Baca selengkapnya
00.01 · 30 April 2026

Minyak Tembus $110, Risiko Perang Iran Makin Memanas 🔥

Eskalasi besar dalam “Perang Dingin” di Timur Tengah saat ini sedang berlangsung. Seperti dilaporkan oleh Axios dan stasiun Israel N12, Presiden Donald Trump secara resmi menolak proposal Iran untuk membuka Selat Hormuz, dan memilih strategi “tekanan maksimum” serta persiapan serangan militer langsung. Meskipun secara teknis gencatan senjata masih berlaku, komunikasi terbaru menunjukkan bahwa kembalinya konflik hanya tinggal menunggu waktu. Hal ini paling terlihat di pasar minyak; harga Brent telah menembus $110 per barel, dan pada kontrak aktif terdapat peluang mencatat penutupan tertinggi sejak konflik dimulai.

Perlu juga dicatat bahwa kontrak Brent bulan Juni, yang segera berakhir, diperdagangkan di sekitar $118 per barel dan sempat mencapai $119,4, sangat dekat dengan rekor bulan Maret.

“Gelombang Serangan Singkat dan Kuat”

Menurut laporan terbaru, AS telah menyiapkan rencana untuk melancarkan serangan “singkat namun kuat” terhadap target di Iran. Strategi Washington jelas: menghancurkan infrastruktur terlebih dahulu, lalu memaksa Teheran kembali ke meja negosiasi dengan syarat AS.

Dalam wawancara dengan N12, Trump menggunakan bahasa keras, menggambarkan kondisi ekonomi Iran sebagai “tercekik.” Menurutnya, blokade laut lebih efektif daripada bom karena telah menyebabkan fasilitas penyimpanan minyak Iran penuh hingga mendekati batas kapasitas.

Namun, ada laporan bahwa Iran mungkin memilih membuang minyak ke gurun daripada menghentikan produksi, karena penghentian mendadak dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ladang minyak.

Ketegangan Internal di Iran

Situasi domestik Iran terlihat sangat tegang dan terfragmentasi:

  • Militer dan kelompok radikal dilaporkan siap berperang dan menolak menyerah di bawah tekanan blokade.
  • Diplomasi masih mencoba bertahan, dengan pejabat Iran menyatakan tidak menginginkan perang.
  • Yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang dapat menunjukkan kebuntuan pengambilan keputusan atau persiapan serangan balasan.

Apa Artinya untuk Pasar Minyak?

Reaksi pasar sangat cepat dan agresif. Harga WTI naik sekitar $6–$7 dalam satu sesi, menembus level $106, sementara Brent sudah diperdagangkan di atas $111.

Beberapa poin utama:

1. Premi Risiko Perang Kembali Dominan
Pasar tidak lagi percaya pada solusi diplomatik dalam krisis Hormuz. Penolakan Trump berarti blokade tidak akan segera berakhir, dan risiko kerusakan infrastruktur minyak Iran mulai diperhitungkan.

2. Risiko Kerusakan Permanen Ladang Minyak
Jika Iran terpaksa menghentikan produksi, perubahan tekanan dapat merusak ladang minyak secara permanen, membatasi pasokan global dalam jangka panjang.

3. AS sebagai “Satu-satunya Pemasok Aman”
Data EIA menunjukkan penurunan besar stok AS (-6,2 juta barel), sementara permintaan global meningkat. Ekspor minyak AS mencapai rekor 6 juta barel per hari.

4. Koreksi atau Reli Lanjutan?
Pasar saat ini berada dalam fase eskalasi. Penutupan Brent di atas $111–$112 dan WTI di atas $107 membuka potensi kenaikan lanjutan, meskipun area ini tetap menjadi zona suplai kuat.

Sulit untuk mengatakan bahwa saat ini terdapat keterlibatan spekulatif yang besar di pasar minyak. Posisi long memang masih tinggi, namun pernah berada pada level yang lebih tinggi pada tahun 2023 atau 2025. Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB

Kesimpulan

Situasi saat ini sangat biner. Jika AS benar-benar melancarkan serangan, WTI bisa dengan cepat menguji level $110. Namun, jika Iran tiba-tiba memberikan konsesi, harga minyak berpotensi turun tajam ke sekitar $100. Untuk saat ini, sikap hawkish Trump menjaga tekanan pada sisi pasokan dan mempertahankan tren kenaikan harga.

30 April 2026, 02.22

Divergensi Wall Street Usai The Fed Hawkish

29 April 2026, 23.20

Harga Minyak Melejit, Risiko Geopolitik Dorong Volatilitas 🔥

29 April 2026, 00.39

Wall Street Tertekan Sentimen AI dan Geopolitik

28 April 2026, 22.44

📉Harga emas turun 1,5% menekan saham sektor logam dan pertambangan

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.