15.01 · 7 September 2026

Jepang Bisa Jadi Masalah Baru untuk US Treasury

Kenapa Jepang Bisa Jadi Masalah Baru Buat US Treasury?

Yield obligasi Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 1996. Dana investor Jepang kini memiliki alasan yang semakin kuat untuk kembali ke pasar domestik, sementara pasar obligasi AS yang selama ini bergantung pada pembeli asing mulai menghadapi realitas baru.

Selama puluhan tahun, investor Jepang menjadi salah satu pembeli paling konsisten surat utang Amerika Serikat. Dengan yield domestik yang mendekati nol, mereka menempatkan triliunan dolar di US Treasury karena alternatif di pasar Jepang sangat terbatas.

Namun, dinamika tersebut sedang berubah secara fundamental. Yield obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds (JGB) kini melonjak ke level yang belum terlihat sejak era 1990-an. Untuk pertama kalinya dalam satu generasi, investor Jepang memiliki alasan kuat untuk tidak lagi mengalokasikan dana sebesar sebelumnya ke utang AS.

Yield JGB Melonjak, Insentif Berubah Total

Pada 1 September 2026, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3% untuk pertama kalinya sejak 1996. Angka tersebut merupakan perubahan besar. Setahun sebelumnya, yield JGB tenor yang sama masih berada di bawah 1%.

Kenaikan tersebut didorong oleh Bank of Japan yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% pada Juni 2026, level tertinggi sejak 1995, sekaligus memberikan sinyal bahwa kenaikan berikutnya masih mungkin terjadi. Dampaknya langsung terasa pada investor institusional Jepang.

Perusahaan asuransi jiwa dan dana pensiun, yang selama ini menjadi pembeli rutin US Treasury karena yield domestik terlalu rendah, kini melihat JGB sebagai alternatif yang jauh lebih kompetitif. Nippon Life dan Dai-ichi Life mulai merotasi sebagian portofolio mereka kembali ke obligasi domestik. Ini bukan aksi panik, melainkan perubahan struktural yang didorong oleh perhitungan sederhana.

Jika obligasi Jepang sudah memberikan return yang cukup menarik, alasan untuk mengambil risiko mata uang dengan membeli Treasury AS menjadi semakin lemah. Spread antara yield US Treasury tenor 10 tahun dan JGB tenor 10 tahun, yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor Jepang, kini menyempit menjadi sekitar 178 basis poin. Setahun sebelumnya, spread tersebut masih berada di atas 250 basis poin. Semakin sempit selisih yield tersebut, semakin kecil insentif bagi investor Jepang untuk mempertahankan eksposur besar terhadap aset berbasis dolar.

Perbandingan Yield 10 Tahun: AS vs Jepang. Yield per akhir bulan, September 2026 per 4 September. Spread dalam basis poin. Sumber: TradingView, Bloomberg.

Yen Lemah, Cadangan Dolar Tergerus

Masalahnya tidak berhenti pada yield. Pelemahan yen membuka tekanan kedua bagi pasar US Treasury.

Pada akhir Juli 2026, dolar AS sempat menyentuh sekitar 164 yen, membawa yen ke level terlemahnya dalam sekitar 40 tahun. Pemerintah Jepang dan AS kemudian melakukan intervensi bersama pada 31 Juli untuk menahan pelemahan lebih lanjut, mendorong USDJPY turun kembali ke kisaran 156.

Hal yang jarang diperhatikan adalah sumber dana yang digunakan untuk melakukan intervensi tersebut. Kementerian Keuangan Jepang menghabiskan rekor 11,73 triliun yen, atau sekitar US$72,7 miliar, untuk intervensi selama April hingga Mei 2026 saja. Untuk memperoleh dolar yang dibutuhkan, Jepang harus menggunakan aset dolar dari cadangan devisanya.

Sebagian besar cadangan tersebut ditempatkan dalam instrumen berbasis dolar, termasuk US Treasury jangka pendek. Artinya, setiap kali Tokyo melakukan intervensi besar untuk menopang yen, secara tidak langsung terdapat potensi tekanan jual tambahan terhadap obligasi AS. Situasi ini dapat menciptakan siklus yang sulit dihentikan.

