalasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui pada Minggu bahwa pembicaraan dengan mediator Qatar mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz masih berlangsung, tetapi belum menghasilkan kesepakatan. Pertemuan langsung dengan pihak Amerika Serikat juga belum direncanakan. Pada Senin, Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mempercepat rencana pemulihan keamanan penuh pelayaran di selat tersebut menjadi hanya dua hari, dengan syarat AS memenuhi tuntutan Iran. Juru bicara Esmaeil Baqaei menekankan bahwa langkah tersebut merupakan bukti tambahan iktikad baik Iran. Namun, terlepas dari pernyataan diplomatik itu, dua insiden baru yang melibatkan kapal tanker terjadi di kawasan Hormuz selama akhir pekan. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei juga dilaporkan telah menginstruksikan komandan militer untuk bersiap menghadapi konfrontasi baru dengan AS dan Israel. Dengan demikian, pasar minyak saat ini bergerak di antara dua sinyal yang saling bertentangan: upaya diplomasi taktis menjelang pemilu dan risiko militer yang masih dapat kembali meningkat segera setelahnya.

Dari sisi fundamental pasar, tekanan terhadap harga minyak juga dipengaruhi keputusan tujuh produsen OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, untuk mempertahankan batas produksi Desember tanpa perubahan. Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 29 November. Data Vortexa juga menunjukkan bahwa volume minyak dalam penyimpanan terapung (floating storage) turun 11% pada pekan yang berakhir 30 Oktober, mencapai level terendah sejak Juli. Kondisi ini mengindikasikan membaiknya kelancaran pasokan setelah gangguan selama berbulan-bulan di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk Desember menjadi US$105 per barel, dengan mempertimbangkan risiko geopolitik yang masih tinggi. Bank investasi tersebut juga memperingatkan bahwa jika ketegangan dengan China atau di Selat Hormuz kembali meningkat, harga minyak berpotensi menguji level US$120 per barel.

Perlu diperhatikan bahwa premi harga bensin dan diesel mengalami penurunan tajam, terutama di AS. Kondisi ini juga tercermin pada harga bahan bakar di pasar. Meskipun harga minyak berada di sekitar level Maret, harga bahan bakar justru menurun. Hal tersebut dapat berkaitan dengan dua faktor: pelemahan permintaan riil di negara-negara Barat atau penurunan harga yang disengaja menjelang pemilu AS. Selain itu, persediaan minyak di Eropa juga mungkin sedang dikurangi. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB.

Analisis Teknikal: Minyak Brent (OIL)

 

  • Setelah mengalami kenaikan tajam sepanjang Oktober hingga mencapai level tertinggi enam bulan di sekitar US$113–114, harga minyak Brent terkoreksi signifikan. Posisi saat ini di bawah US$109 per barel menunjukkan kembalinya harga ke area resistance sebelumnya, yang kini berfungsi sebagai support.
  • Harga masih berada di atas tiga indikator moving average utama, yaitu SMA50 di sekitar US$102,2, SMA100 di sekitar US$92,6, dan SMA250 di sekitar US$86,1. Kondisi ini menunjukkan bahwa tren kenaikan jangka panjang sejak September 2025 masih bertahan, meskipun terjadi aksi jual tajam pada perdagangan hari ini.
  • Harga masih bergerak dalam kanal tren naik (ascending trend channel). Support utama berada pada batas bawah kanal tersebut, yang diperkuat oleh area Fibonacci retracement 23,6% dari gelombang kenaikan terbaru.
  • RSI berada di level 54, masih dalam wilayah netral tanpa indikasi jenuh beli (overbought). Sementara itu, histogram MACD (2,71 dibandingkan garis sinyal 2,78) terlihat semakin mendatar dan bergerak menuju wilayah negatif. Perkembangan ini mengindikasikan bahwa momentum kenaikan harga minyak mulai melemah setelah reli sebelumnya.
  • Dari sisi resistance, zona utama tetap berada di sekitar US$112–113, yang merupakan area tertinggi terbaru. Jika harga berhasil kembali menembus dan bertahan di atas area tersebut, peluang kenaikan menuju US$116–117 akan terbuka. Dalam skenario eskalasi konflik yang lebih besar, harga bahkan berpotensi bergerak menuju US$120, sebagaimana level risiko yang disoroti Goldman Sachs.

Skenario:

  • Skenario bullish: Kegagalan negosiasi di Doha, insiden baru di Selat Hormuz, atau konfirmasi bahwa AS dan Israel kembali mempersiapkan serangan terhadap Iran segera setelah pemilu Selasa dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko geopolitik ke pasar minyak. Secara teknikal, konfirmasi kembalinya tekanan beli akan terlihat jika Brent berhasil merebut kembali level US$113, sehingga membuka peluang kenaikan menuju US$117–120.
  • Skenario bearish: Kemajuan nyata dalam negosiasi, percepatan rencana Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam dua hari, serta keputusan OPEC+ mempertahankan batas produksi yang stabil dapat mendukung kelanjutan aksi jual minyak. Jika harga menembus support US$100, ruang koreksi berikutnya akan terbuka menuju zona US$96–98, kemudian berpotensi berlanjut ke area US$88–90.

 


 
2 November 2026, 13.40

Kalender Ekonomi: Earnings Apple & Palantir, Nasdaq Siap Bergejolak?

2 November 2026, 13.22

Market Wrap: Nasdaq Rebound, Minyak Anjlok 3% Jelang Pemilu AS!

30 Oktober 2026, 01.30

Daily Summary: Wall Street Rontok! Intel Anjlok 30%, Nasdaq Turun 2,38%

29 Oktober 2026, 04.23

FOMC: Fed Tahan Bunga, Dolar AS Melemah

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.