-
Futures indeks AS menutup akhir long weekend dengan pelemahan lanjutan di tengah kekhawatiran terhadap dampak perubahan struktural akibat kecerdasan buatan pada sejumlah sektor. US100, US500, dan US2000 turun sekitar 0,45%, sementara US30 relatif lebih stabil (-0,35%).
-
Minyak Brent dan WTI terkoreksi sekitar 0,5% menjelang pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa. Donald Trump menyatakan bahwa Iran adalah “negosiator yang buruk” namun tetap menginginkan kesepakatan. Presiden AS diperkirakan akan terlibat secara tidak langsung dalam proses tersebut.
-
Risalah Reserve Bank of Australia menunjukkan bahwa tekanan inflasi lebih kuat dan lebih luas dari perkiraan awal. Permintaan yang solid dan pasar tenaga kerja yang ketat meningkatkan tekanan harga. Suku bunga yang relatif tinggi dinilai tidak lagi cukup restriktif, sehingga kenaikan lanjutan masih mungkin diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target. RBA sebelumnya telah menaikkan suku bunga dari 3,6% menjadi 3,85%.
-
Volatilitas di kawasan Asia-Pasifik tetap terbatas karena pasar China masih tutup akibat libur Tahun Baru Imlek. Pasar Jepang melanjutkan pelemahan setelah data PDB yang mengecewakan (JP225: -0,5%), sementara indeks AU200.cash Australia naik sekitar 0,1% didukung hasil kuat dari raksasa komoditas BHP. Korea Selatan turun 0,3%, sedangkan India naik 0,2%.
-
Di pasar valuta asing, yen Jepang memimpin penguatan terhadap mata uang G10 setelah lelang obligasi pemerintah Jepang yang sukses meskipun data PDB lemah. Secara umum, volatilitas mata uang utama terbatas dalam kisaran ±0,1%. EURUSD bergerak datar di sekitar 1,184.
-
Emas berada dalam tekanan jual dan sempat turun di bawah USD 4.900 (saat ini -1,6% di USD 4.910), sementara perak melemah 2,3% ke USD 74.
Morning Wrap (26.02.2026)
Daily Summary: Wall Street Menanti Nvidia (25.02.2026)
Wall Street Menanti Laporan Nvidia
Morning Wrap (25.02.2026)