10.47 · 11 Agustus 2026

Konsumen Melemah, Starbucks Justru Makin Kuat

Kopi Premium Belum Jadi Korban Pelemahan Konsumen

Pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan retakan. Ekonomi kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli, sementara consumer sentiment masih berada 34% di bawah rata-rata historis. Ketika daya beli tertekan, pengeluaran kecil tetapi rutin seperti kopi premium sering dianggap sebagai salah satu pos pertama yang akan dipangkas. Namun, kinerja Starbucks menunjukkan asumsi tersebut belum tentu benar.

Pasar Kerja Melemah, tetapi Konsumen Belum Menyerah

Data ketenagakerjaan Juli 2026 mencatat penurunan 23.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan 83.000 posisi. Ini bukan sekadar miss, tetapi mulai memberikan sinyal pelemahan yang lebih struktural. Rata-rata penambahan pekerjaan selama 12 bulan terakhir turun menjadi hanya 34.000 per bulan, sementara labor force participation rate melemah ke 61,4%, level terendah dalam lebih dari lima tahun. Pertumbuhan upah juga melambat menjadi 3,2% secara tahunan, terendah sejak Mei 2021.

Namun, di sisi lain, pengeluaran konsumen secara agregat belum runtuh. Retail sales masih mencatat kenaikan selama lima bulan berturut-turut hingga Juni, meskipun lajunya melambat menjadi hanya 0,2% secara bulanan. Consumer sentiment memang naik menjadi 55,2 pada Juli dari rekor terendah 49,5 pada Juni. Namun, level tersebut masih jauh di bawah rata-rata historis sebesar 83,8.

Artinya, terdapat perbedaan besar antara kondisi konsumen yang “belum kolaps” dan kondisi yang benar-benar sehat. Menariknya, pengeluaran di restoran dan bar hanya naik 0,1% pada Juni. Kategori ini termasuk yang paling sensitif terhadap perubahan disposable income. Ketika konsumen mulai mengurangi pengeluaran untuk makan di luar, kopi premium biasanya menjadi salah satu kategori berikutnya yang berpotensi terkena tekanan.

Starbucks Justru Membuktikan Sebaliknya

Di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli, Starbucks justru mencatat empat kuartal berturut-turut pertumbuhan comparable store sales positif.

Pada Q3 FY2026, untuk kuartal yang berakhir 28 Juni 2026, global comparable store sales melonjak 7,9%.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan transaksi sebesar 4,2% dan average ticket sebesar 3,5%.

Di Amerika Utara, kinerjanya bahkan lebih kuat dengan pertumbuhan 8,1%.

Ini bukan sekadar efek dari basis pembanding yang rendah.

Pertumbuhan transaksi, bukan hanya kenaikan harga, menjadi salah satu pendorong utama.

Lebih dari 98% shift yang dijadwalkan di toko AS berhasil terisi penuh, sementara ketersediaan makanan mencapai 99%.

Brian Niccol, yang direkrut dari Chipotle pada akhir 2024, terlihat mulai berhasil mengeksekusi strategi “Back to Starbucks” yang berfokus pada kualitas kopi dan pengalaman di dalam toko.

Starbucks juga memperoleh refund tarif dari US Customs yang secara praktis mengimbangi seluruh beban tarif yang telah terakumulasi selama tahun fiskal.

Pesan utamanya cukup jelas.

Kebiasaan menikmati kopi premium ternyata lebih sulit ditinggalkan dibandingkan yang diasumsikan banyak analis.

Starbucks tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menjual ritual harian.

Setidaknya untuk saat ini, ritual tersebut belum banyak berubah meskipun daya beli konsumen berada di bawah tekanan.

*Pendapatan turun akibat transisi sekitar 7.991 toko China ke joint venture Boyu Capital, bukan karena pelemahan permintaan. Sumber: Starbucks Investor Relations Juli 2026, XTB Research Indonesia.

Pertanyaan Berikutnya: Sudah Tercermin di Harga?

Setelah melaporkan hasil Q3, Starbucks menaikkan guidance EPS setahun penuh menjadi US$2,55-US$2,65 dari sebelumnya US$2,25-US$2,45.

Perusahaan juga memperkirakan pertumbuhan comparable store sales AS di atas 6% untuk tahun fiskal ini.

Saham melonjak hingga 9% dalam perdagangan after-hours setelah laporan dirilis.

​​​​​​​

Sumber: XTB Research Indonesia

Namun, dengan harga saham di kisaran US$105 dan trailing P/E ratio sekitar 80 kali, pasar sudah memperhitungkan banyak bagian dari pemulihan tersebut.

Trailing P/E sebesar 80 kali mencerminkan basis earnings yang masih rendah selama periode turnaround. Forward P/E sekitar 40 kali lebih representatif.

Meski demikian, angka tersebut masih jauh di atas rata-rata historis 10 tahun Starbucks di kisaran 30 hingga 35 kali dan sekitar dua kali lipat valuasi McDonald’s.

Konsensus analis menempatkan target harga median di sekitar US$112. Artinya, potensi upside dari level harga saat ini relatif terbatas. Melius Research bahkan baru saja menaikkan rating Starbucks dari Sell menjadi Hold, bukan Buy.

Risiko utama bukan berasal dari kondisi internal Starbucks, tetapi dari lingkungan ekonomi eksternal. Jika pasar tenaga kerja terus melemah dan consumer sentiment gagal pulih secara material, akan ada titik ketika bahkan kebiasaan minum kopi mulai dikurangi. Data retail sales untuk restoran dan bar yang hanya naik 0,1% pada Juni sudah menunjukkan bahwa konsumen mulai lebih selektif terhadap pengeluaran di luar rumah. Rilis retail sales Juli dan consumer sentiment pada 14 Agustus akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah tekanan terhadap konsumen semakin nyata.

11 Agustus 2026, 09.24

Laba S&P 500 Melonjak, Valuasi Masih Masuk Akal

11 Agustus 2026, 07.30

Intel Raup Permintaan US$100 Miliar untuk Penerbitan Saham Baru

10 Agustus 2026, 16.33

Berkshire Mulai Belanja Lagi Setelah 4 Tahun

10 Agustus 2026, 14.47

US OPEN: Wall Street Datar, Intel Tertekan Aksi Korporasi

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.