Harga minyak mentah dunia anjlok tajam setelah pemilu midterm Amerika Serikat, dengan minyak Brent turun menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak awal Oktober 2026.

-
Harga minyak Brent turun lebih dari 9% menuju US$95 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah lebih dari 8% ke sekitar US$88 per barel.
-
Aksi jual semakin cepat setelah unggahan Wakil Presiden JD Vance, yang secara eksplisit menyalahkan perang dengan Iran sebagai penyebab kekalahan Partai Republik dalam pemilu.
-
Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres AS, meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mencari jalan keluar dari konflik tersebut.
-
Presiden Trump mengindikasikan tidak memiliki rencana untuk meningkatkan eskalasi terhadap Iran dalam waktu dekat, yang ditafsirkan pasar sebagai langkah menuju penyelesaian diplomatik.
-
Aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap mendekati level sebelum perang. Menurut estimasi JPMorgan, pasar minyak global juga telah kembali mengalami surplus pasokan sekitar 1,4 juta barel per hari pada Oktober.
-
Saham sektor energi turut mengalami penurunan, dengan indeks S&P 500 Energy melemah hampir 5%. Kerugian tajam terlihat pada sejumlah perusahaan, termasuk Marathon Petroleum, Valero Energy, dan APA.
Namun, pelaku pasar masih berbeda pandangan mengenai keberlanjutan penurunan harga minyak ini. Sebagian trader menilai kekalahan Partai Republik dalam pemilu membatasi ruang gerak Trump terkait Iran dan meningkatkan tekanan untuk mencapai kesepakatan nyata, yang berpotensi mendukung penurunan harga minyak lebih lanjut.
Sebaliknya, pelaku pasar lainnya memperingatkan bahwa kekalahan telak dalam pemilu justru dapat mendorong pemerintahan Trump mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap Teheran untuk menunjukkan kekuatan. Skenario tersebut menjadi faktor risiko kenaikan harga minyak.
Harga minyak Brent telah melonjak sekitar 70% sepanjang tahun ini akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia. Oleh karena itu, meskipun terjadi aksi jual tajam hari ini, pasar masih memperhitungkan premi risiko geopolitik yang tinggi.
Arah harga minyak selanjutnya akan bergantung pada apakah sinyal potensi negosiasi AS-Iran benar-benar berkembang menjadi kesepakatan konkret.
Namun, penting untuk ditekankan bahwa pemilih Amerika telah memberikan peringatan politik yang jelas kepada Trump dan Partai Republik. Pada akhirnya, masyarakat AS secara umum lebih memprioritaskan persoalan ekonomi domestik dibandingkan kebijakan luar negeri, terutama karena mereka harus membayar harga bahan bakar yang jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun.

Analisis Teknikal Minyak Brent
Harga minyak Brent turun menembus US$100 per barel, kemudian melanjutkan pelemahan hingga ke bawah US$95, sekaligus menembus titik terendah yang terbentuk pada awal Oktober.
Saat ini, harga sedang menguji area support Fibonacci retracement 38,2% dari pergerakan kenaikan terakhir.
Meski tekanan jual meningkat tajam, konfirmasi pembalikan tren yang sesungguhnya baru akan muncul apabila harga minyak Brent turun menembus moving average 200 periode (MA200).
Daily Summary: Dow Jones Meroket 3%, Minyak Anjlok 9%!
US Open: Dow Jones Meroket 2,6%, Saham AI Justru Tertekan
Blue Wave: Demokrat Menang Telak, Saham AI Terancam?
Daily Summary: Nasdaq Rebound 1,1% Jelang Pemilu AS!
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.