Sesi perdagangan Kamis kembali membawa kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya kekhawatiran bukan hanya terkait prospek perdamaian antara AS dan Iran, tetapi juga mengenai daya tahan gencatan senjata yang ada saat ini.
Gelombang laporan terbaru justru memunculkan lebih banyak alasan untuk khawatir dibanding memberikan jawaban yang menenangkan pasar.
Iran dilaporkan secara tegas menolak tuntutan untuk menyerahkan material fisil dan tetap mempertahankan posisinya terkait pengakuan atas kontrol terhadap Selat Hormuz, termasuk hak untuk memungut biaya.
Kepala IEA Fatih Birol memperingatkan bahwa pasar energi dapat memasuki “red zone” pada Juli atau Agustus apabila situasi di Timur Tengah tidak membaik.
Masalah utamanya adalah benturan antara puncak musiman permintaan bahan bakar dengan terbatasnya ekspor dari kawasan tersebut dan terus menurunnya persediaan global.
OPEC+ mencoba meredakan ketegangan.
Kelompok tersebut berencana menaikkan target produksi Juli sekitar 188 ribu barel per hari.
Dalam kondisi normal, langkah ini akan dianggap sebagai sinyal stabilisasi pasar.
Namun dalam situasi saat ini, peningkatan tersebut lebih terlihat sebagai gestur simbolis dibanding tekanan nyata terhadap penurunan harga minyak.
Situasi juga diperburuk oleh laporan dari Rusia, di mana selain meningkatnya pertanyaan terkait arah kebijakan rezim setelah berbagai kemunduran di garis depan, gelombang baru serangan terhadap infrastruktur kembali terjadi.
Kali ini, drone Ukraina menghantam fasilitas di sepanjang Sungai Volga, termasuk kilang minyak di Syzran.
Ekspektasi kenaikan harga minyak kini tidak lagi terbatas pada investor ritel atau sentimen pasar umum.
UBS menaikkan proyeksi harga Brent September menjadi USD 105 per barel dan WTI menjadi USD 97 per barel.
Bank tersebut menilai risiko jangka pendek masih sangat condong ke arah upside.
Dalam skenario ekstrem, UBS bahkan memperkirakan Brent berpotensi melampaui USD 150 per barel.
Yang penting diperhatikan, perusahaan-perusahaan minyak AS saat ini belum menunjukkan sinyal peningkatan produksi secara agresif, meskipun ketatnya pasokan dan premi geopolitik minyak terus meningkat.
Prioritas utama perusahaan tetap pada arus kas, dividen, buyback saham, dan menjaga profitabilitas — bukan memaksimalkan volume produksi.
Apabila gangguan logistik maupun geopolitik terus mempertahankan premi harga minyak mentah, beberapa kuartal mendatang dapat membawa peningkatan profitabilitas yang signifikan bagi sektor energi.
OIL
Pada grafik harga minyak terlihat perubahan menuju tren naik yang semakin curam meskipun masih terjadi pullback lokal. Sumber: xStation
Daily summary: Wall Street Naik Tipis di Tengah Harapan Damai Iran
Harga Minyak Turun, Tapi Krisis Hormuz Belum Berakhir
Market Wrap: Nvidia Kerek Wall Street, Pasar Fokus AI dan Suku Bunga
URGENT: Risalah The Fed Perkuat Risiko Kenaikan Suku Bunga
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.