Pekan Ini: Pasar Global Tetap Tenang Meski Ketegangan AS-Iran Meningkat
Saat kita memasuki awal pekan, fokus utama tertuju pada Iran. Serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran selama akhir pekan telah meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, pasar menunjukkan reaksi yang relatif tenang pada hari Senin. Harga minyak hanya naik 1%, indeks saham Hang Seng mencatat kenaikan tipis, sementara futures saham Eropa dan AS menunjukkan pelemahan kecil sebelum pembukaan pasar.
Mengapa Reaksi Pasar Cenderung Tenang?
-
Iran Belum Membalas: Hingga kini, belum ada aksi balasan langsung dari Iran. Ini mengindikasikan tidak adanya eskalasi mendadak.
-
AS Fokus Target Militer: Pemerintah AS menekankan bahwa serangan hanya ditujukan pada fasilitas nuklir, bukan warga sipil. Hal ini membuka kemungkinan Iran akan merespons dengan cara serupa, seperti ketika pada 2020 mereka hanya menyerang pangkalan militer AS di Irak setelah jenderal mereka tewas.
Tidak ada indikasi perang langsung antara Iran dan AS dalam waktu dekat, sehingga volatilitas pasar masih terkendali.
Respons Pemerintah AS untuk Menenangkan Pasar
Pemerintah AS menyampaikan bahwa serangan ini bersifat terbatas dan tidak berlanjut. Harga minyak Brent pun kembali turun ke $78 per barel setelah sempat menyentuh $80. Volatilitas harian masih ada, namun pasokan global yang stabil menahan lonjakan harga.
Harga emas turun $10 per ons, sementara Bitcoin kembali naik di atas $101.000, naik lebih dari $2.000 dibanding akhir pekan. Pasar saham di Teluk seperti Arab Saudi, UEA, dan Yordania juga relatif stabil, mencerminkan ketenangan regional. Bahkan pasar Israel justru menguat.
Namun, tahun 2025 penuh kejutan. Serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran adalah eskalasi besar yang meningkatkan risiko geopolitik jelang paruh kedua tahun ini.
Apa Yang Mungkin Terjadi Selanjutnya? Fokus ke Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur laut penting yang dilalui 20% pasokan minyak dunia, menjadi titik krusial. Jika Iran menutup selat ini atau menyerang kapal dagang, harga energi bisa melonjak drastis dan sentimen risiko global memburuk.
Untuk saat ini, pengiriman di Selat Hormuz masih berjalan normal. Menlu AS bahkan meminta China—yang mengimpor 45% minyak dari Iran—untuk menekan Teheran agar tidak menutup selat. Ini jadi alasan mengapa reaksi pasar masih tenang.
Sinyal Positif untuk Perusahaan Pengiriman Barang
Penutupan selat akan merugikan ekonomi Iran sendiri. Ini bisa mencegah aksi ekstrem dari Teheran. Perusahaan pengiriman seperti Maersk mungkin bisa bernapas lega minggu ini. Meski sahamnya sudah turun 7% bulan lalu akibat “war premium”, tekanan jual mungkin mulai mereda.
Dolar AS Tetap Jadi Safe Haven
Pasar valuta asing menunjukkan bahwa dolar AS adalah pilihan utama saat ketegangan meningkat. Dolar menguat terhadap mata uang komoditas dan yen Jepang. Yen melemah karena Jepang pengimpor minyak dan sangat terpapar konflik Timur Tengah.
Poundsterling dan euro juga tertekan terhadap dolar, sebagian karena potensi Inggris dan Eropa harus mendukung AS jika situasi memburuk.
Namun jika Iran tidak membalas secara agresif, pasar bisa kembali stabil. Tapi risiko geopolitik tetap tinggi dan bisa memicu perubahan pasar secara tiba-tiba.
Tiga Risiko Utama Global: Konflik, Tarif, dan Harga Energi
Selain ketegangan AS-Iran, dunia juga menghadapi risiko tarif perdagangan AS dan fluktuasi harga energi. Bank sentral global tetap bergantung pada data ekonomi. Berikut dua fokus utama minggu ini:
1. Laporan PMI Global Juni
Laporan PMI awal untuk bulan Juni akan dirilis hari ini dan memberikan gambaran kondisi ekonomi global:
-
Zona Euro: PMI komposit diperkirakan naik ke 50,5 dari 50,2. Ini menunjukkan pertumbuhan stabil seperti Q1. Fokus tertuju pada pesanan ekspor dan dampak tarif AS.
-
Inggris: PMI sektor jasa diprediksi naik ke 51,3 dari 50,9. Meski PDB Mei buruk, PMI bisa memberi harapan. Perjanjian dagang UK-AS mungkin juga dorong ekspor.
-
AS: PMI komposit diperkirakan turun ke 52,0 dari 53,0. Fokus pada data impor — apakah terjadi penurunan setelah lonjakan untuk menghindari tarif?
Namun, pasar kemungkinan tidak terlalu merespon data PMI, karena sentimen masih digerakkan oleh berita geopolitik.
2. KTT NATO & Data PCE AS
-
KTT NATO (Selasa): Fokus pada apakah Trump hadir atau tidak, serta komentar soal strategi AS terhadap Iran. Ini bisa menjadi pemicu besar untuk pasar.
-
Data PCE AS (Jumat): Indikator inflasi favorit The Fed ini diperkirakan naik tipis. Core PCE tahunan naik ke 2,6% dari 2,5%. Jika data tetap stabil, peluang pemangkasan suku bunga Juli tetap terbuka — kabar baik untuk aset berisiko.
Kesimpulan
Pasar global masih tenang meski konflik AS-Iran meningkat. Namun, Selat Hormuz dan balasan Iran tetap jadi kunci. Data PMI dan pernyataan Trump di KTT NATO bisa memicu pergerakan selanjutnya. Investor perlu waspada, karena pasar bisa berubah drastis dalam hitungan jam.
Morning Wrap (02.03.2026)
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