13.21 · 30 Oktober 2026

Market Wrap: Nasdaq Anjlok, Saham Amazon dan Intel Terpukul!

Pasar Saham dan Ekuitas

  • Perdagangan Wall Street kemarin berakhir di zona merah, meskipun pelemahan indeks sedikit berkurang menjelang penutupan. Dow Jones turun lebih dari 0,2%, S&P 500 melemah 0,3%, sementara indeks teknologi Nasdaq anjlok hampir 1,4%.
  • Pemicu utama aksi jual saham adalah laporan keuangan yang mengecewakan dari sejumlah perusahaan teknologi besar, disertai meningkatnya kekhawatiran investor terhadap profitabilitas investasi besar-besaran dalam teknologi kecerdasan buatan (AI).
  • Setelah penutupan perdagangan reguler, Amazon merilis laporan keuangan kuartalannya. Meskipun mencatat kinerja operasional yang kuat, hasil tersebut gagal mempertahankan optimisme investor sehingga saham Amazon (AMZN) anjlok hingga 7% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours trading).
  • Pendapatan Amazon meningkat 12% secara tahunan (YoY), dengan divisi komputasi awan Amazon Web Services (AWS) mencatat pertumbuhan impresif sebesar 39,3%. Namun, secara keseluruhan, hasil keuangan perusahaan sedikit berada di bawah estimasi konsensus analis.
  • Kekhawatiran terbesar investor berasal dari besarnya rencana belanja modal AI (AI CapEx). Amazon berencana mengalokasikan sekitar US$220 miliar pada 2026, sementara perusahaan saat ini mencatat arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) negatif sebesar US$42,4 miliar.
  • Intel mengalami tekanan besar. Meskipun laporan keuangan kuartal ketiganya melampaui ekspektasi analis, saham Intel (INTC) anjlok sekitar 20–23% dalam perdagangan di luar jam bursa.
  • Faktor utama yang menekan saham Intel adalah panduan pendapatan kuartal berikutnya yang lebih lemah dari perkiraan. Perusahaan memproyeksikan pendapatan sebesar US$15–16 miliar, jauh di bawah konsensus pasar sekitar US$17 miliar, terutama akibat lemahnya permintaan komputer pribadi (PC) dan meningkatnya harga memori.
  • Selain itu, Intel masih menghadapi keterbatasan kapasitas produksi, yang menghambat kemampuan perusahaan untuk memenuhi lonjakan permintaan prosesor server.
  • Pasar saham Asia mengalami penurunan tajam sebagai respons terhadap laporan keuangan perusahaan teknologi AS yang mengecewakan dan meningkatnya keraguan terhadap tingkat pengembalian investasi AI (AI return on investment). Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 4%, sementara Nikkei Jepang turun lebih dari 2%.
  • Perusahaan teknologi dan produsen semikonduktor menjadi kelompok yang paling terdampak, terutama Samsung dan SK Hynix. Investor semakin khawatir bahwa belanja modal besar yang dilakukan Amazon, Intel, dan Alphabet untuk membangun infrastruktur AI tidak akan menghasilkan laba dan arus kas sesuai ekspektasi.

Makroekonomi dan Kebijakan Moneter

  • Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan di level 1,25%. Keputusan ini berpotensi mengejutkan sebagian pelaku pasar, mengingat bank sentral Jepang telah mengakui bahwa inflasi domestik mencapai target 2%.
  • BoJ memilih pendekatan menunggu dan mengamati (wait-and-see) untuk mengevaluasi bagaimana kenaikan suku bunga sebelumnya memengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan dan belanja konsumen.
  • Pada saat yang sama, Bank of Japan menaikkan proyeksi inflasi 2027 dari 2,4% menjadi 2,6%, mengindikasikan bahwa tekanan harga berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan perkiraan awal.
  • Sejumlah anggota dewan BoJ mendukung kenaikan suku bunga segera ke 1,5%, sementara pasar secara luas mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan pada Desember. Skenario tersebut berpotensi memperkuat yen Jepang (JPY) sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar saham domestik.
  • Menegaskan bahwa tekanan inflasi masih bertahan, data terbaru menunjukkan inflasi konsumen Tokyo (CPI) Oktober mencapai 2,8% YoY, melampaui ekspektasi 2,7% dan angka bulan sebelumnya sebesar 2,7%. Sementara itu, inflasi inti Tokyo (core CPI), yang mengecualikan makanan segar, tercatat 2,6% YoY, sesuai dengan perkiraan pasar.

Geopolitik

  • Donald Trump kembali menegaskan bahwa perang dengan Iran akan berakhir "sangat cepat". Ia mengindikasikan bahwa Washington dapat menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik maupun militer, sembari menekankan bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami pelemahan signifikan.
  • Meskipun berakhirnya konflik diperkirakan dapat memicu penurunan tajam harga minyak mentah dan bahan bakar, pelaku pasar tetap berhati-hati karena belum ada kesepakatan perdamaian yang konkret dan proses negosiasi masih menghadapi berbagai hambatan.
  • Risiko geopolitik tetap tinggi karena pemerintahan AS dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS (midterm elections) yang dijadwalkan pada 3 November.
  • Teheran semakin mempertegas posisi negosiasinya. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa setiap kemajuan diplomatik bergantung pada kesediaan AS menerima kerangka kesepakatan tujuh poin.
  • Tuntutan utama Iran mencakup penghentian segera seluruh permusuhan di semua wilayah konflik, pencairan sekitar US$12 miliar aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi ekonomi, penghentian blokade maritim AS, penarikan pasukan AS dari kawasan, pembayaran reparasi perang, serta jaminan tidak adanya campur tangan terhadap urusan dalam negeri Iran pada masa mendatang.

Komoditas dan Logam Mulia

  • Pasar minyak mentah menunjukkan ketahanan relatif dibandingkan kelas aset lainnya. Kontrak berjangka minyak Brent bulan terdekat diperdagangkan di sekitar US$112 per barel, sementara harga minyak WTI berada di kisaran US$103 per barel.
  • Sentimen bearish mendominasi pasar logam mulia. Harga emas turun ke bawah US$4.000 per troy ounce, sementara harga perak melemah hampir 2% hingga diperdagangkan di bawah US$51 per troy ounce.

Mata Uang Kripto

  • Pasar aset digital kembali menghadapi tekanan jual setelah terjadinya pelanggaran keamanan besar di Binance, dengan estimasi nilai aset yang dicuri mencapai sekitar US$5,9 miliar, atau hampir empat kali lipat dibandingkan nilai kerugian dalam insiden peretasan Bybit.
  • Sebagai respons, Binance untuk sementara menghentikan layanan deposit dan penarikan dana, sembari meyakinkan pelaku pasar bahwa seluruh kerugian pengguna akan ditanggung sepenuhnya menggunakan cadangan perusahaan dan dana darurat Secure Asset Fund for Users (SAFU).
30 Oktober 2026, 16.27

Intel Anjlok 20% Meski Laba Lampaui Ekspektasi!

30 Oktober 2026, 15.25

AI Berguguran, Google Korban Pertama?

30 Oktober 2026, 14.58

Ekspor LNG Rekor, Harga NGAS di Bawah US$3! Bisa Rebound?

30 Oktober 2026, 13.52

Saham Caterpillar Melonjak? Data Center AI Jadi Mesin Baru!

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.