Pasar minyak sekali lagi menunjukkan betapa kuat—namun sering kali singkat—dampak komentar Donald Trump terhadap sentimen pasar. Pernyataan Trump kemarin yang menyebut AS berada dalam “tahap akhir negosiasi” dengan Iran dan sedang berbicara dengan pejabat Teheran yang “jauh lebih rasional” langsung membalikkan sentimen pasar. Hal tersebut membawa kelegaan bagi investor dan memicu penurunan tajam harga minyak mentah.
Namun pertanyaan utamanya tetap sama: apakah ini benar-benar kemajuan nyata atau hanya ilusi harapan seperti yang berkali-kali terjadi sebelumnya? Realitas keras tersembunyi di balik retorika politik yang optimistis. Hari ini menandai hari ke-83 perang, dan Selat Hormuz — jalur vital perdagangan global — telah terblokir selama 12 minggu. Meski Iran mengirim sinyal mengenai dimulainya kembali lalu lintas kapal secara perlahan, data independen menunjukkan aktivitas pelayaran di wilayah tersebut nyaris lumpuh total. Hanya beberapa kapal kecil atau kapal yang telah terjebak di wilayah tersebut selama berminggu-minggu yang masih melintas.
Goldman Sachs mencatat bahwa lalu lintas kapal saat ini hanya sekitar 5% dari kondisi normal. Selain itu, pemerintahan AS — termasuk Wakil Presiden Vance — mulai meredam ekspektasi pasar dengan memperingatkan bahwa militer siap melanjutkan serangan. Iran pun merespons dengan ancaman memperluas konflik “melampaui kawasan". Dalam konteks ini, penurunan harga minyak sementara akibat komentar Trump berbenturan dengan proyeksi jangka panjang dari lembaga keuangan dan badan energi global untuk 2026.
Ekspektasi Wall Street: Goldman Sachs dan JPMorgan
Bank-bank investasi besar masih memandang perkembangan politik terbaru dengan tingkat skeptisisme tinggi dan tetap mempertahankan proyeksi harga minyak pada level tinggi akibat krisis pasokan struktural.
-
Goldman Sachs: Pada akhir April, Goldman Sachs merevisi proyeksi Q4 2026 dengan menaikkan estimasi harga Brent menjadi USD 90 per barel dan WTI menjadi USD 83 per barel, dari sebelumnya USD 83 dan USD 78. Analis Goldman juga memundurkan ekspektasi normalisasi lalu lintas Selat Hormuz hingga akhir Juni. Goldman menekankan bahwa hilangnya sekitar 14,5 juta barel per hari kapasitas produksi Timur Tengah telah menyebabkan pengurasan persediaan global pada level rekor.
-
JPMorgan: Dalam laporan Mei, JPMorgan memperkirakan Brent akan rata-rata berada di USD 96 per barel sepanjang 2026, dengan estimasi USD 103 di Q2, USD 104 di Q3, dan turun ke USD 98 di Q4. WTI diperkirakan rata-rata di USD 89. Bank tersebut menyoroti bahwa meskipun pasar memasuki 2026 dengan persediaan tinggi, blokade berkepanjangan telah sepenuhnya mengubah keseimbangan pasar. Mereka memperingatkan bahwa apabila konflik berlarut-larut, dampak utama terhadap ekonomi akan datang dari harga bahan bakar olahan yang sangat mahal dan berujung pada demand destruction.
Pandangan Resmi IEA dan EIA (Mei 2026)
Baik International Energy Agency (IEA) maupun EIA AS dalam laporan terbaru mereka mengonfirmasi bahwa pasar sedang menghadapi shock pasokan historis.
IEA (International Energy Agency):
Dalam laporan Mei, IEA memperkirakan permintaan minyak global 2026 akan turun 420 ribu barel per hari secara tahunan menjadi sekitar 104 juta barel per hari.
Angka tersebut 1,3 juta barel per hari lebih rendah dibanding proyeksi sebelum konflik pecah.
Penyebabnya meliputi harga energi tinggi, melemahnya kondisi makroekonomi, dan program penghematan energi.
Sementara itu, suplai global kembali turun 1,8 juta barel per hari pada April, sehingga total kehilangan suplai sejak Februari mencapai 12,8 juta barel per hari.
IEA memperkirakan pasar akan tetap mengalami defisit dalam hingga kuartal akhir 2026, ketika lalu lintas Selat Hormuz mulai perlahan kembali normal.
EIA (U.S. Energy Information Administration):
Dalam laporan STEO terbaru, EIA secara drastis memperlebar proyeksi defisit minyak global 2026.
Lembaga tersebut kini memperkirakan defisit sebesar 2,56 juta barel per hari untuk keseluruhan tahun, dibanding proyeksi sebelumnya hanya 0,30 juta barel per hari sebulan lalu.
EIA memperkirakan persediaan global akan anjlok tajam pada kuartal kedua hingga 8,5 juta barel per hari, yang akan menjaga harga Brent tetap berada di sekitar USD 106 per barel pada Mei dan Juni.
Namun EIA secara optimistis mengasumsikan proses pembukaan kembali selat akan mulai berlangsung pada Juni, memungkinkan harga Brent turun menuju rata-rata USD 89 pada Q4 2026 dan USD 79 pada 2027.
Kesimpulan
Meskipun komentar Donald Trump mengenai “negosiasi tahap akhir” memberikan efek menenangkan sementara terhadap pasar, data fundamental dari Goldman Sachs, JPMorgan, IEA, dan EIA menunjukkan gambaran yang jauh lebih keras. Pasar minyak pada 2026 berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama Selat Hormuz belum benar-benar dibuka secara aman dan penuh untuk lalu lintas massal, setiap penurunan harga akibat headline politik kemungkinan besar hanya bersifat teknikal dan sementara.
Market Wrap: Nvidia Kerek Wall Street, Pasar Fokus AI dan Suku Bunga
URGENT: Risalah The Fed Perkuat Risiko Kenaikan Suku Bunga
Daily Summary: Minyak Anjlok, Pasar Fokus ke Earnings Nvidia
Market Wrap: Pasar Masih Skeptis terhadap Trump dan Iran
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.