- HSBC menurunkan rating NFLX dari Buy menjadi Hold dengan target harga US$76 pada 22 September 2026.
- Wells Fargo menurunkan rating Netflix menjadi Underweight dengan target harga US$57.
- YouTube menguasai 14,2% total waktu menonton TV di AS pada Juli 2026, sedangkan Netflix turun ke 7,8%.
- Saham Netflix telah turun sekitar 23% sepanjang 2026 saat HSBC menerbitkan downgrade terbaru.
- Laporan keuangan Q3 2026 pada 20 Oktober menjadi fokus investor untuk memantau engagement Netflix.
- HSBC menurunkan rating NFLX dari Buy menjadi Hold dengan target harga US$76 pada 22 September 2026.
- Wells Fargo menurunkan rating Netflix menjadi Underweight dengan target harga US$57.
- YouTube menguasai 14,2% total waktu menonton TV di AS pada Juli 2026, sedangkan Netflix turun ke 7,8%.
- Saham Netflix telah turun sekitar 23% sepanjang 2026 saat HSBC menerbitkan downgrade terbaru.
- Laporan keuangan Q3 2026 pada 20 Oktober menjadi fokus investor untuk memantau engagement Netflix.
Netflix Mulai Kalah dari YouTube di Layar TV AS, HSBC dan Wells Fargo Pangkas Rating
Netflix mendapat downgrade kedua dalam kurang dari seminggu setelah HSBC menurunkan rating NFLX dari Buy menjadi Hold pada 22 September 2026, sekaligus memangkas target harga sekitar 21% dari US$96 menjadi US$76.
Sebelumnya, Wells Fargo lebih dulu menurunkan rating Netflix menjadi Underweight dengan target harga US$57, turun dari target sebelumnya US$80. Fokus analis kali ini bukan sekadar harga langganan atau margin, tetapi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Netflix masih menjadi tujuan utama ketika konsumen duduk di depan layar TV?
Angka Nielsen yang Menggerakkan Rating
Laporan Nielsen The Gauge untuk Juli 2026 menunjukkan YouTube mencetak rekor dengan menguasai 14,2% dari total waktu menonton TV di AS. Sementara itu, Netflix turun ke sekitar 7,8%, level terendah dalam beberapa tahun.
Setahun sebelumnya, jarak antara keduanya masih sekitar 4,6 poin persentase. Kini gap tersebut melebar menjadi sekitar 6,4 poin setelah YouTube terus menambah pangsa waktu tonton, sementara Netflix kehilangan momentum.
Analis HSBC Mohammed Khallouf menilai tren tersebut bukan sekadar efek musiman, tetapi mencerminkan perubahan struktural dalam pola konsumsi media. YouTube semakin kuat sebagai platform yang dikonsumsi langsung melalui layar TV di ruang keluarga, bukan hanya melalui smartphone atau komputer.
Data Wells Fargo memperkuat kekhawatiran tersebut. Bank tersebut menilai tren engagement Netflix terlihat semakin mengkhawatirkan dan memperkirakan total jam tayang 100 konten original teratas Netflix dapat turun sekitar 21% YoY.
Kenapa Pergeseran Ini Sulit Dibalik dalam Waktu Dekat
HSBC menyoroti dua tantangan struktural utama, yaitu skala ekonomi kreator dan perubahan desain produk YouTube.
Ekosistem YouTube menghasilkan suplai konten baru dalam jumlah sangat besar karena jutaan kreator terus memproduksi video secara independen. Berbeda dengan Netflix yang harus mengalokasikan modal besar untuk memproduksi atau memperoleh setiap judul, YouTube memiliki model yang memungkinkan suplai konten terus bertambah tanpa harus menanggung seluruh biaya produksi sendiri.
YouTube juga semakin menyesuaikan pengalaman menonton agar menyerupai televisi tradisional, termasuk dengan format episodic dan interface yang semakin nyaman digunakan melalui smart TV. Pada saat yang sama, sebagian besar kontennya tetap dapat diakses secara gratis dengan dukungan iklan.
Kombinasi tersebut berpotensi menekan pricing power Netflix. Semakin banyak waktu yang dihabiskan konsumen pada konten gratis berbasis iklan, semakin besar tantangan Netflix untuk mempertahankan engagement sekaligus terus menaikkan harga langganan.
Tekanan ini tercermin dalam proyeksi Wells Fargo bahwa jam tayang 100 judul original teratas Netflix dapat turun sekitar 21% secara tahunan. Bagi perusahaan streaming, penurunan viewing time menjadi penting karena engagement pada akhirnya memengaruhi retensi pelanggan, monetisasi iklan, dan kemampuan untuk menaikkan harga.
Apa Artinya untuk Investor NFLX
Saham Netflix telah turun sekitar 23% sepanjang 2026 ketika HSBC mengeluarkan downgrade terbarunya. Pelemahan tersebut membuat valuasi NFLX terkoreksi signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
HSBC menetapkan target harga US$76 setelah memangkas rating menjadi Hold, sementara Wells Fargo mengambil pandangan yang lebih konservatif dengan target US$57.
Perbedaan target tersebut menunjukkan bahwa perhatian analis kini bergeser dari sekadar pertumbuhan pendapatan menuju kualitas engagement pengguna dan kemampuan Netflix mempertahankan posisinya di tengah meningkatnya konsumsi YouTube melalui layar TV.
Titik uji berikutnya adalah laporan keuangan Q3 2026 pada 20 Oktober. Investor akan mencari bukti apakah pertumbuhan bisnis iklan dan tier berharga lebih rendah dapat mengimbangi tekanan terhadap engagement, atau apakah penurunan waktu menonton relatif terhadap YouTube mulai berdampak lebih jauh terhadap pricing power dan retensi pelanggan.

Pertanyaan Umum tentang Netflix dan YouTube
Mengapa rating Netflix dipangkas?
HSBC menurunkan rating Netflix dari Buy menjadi Hold dengan target harga US$76, sementara Wells Fargo sebelumnya memberi rating Underweight dengan target US$57. Kekhawatiran utama analis adalah melemahnya engagement Netflix dan meningkatnya konsumsi YouTube melalui layar TV.
Mengapa YouTube menjadi ancaman bagi Netflix?
YouTube menguasai sekitar 14,2% waktu menonton TV di AS pada Juli 2026, dibandingkan Netflix sekitar 7,8%. Skala konten kreator yang besar, akses gratis berbasis iklan, dan pengalaman menonton yang semakin cocok untuk smart TV membuat persaingan terhadap Netflix semakin kuat.
Bagaimana kondisi saham Netflix setelah downgrade?
Saat downgrade HSBC diterbitkan, saham Netflix telah turun sekitar 23% sepanjang 2026. Investor kini lebih fokus pada kemampuan Netflix mempertahankan engagement, pricing power, dan pertumbuhan bisnis iklan.
Apa katalis berikutnya untuk saham Netflix?
Fokus berikutnya adalah laporan keuangan Q3 2026 yang dijadwalkan pada 20 Oktober. Pasar akan melihat apakah pertumbuhan bisnis iklan dan tier berharga lebih rendah dapat mengimbangi tekanan terhadap waktu menonton dan engagement.
Saham Verizon Turun 3% Meski Laba Naik, Apa Penyebabnya?
US Open: Nasdaq Naik 0,7%, IPO Anthropic Dorong Saham AI
Wall Street Menguat, Minyak Turun Jelang Fed
Backlog Lockheed Rekor, Arah Selanjutnya?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.