Baca selengkapnya
16.27 · 15 Oktober 2025

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Global, Didorong Lonjakan Investasi AI 🔎

Inti pembahasan
Inti pembahasan
  • IMF proyeksikan pertumbuhan global 3.2% di 2025 dan 3.1% di 2026, inflasi masih tinggi.
  • Perang dagang AS–Tiongkok dapat memangkas PDB global hingga 0.3 pp jika eskalasi berlanjut.
  • Outlook ekonomi Mesir, Nigeria, dan Afrika Sub-Sahara direvisi naik, sementara Inggris masih bergulat dengan inflasi.

Pierre-Olivier Gourinchas, Direktur Departemen Riset IMF, bersama Petya Koeva Brooks (Wakil Direktur) dan Deniz Igan (Kepala Divisi), mempresentasikan laporan World Economic Outlook terbaru.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan PDB global sebesar 3.2% pada 2025 dan 3.1% pada 2026, dengan catatan bahwa proses disinflasi melambat dan tekanan harga tetap lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Gourinchas memperingatkan bahwa guncangan tarif AS masih menjadi faktor penekan pasokan, mendorong inflasi lebih tinggi dan menekan laju pertumbuhan. Namun, dampak keseluruhan perang dagang terbukti lebih kecil dari yang dikhawatirkan berkat minimnya aksi balasan dan rantai pasok yang tetap tangguh.

Ketegangan dagang tetap menjadi risiko utama bagi prospek ekonomi global. Dalam skenario negatif IMF, eskalasi lanjutan dapat memangkas output global sekitar 0.3 poin persentase. Gourinchas juga menyoroti fragmentasi geopolitik dan lonjakan investasi AI sebagai dua dinamika utama yang membentuk ekonomi dunia. Selain itu, pelemahan dolar AS membantu meredakan tekanan inflasi impor di banyak negara berkembang.

Regional outlook

  • Brooks menyampaikan bahwa proyeksi pertumbuhan Mesir direvisi naik menjadi 4.3% di 2025 dan 4.5% di 2026, seiring penurunan inflasi tajam dari level tertinggi dalam 40 bulan.

  • Igan menambahkan bahwa outlook Nigeria meningkat menjadi 3.9% di 2025 dan 4.2% di 2026, didukung sentimen positif, peningkatan produksi komoditas, serta dampak terbatas dari perang tarif.

  • Wilayah Afrika Sub-Sahara juga direvisi naik ke 4.1% di 2025 dan 4.4% di 2026, didorong oleh stabilisasi ekonomi dan momentum reformasi.

  • Sementara itu, Inggris menjadi sorotan di antara negara G7 dengan proyeksi pertumbuhan 1.3% pada 2025 dan 2026, namun inflasi masih tinggi di 3.4% untuk 2025, dengan tren menuju 2.5%. Hal ini mendukung pendekatan kehati-hatian Bank of England dalam pelonggaran kebijakan.

  • Untuk Tiongkok, IMF menekankan semakin besarnya peran permintaan domestik dalam menyeimbangkan pelemahan ekspor, meski tetap mewaspadai tekanan dari sektor properti dan ketidakseimbangan eksternal yang meningkat.

2 Februari 2026, 19.17

Shutdown Pemerintah AS Terulang: Apa Dampaknya Kali Ini?

21 Januari 2026, 22.45

US OPEN: Pergeseran Sikap Trump Dongkrak Sentimen Wall Street

21 Januari 2026, 01.54

Daily Summary: “Sell America” Dorong Aset AS Terjun Bebas (20.01.2026)

20 Januari 2026, 22.21

Bank mengkhawatirkan Trump📉Perencanaan Terpusat di AS?

Bergabunglah dengan lebih dari 2.000.000 investor XTB dari seluruh dunia
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.