Dalam beberapa bulan terakhir, pemberitaan didominasi oleh laporan suram dan berturut-turut dari pasar tenaga kerja, terutama bagi individu yang baru memulai karier dan/atau mereka yang bekerja di sektor IT. Diperkirakan bahwa sepanjang 2025 saja, sekitar 250.000 orang di Amerika Serikat kehilangan pekerjaan sebagai bagian dari upaya optimalisasi biaya tenaga kerja. Di tengah kondisi tersebut, pengumuman IBM tampil mencolok.
Meski telah berdiri lebih dari 120 tahun, perusahaan ini tetap menjadi pemain signifikan di pasar. IBM pada dasarnya berperan dalam membentuk industri IT, dan jika menelusuri sejarah hampir setiap solusi yang digunakan saat ini dalam komputasi dan pemrosesan data, nama IBM hampir pasti akan muncul.
Strategi IBM selama ini dikenal pragmatis, metodis, dan berorientasi pada hasil. Pendekatan pragmatis tersebut kini juga diterapkan dalam pengembangan AI. Sebagian pihak mengkritik IBM karena dinilai konservatif, sementara yang lain memuji kehati-hatian perusahaan. Sikap hati-hati tersebut tercermin dalam pengumuman terbaru terkait kebijakan rekrutmen.
Berbicara secara terbuka mengenai kebijakan rekrutmen di industri dalam sebuah konferensi di New York, Chief HR Officer IBM, Nickle LaMoureux, menyatakan: “Ya, itu adalah semua peran yang sebelumnya dikatakan akan digantikan oleh AI.”
Perwakilan perusahaan menegaskan bahwa permintaan terhadap peran entry-level tidak menghilang; yang berubah adalah sifat pekerjaannya.
IBM bergerak melawan arus. Perekrutan diperkirakan akan meningkat “secara menyeluruh,” meskipun perwakilan perusahaan tidak memberikan angka spesifik. Yang penting, kebijakan ini bukan kelanjutan dari tren sebelumnya, melainkan pembalikan arah.
Menurut data Makrotrends, perusahaan telah mengurangi jumlah karyawan selama beberapa tahun terakhir, dan tahun “positif” terakhir tercatat pada 2019. Pada 2023 saja, IBM dilaporkan memangkas lebih dari 10% tenaga kerjanya, dan memasuki 2026 dengan jumlah karyawan sekitar 290.000 orang.
Dari konteks pernyataan perwakilan perusahaan, dapat diasumsikan bahwa pengambil keputusan mungkin terlalu optimistis dalam upaya implementasi AI ke dalam proses internal, dan berbagai tantangan yang muncul kini ingin diatasi melalui peningkatan perekrutan.
Perusahaan ini telah bertahan melewati dua perang dunia dan sejumlah krisis ekonomi besar. Sebaliknya, sebagian besar pesaing IBM kemungkinan akan kesulitan menghadapi bahkan beberapa kuartal dengan suku bunga tinggi.
IBM.US (D1)
Saham perusahaan mengalami aksi jual tajam meskipun sebelumnya sempat bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa. Struktur EMA masih menunjukkan tren bullish, namun kembalinya harga di atas level FIBO 61,8 menjadi kunci untuk memulihkan minat beli. Sumber: xStation5
Materi pemasaran ini bukan merupakan rekomendasi investasi atau saran strategi investasi. Informasi ini tidak menjamin kinerja atau hasil investasi di masa mendatang. Aktivitas trading melibatkan risiko kerugian finansial yang signifikan, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian maupun seluruh modal yang diinvestasikan. Segala keputusan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu.
The Fed Isyaratkan Rate Cut 2026
US OPEN: Pasar Cari Arah Usai Data Inflasi
US Open: Payrolls Kuat, Rate Cut Tertunda?
US OPEN: Pasar Tertekan Musim Laba Teknologi Lesu