Yen yang lemah meningkatkan kebutuhan intervensi. Intervensi mengurangi cadangan aset dolar. Penurunan kepemilikan Treasury kemudian dapat menambah tekanan terhadap pasar obligasi AS. Di sisi lain, kenaikan yield AS justru dapat kembali memperlebar perbedaan suku bunga dan menekan yen.

Pasar Obligasi AS Kehilangan Pembeli di Saat Paling Dibutuhkan

Data terbaru menunjukkan bahwa tren tersebut bukan hanya teori. Kepemilikan Jepang atas US Treasury turun US$26,4 miliar pada Juni 2026 menjadi sekitar US$1,1167 triliun. Penurunan tersebut terjadi setelah kepemilikan turun US$66,7 miliar pada Mei, yang menjadi kontraksi terbesar sejak September 2022. Secara keseluruhan, kepemilikan asing terhadap Treasury turun sekitar US$72,1 miliar pada Juni, dengan Jepang dan China menjadi kontributor utama penurunan.

Konteksnya sangat penting. Utang publik AS kini mencapai sekitar US$40,1 triliun. Pemerintah federal harus terus menerbitkan obligasi baru untuk membiayai defisit sekaligus melakukan refinancing terhadap utang yang jatuh tempo. Ketika pembeli asing utama mulai mengurangi alokasinya, beban penyerapan obligasi baru semakin bergeser ke investor domestik. Masalahnya, investor domestik biasanya lebih sensitif terhadap harga dan yield. Artinya, pemerintah AS kemungkinan harus menawarkan yield lebih tinggi untuk menarik permintaan.

Konsekuensinya adalah kenaikan biaya bunga utang pemerintah. Yield US Treasury tenor 10 tahun telah mencapai sekitar 4,81% pada awal September, level tertinggi sejak Oktober 2023. Yield tenor 30 tahun bahkan menembus 5,25%. Pergerakan tersebut bukan hanya persoalan pasar obligasi.

Yield Treasury yang lebih tinggi secara langsung dapat mendorong naik suku bunga hipotek, biaya pinjaman korporasi, dan tingkat diskonto yang digunakan dalam valuasi saham. Bagi saham growth dan teknologi, kondisi ini sangat penting karena valuasi mereka cenderung lebih sensitif terhadap perubahan yield jangka panjang. Seluruh struktur finansial AS selama ini beroperasi dengan asumsi bahwa akan selalu ada cukup pembeli untuk menyerap penerbitan utang pemerintah. Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu fondasi utama dari asumsi tersebut.

​​​​​​​

Kepemilikan US Treasury oleh Jepang pada 2026. Penurunan kumulatif Januari–Juni 2026: US$108,6 miliar. Sumber: US Department of the Treasury, XTB Research Indonesia.

Pertanyaannya bukan apakah Jepang akan melakukan aksi jual besar-besaran terhadap US Treasury. Skenario tersebut tidak realistis karena akan merugikan Jepang sendiri melalui penurunan nilai portofolio dan potensi gejolak pasar.

Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar penurunan permintaan dari Jepang dapat menambah tekanan pada pasar obligasi AS yang sudah menghadapi kebutuhan penerbitan besar.

Dengan yield JGB di sekitar 3%, Bank of Japan yang masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga, serta yen yang belum sepenuhnya stabil, tekanan terhadap permintaan US Treasury dari Jepang kemungkinan belum selesai.

7 September 2026, 13.11

Market Wrap: NFP Kuat, Chip Asia Naik dan Minyak Dekati US$100

5 September 2026, 10.10

Daily Summary: NFP Kuat Tekan Pasar, Risiko Suku Bunga Naik

4 September 2026, 20.55

US OPEN: Wall Street Tertekan Usai NFP Kuat, Nasdaq Masih Bertahan

4 September 2026, 20.29

Emas Koreksi Usai NFP AS Menguat Drastis

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.