Futures Treasury 10 tahun AS (TNOTE) anjlok 0,6% ke level terendah sejak April 2025 seiring investor menyesuaikan ulang prospek kebijakan moneter. Pasar kini secara agresif melakukan repricing menuju ekspektasi Federal Reserve yang lebih hawkish, didorong oleh percepatan inflasi dan kebuntuan diplomatik setelah pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping.
Yield Sentuh Level Tertinggi Multi-Tahun
Yield Treasury 30 tahun melonjak ke 5,117%, level tertinggi sejak Mei 2025, karena pasar secara agresif melakukan repricing terhadap risiko inflasi. Lonjakan ini menjadi “baptism by fire” bagi Ketua baru The Fed Kevin Warsh, yang kini harus mengelola kebijakan moneter saat yield tenor panjang semakin mengambil kendali atas kondisi keuangan.

Rekor tertinggi yield obligasi AS kini melampaui tren serupa di negara lain, kembali memicu penguatan dolar AS setelah pertemuan Trump-Xi. Sumber: XTB Research.
Data Inflasi yang Sangat Panas
Serangkaian laporan ekonomi yang dianggap “messy” - termasuk CPI sebesar 3,8%, tingkat tahunan PPI sebesar 6%, serta lonjakan harga impor terbesar sejak 2022 - mengonfirmasi bahwa ketegangan Timur Tengah mulai merembet ke biaya grosir dan konsumen. Data ini membuat seruan Presiden Trump untuk pemangkasan suku bunga semakin sulit dibenarkan oleh The Fed.

Inflasi CPI kini sudah jauh di atas proyeksi inflasi tahunan PCE The Fed sebesar 2,7%. Sumber: XTB Research.
Momentum Diplomatik Gagal Terwujud
Harga energi kembali naik, dengan minyak WTI Crude Oil diperdagangkan di atas US$104 per barel setelah pertemuan Trump-Xi berakhir tanpa terobosan konkret terkait konflik Iran. Investor kini mulai “pricing in the pain” dari potensi blokade berkepanjangan, dengan melihat minimnya kemajuan diplomatik sebagai katalis langsung bagi tingginya biaya energi dan transportasi dalam jangka panjang.
Tekanan Fiskal Global
Aksi jual tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah Jerman, UK Gilts Inggris, dan obligasi Jepang juga melonjak tajam. Di dalam negeri, situasi fiskal AS juga semakin memburuk, dengan pembayaran bunga utang nasional kini menjadi pengeluaran pemerintah terbesar kedua setelah Social Security, yang semakin membuat pemegang obligasi khawatir.

Kekhawatiran global terhadap pasar obligasi, meskipun bersifat simetris, justru mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven utama investor. Hal ini menyebabkan pelemahan besar pada mata uang G10 lainnya, yang sebelumnya sempat menguat terhadap USD saat optimisme terkait perang Iran meningkat pada April lalu. Sumber: XTB Research.
Kevin Warsh hadapi ujian terbesar The Fed. Trump ingin pemangkasan suku bunga, Inflasi berkata “Tidak”
Saham dan Logam Turun Saat KTT Trump-Xi Gagal Pecahkan Kebuntuan Iran 📉
Kalender Ekonomi: Fokus Data Global Beralih ke AS dan Kanada
Market Wrap: Trump dan Xi Membentuk Arah Pasar
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.