-
Indeks: Futures indeks AS naik sekitar 0,2% setelah pernyataan Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan berakhirnya perang di Iran. Sementara itu, kontrak indeks Eropa masih berada di bawah tekanan (EU50: -0,4%).
-
Perang Iran: Menurut Donald Trump, perang di Iran dapat segera berakhir, dan kemajuan operasi militer Amerika Serikat sudah jauh melampaui rencana awal yang diperkirakan berlangsung selama 4–5 minggu. Presiden AS juga memperingatkan Iran bahwa jika negara tersebut memblokir aliran minyak melalui Selat Hormuz, Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas serangan dengan tujuan menghancurkan negara tersebut sepenuhnya.
-
Sesi Asia: Kenaikan mendominasi pasar Asia-Pasifik setelah komentar Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan akhir konflik Iran dalam waktu dekat. Sentimen juga didukung oleh data ekspor China yang sangat kuat. Indeks KOSPI melonjak hingga 5,5%, yang memicu penghentian perdagangan sementara. Indeks HSCEI China naik sekitar 1,5%, sementara Nikkei 225 Jepang menguat 2,9%.
-
Pertumbuhan Jepang: GDP Jepang untuk kuartal keempat 2025 direvisi dari 0,1% menjadi 1,3% secara tahunan, melampaui semua perkiraan berkat belanja investasi perusahaan (+1,3% QoQ dibandingkan perkiraan 0,2% QoQ) serta permintaan domestik. Untuk pertama kalinya dalam 13 bulan, kenaikan upah riil tercatat (+1,4%), yang meningkatkan daya beli rumah tangga. Pasangan mata uang USDJPY melanjutkan penurunan sebesar 0,15% karena data tersebut meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga di Jepang.
-
Perdagangan Internasional China: Surplus perdagangan China untuk periode Januari–Februari 2026 mencapai rekor $213,62 miliar (perkiraan: $177,4 miliar). Ekspor naik 21,8% secara tahunan, jauh melampaui perkiraan, meskipun terjadi penurunan perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar 16,9%. Pertumbuhan didorong oleh perdagangan dengan Uni Eropa (+19,9%) dan ASEAN (+20,3%). Pada saat yang sama, inflasi kembali meningkat menjadi 1,3%. Data yang kuat ini menunjukkan bahwa Beijing kemungkinan tidak akan menambah stimulus ekonomi dalam waktu dekat.
-
Kebijakan Moneter Australia: Andrew Hauser dari Reserve Bank of Australia (RBA) menyatakan bahwa akan ada “perdebatan yang sulit” mengenai kebijakan moneter pada pertemuan bank sentral berikutnya. Ia menekankan adanya perbedaan pandangan di dalam RBA serta risiko tinggi dan tidak pasti terkait potensi guncangan harga energi akibat perang di Iran. Bersamaan dengan pernyataan tersebut, data sentimen konsumen di Australia juga menunjukkan perbaikan.
-
Forex: Setelah koreksi pada perdagangan sebelumnya dan upaya rebound pada awal sesi Asia, indeks dolar AS (USDIDX) diperdagangkan relatif tidak berubah di tengah ketidakpastian mengenai durasi perang Iran, dengan pasar melakukan konsolidasi setelah penguatan sebelumnya. Peningkatan selera risiko terlihat dari kenaikan AUDUSD (+0,34%), meskipun sebagian didorong oleh pandangan kebijakan RBA yang masih cenderung hawkish. EURUSD diperdagangkan stabil di level 1,163.
-
Komoditas: Minyak mentah Brent dan WTI masing-masing naik sekitar 4% dan 1,65% setelah volatilitas ekstrem pada perdagangan sebelumnya yang sempat mendorong harga menuju $120 per barel (saat ini Brent berada di $93,60). Di tengah jeda penguatan dolar AS, logam mulia juga menguat; emas naik 0,45% menjadi $5.176 per ons, sementara perak naik 1,7% menjadi $89,22 per ons.
-
Optimisme Kripto: Bitcoin naik lagi sekitar 1,9% dan kembali mendekati level psikologis $70.000. Ethereum juga naik sekitar 2% menjadi $2.045.
Daily Summary: Konflik Timur Tengah Mengguncang Pasar Minyak
Lonjakan Minyak Tekan Wall Street!
Retakan di Pasar Private Credit: BlackRock Batasi Penarikan
Daily Summary: Indeks dan kripto turun saat minyak melonjak