- Bank of America menaikkan target harga Oracle menjadi US$240 per saham.
- Pendapatan kuartal keempat diperkirakan tumbuh sekitar 20% YoY menjadi US$19,19 miliar.
- Oracle menjadi salah satu pemain utama dalam infrastruktur AI melalui bisnis OCI.
- Utang jangka panjang Oracle telah melampaui US$124 miliar.
- Laporan keuangan Oracle dapat menjadi penentu sentimen sektor AI dan Nasdaq dalam jangka pendek.
- Bank of America menaikkan target harga Oracle menjadi US$240 per saham.
- Pendapatan kuartal keempat diperkirakan tumbuh sekitar 20% YoY menjadi US$19,19 miliar.
- Oracle menjadi salah satu pemain utama dalam infrastruktur AI melalui bisnis OCI.
- Utang jangka panjang Oracle telah melampaui US$124 miliar.
- Laporan keuangan Oracle dapat menjadi penentu sentimen sektor AI dan Nasdaq dalam jangka pendek.
Oracle (ORCL.US) Melemah Jelang Laporan Keuangan Q4, Namun Bank of America Melihat Potensi Kenaikan 20% Setelah ditutup turun 3% pada perdagangan kemarin, saham Oracle kini diperdagangkan sekitar 40% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada musim gugur 2025. Pertanyaan utama bagi investor saat ini adalah apakah Oracle mampu menghidupkan kembali reli Nasdaq, atau justru menandai puncak sementara sentimen pasar yang didorong oleh tema kecerdasan buatan (AI).
Poin Penting
Meski mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir, BofA Securities menaikkan target harga Oracle dari US$200 menjadi US$240 per saham dengan tetap mempertahankan rekomendasi Buy.
Target harga baru tersebut mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 20% dari level saat ini.
Menurut BofA, sentimen investor membaik setelah Oracle berhasil mengatasi kekhawatiran terkait pendanaan dengan menghimpun dana gabungan sebesar US$50 miliar melalui pembiayaan utang dan ekuitas.
Pendorong utama pertumbuhan perusahaan tetap berasal dari permintaan terhadap layanan cloud dan solusi AI, terutama melalui Oracle Cloud Infrastructure (OCI).
Wall Street memperkirakan Oracle akan melaporkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$19,19 miliar, mencerminkan pertumbuhan sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba per saham yang disesuaikan (Adjusted EPS) diperkirakan mencapai US$1,96, naik sekitar 15% secara tahunan.
Topik utama yang kemungkinan akan menjadi fokus dalam konferensi hasil keuangan meliputi kecepatan ekspansi pusat data, waktu pengakuan pendapatan dari kontrak terkait AI, serta kebutuhan modal untuk mendanai pertumbuhan lebih lanjut.
Morningstar menilai OCI kini berada di pusat ledakan industri AI berkat kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Meta, dan xAI.
Lembaga riset tersebut memperkirakan pendapatan Oracle akan tumbuh rata-rata 30% per tahun selama lima tahun ke depan, sementara pendapatan OCI diproyeksikan meningkat lebih cepat lagi, yakni sekitar 78% per tahun.
Risiko utama yang dihadapi perusahaan adalah kemampuannya memperoleh kapasitas GPU yang memadai dan mengoperasikan pusat data baru dengan cukup cepat untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah meningkatnya ketergantungan Oracle terhadap pelanggan AI berskala besar, khususnya OpenAI.
Risiko Utama: Utang
Karena itu, laporan keuangan yang dirilis hari ini kemungkinan tidak hanya akan dinilai berdasarkan kinerja kuartalan, tetapi juga berdasarkan kemampuan Oracle dalam memonetisasi lonjakan permintaan infrastruktur AI yang sangat besar.
Mengingat momentum pasar saham AS yang belakangan melemah, investor berpotensi bereaksi negatif apabila Oracle gagal memenuhi ekspektasi atau mengecewakan pasar pada salah satu metrik utama yang diawasi investor.
Saat ini Oracle memiliki Remaining Performance Obligations (RPO) sebesar US$553 miliar, yang mencerminkan kontrak pendapatan masa depan yang telah diamankan.
RPO tersebut tumbuh 325% dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan permintaan yang sangat kuat terhadap layanan infrastruktur AI.
Pertanyaan terpenting saat ini adalah seberapa cepat Oracle mampu mengubah backlog kontrak yang sangat besar tersebut menjadi pendapatan yang diakui secara aktual.
Para analis memperkirakan bisnis infrastruktur cloud Oracle akan terus tumbuh hampir 50% per tahun.
Namun demikian, neraca keuangan perusahaan masih menjadi perhatian utama.
Utang jangka panjang Oracle telah melampaui US$124 miliar, sementara beban bunga meningkat sekitar 32% dibandingkan tahun sebelumnya.
Arus kas bebas (free cash flow) selama 12 bulan terakhir tercatat negatif hampir US$25 miliar, dan perusahaan kemungkinan membutuhkan tambahan pendanaan hingga US$50 miliar untuk mendukung rencana ekspansi berikutnya.
Oracle juga memiliki komitmen tambahan sekitar US$261 miliar terkait sewa pusat data.
Di saat yang sama, Oracle semakin intens bersaing dengan Amazon Web Services (AWS), Microsoft, dan Google dalam perlombaan infrastruktur AI.
Dalam jangka panjang, manajemen perusahaan menargetkan pangsa pasar yang lebih besar pada layanan AI dengan margin tinggi, bukan sekadar bersaing sebagai penyedia infrastruktur tradisional.
Risiko terbesar tetap berada pada eksekusi strategi.
Investasi besar yang dilakukan perusahaan harus mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan pendapatan, ekspansi margin, dan perbaikan arus kas dalam waktu yang cukup cepat untuk membenarkan besarnya modal yang telah digelontorkan.
ORCL.US (D1)
Saham Oracle saat ini diperdagangkan dalam posisi yang cukup krusial karena berada sangat dekat dengan Exponential Moving Average 200 hari (EMA200), yang ditandai dengan garis merah pada grafik. Area US$200 terlihat sebagai zona support penting untuk menjaga tren bullish jangka panjang. Penembusan yang berkelanjutan di bawah level tersebut berpotensi diinterpretasikan pasar sebagai sinyal meningkatnya kekhawatiran terhadap siklus investasi infrastruktur AI dan kemampuan Oracle menghasilkan imbal hasil yang menarik dari strategi ekspansi agresifnya.

Sumber: xStation5
Rotasi Dana ke Healthcare dan Finansial Menguat
Nasdaq Anjlok, Saham AI Tertekan
IPO SpaceX Pecahkan Rekor Sejarah
Apple Perkenalkan Siri AI dan macOS Golden Gate di WWDC
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.