01.27 · 29 September 2026

Daily summary: Yield AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2007

Kita memulai pekan perdagangan dengan pola yang sudah familiar bagi pasar: belum adanya terobosan dalam negosiasi AS-Iran mendorong harga minyak mentah naik. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran inflasi, meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut, dan mendorong yield US Treasury lebih tinggi.

Yield obligasi AS hari ini mencapai level tertinggi sejak 2007, sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar saham dan harga emas.

Pasar Obligasi

Yield US Treasury tenor 10 tahun naik beberapa basis poin hari ini dan sempat menyentuh 5,28%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, yield tenor 30 tahun naik menjadi 5,58%, level tertinggi sejak 2004.

Saat ini, seluruh US Treasury dengan jatuh tempo lebih dari dua tahun diperdagangkan dengan yield di atas 5%.

Gambar 1: Yield US Treasury dan Federal Funds Rate (2026)

Sumber: XTB Research, 28.09.2026

Tren real yield, yaitu yield yang telah disesuaikan dengan ekspektasi inflasi, juga perlu diperhatikan. Real yield obligasi 10 tahun naik menjadi 2,9% hari ini.

Sejak awal tahun, kenaikannya mencapai hampir 100 basis poin, dengan hampir setengah dari pergerakan tersebut terjadi hanya sepanjang September.

Komoditas Energi

Harapan terhadap tercapainya kesepakatan dengan cepat, yang sempat menopang pasar pada pekan lalu, mulai memudar secara signifikan hari ini.

Kedua pihak tampaknya masih berjauhan baik dalam isu gencatan senjata maupun pembukaan kembali jalur pelayaran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu dengan para mediator di New York hari ini tanpa kehadiran perwakilan AS.

Teheran tetap mempertahankan proposal mengenai pembukaan Selat Hormuz yang ditolak Donald Trump pekan lalu. Sementara itu, Trump dilaporkan siap menawarkan pelonggaran sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas "kemajuan konkret" dalam isu nuklir.

Pada level tertingginya hari ini, harga minyak Brent sempat mencapai sekitar US$101 per barel. Saat ini, harga bergerak di sekitar US$98.

Gambar 2: Harga Minyak Brent dan WTI (2026)

Sumber: XTB Research, 28.09.2026

Penurunan harga pada malam hari didukung oleh perkembangan positif dari sisi pasokan.

Arab Saudi kembali mengekspor minyak melalui pipa East-West setelah menyelesaikan perbaikan kerusakan akibat serangan drone pada 10 September.

Arus melalui jalur tersebut saat ini mencapai sekitar 3,5 juta barel per hari dari total kapasitas sekitar 7 juta barel per hari. Dalam kondisi normal, sekitar 5 juta barel dialokasikan untuk ekspor dan 2 juta barel digunakan untuk memasok kilang domestik.

Pemulihan kapasitas penuh diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar enam minggu.

Dengan tetap memanfaatkan jalur melalui Hormuz, total ekspor minyak Arab Saudi pada September mencapai rekor tertinggi selama periode perang, yakni lebih dari 5 juta barel per hari, dengan sebagian besar dikirim ke Asia.

Namun, pesisir barat Arab Saudi masih menghadapi ancaman serangan Houthi. Kelompok tersebut meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi sepanjang bulan ini, termasuk menargetkan pelabuhan Yanbu yang menjadi titik akhir pipa East-West.

Pasar Saham

Indeks saham AS bergerak melemah hari ini. Nasdaq 100 turun 0,8%, sementara S&P 500 dan Dow Jones masing-masing kehilangan sekitar 0,5%.

Gambar 3: Saham dengan Kenaikan dan Penurunan Terbesar di Nasdaq 100 (28.09.2026)

Sumber: XTB Research, 28.09.2026

Logam Mulia

Harga emas melanjutkan aksi jual yang dimulai sejak paruh kedua Agustus dan turun ke bawah US$4.140 per troy ounce, atau melemah 3,6%.

Jika dihitung dari puncak lokal pada Agustus, penurunan harga emas kini telah mencapai lebih dari 10%.

Perak mengalami tekanan yang lebih besar, turun sekitar 5% ke kisaran US$61 per ons.

Gambar 4: Harga Emas (2026)

Sumber: XTB Research, 28.09.2026

The opportunity cost of investing in non-yielding precious metals increases daily, diminishing their appeal even amidst a highly volatile geopolitical environment. Pressure is further compounded by profit-taking from Chinese investors ahead of Golden Week, a traditional holiday period representing one of China's primary annual vacation weeks (1–7 October).

Monetary Policy

Opportunity cost untuk berinvestasi pada logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil terus meningkat, sehingga mengurangi daya tariknya meskipun kondisi geopolitik masih sangat volatil.

Tekanan juga diperbesar oleh aksi profit-taking dari investor China menjelang Golden Week, periode liburan tradisional pada 1–7 Oktober yang menjadi salah satu pekan liburan tahunan utama di China.

Kebijakan Moneter

Kenaikan yield jangka panjang didorong oleh kombinasi kekhawatiran terhadap utang pemerintah, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, serta ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, sebagaimana disampaikan Presiden Cleveland Fed Beth Hammack pada Jumat.

Pada akhir pekan, Scott Bessent meminta para pembuat kebijakan untuk tetap memiliki "pikiran terbuka" mengenai arah suku bunga.

Sedikit lebih dari sepekan lalu, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 guna menghadapi inflasi yang masih bertahan dan memberi sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan.

Pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 70% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.

Investor kini menunggu rilis data inflasi PCE AS untuk Agustus pada Rabu. Data tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang meningkat di AS dan memicu koreksi di pasar obligasi.

29 September 2026, 00.49

Harga Emas Turun 4% Saat Yield AS Naik

28 September 2026, 23.24

US Open: Yield AS Tembus 5,28% dan Minyak Dekati US$100

28 September 2026, 14.06

Harga Minyak: Ekspor Pulih, Kenapa Brent Masih Dekat US$100?

25 September 2026, 14.40

Bottleneck AI Bergeser dari Chip ke Listrik

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.