Pasar Saham China Masih Tertekan
Pasar saham China kembali berada di bawah tekanan, sementara sentimen investor terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia terus memburuk. Hang Seng China Enterprises Index kini telah memasuki bear market setelah turun lebih dari 20% dari puncaknya pada Oktober lalu. Sementara itu:
- Shanghai Composite turun sekitar 1,1%.
- Shenzhen Component melemah hampir 1,6%.
Investor semakin khawatir bahwa pemulihan ekonomi China masih terlalu lemah untuk mendorong pertumbuhan laba perusahaan secara berkelanjutan, terutama bagi sektor teknologi dan perusahaan yang bergantung pada konsumsi domestik. Tekanan juga meningkat setelah muncul kembali ketegangan teknologi antara Amerika Serikat dan China menyusul tuduhan Anthropic terhadap Alibaba terkait dugaan pengambilan teknologi AI secara tidak sah. Di sisi lain, pasar juga mulai mempertanyakan apakah investasi AI bernilai miliaran dolar di China akan mampu menghasilkan imbal hasil yang memadai, terutama karena pembatasan ekspor teknologi dari AS masih membatasi akses China terhadap chip semikonduktor paling canggih. Akibatnya, investor terus mengurangi eksposur terhadap saham China meskipun valuasi banyak perusahaan kini terlihat semakin murah.
Hong Kong Resmi Masuk Bear Market
Bagian pasar saham China yang paling tertekan saat ini adalah Hong Kong. Hang Seng China Enterprises Index, yang melacak perusahaan-perusahaan terbesar China yang tercatat di Hong Kong, telah turun lebih dari 20% dari puncaknya pada Oktober dan resmi memasuki wilayah bear market.
Sementara itu:
- Shanghai Composite turun sekitar 1,1%.
- Shenzhen Component melemah hampir 1,6%.
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham yang diperdagangkan di luar negeri, tetapi juga di pasar domestik China. Beberapa hari sebelumnya, laporan keuangan Micron sempat mengangkat optimisme terhadap sektor AI dan semikonduktor global. Namun sentimen tersebut kini memudar karena investor kembali fokus pada tantangan struktural ekonomi China serta meningkatnya biaya investasi AI.
Alibaba Kembali Menjadi Pusat Konflik Teknologi AS-China
Alibaba kembali menjadi salah satu pemicu utama pelemahan pasar. Perusahaan AI asal Amerika Serikat, Anthropic, melaporkan kepada Senat AS bahwa entitas yang berafiliasi dengan Alibaba beserta laboratorium riset AI-nya diduga melakukan serangan AI distillation terbesar yang pernah diketahui terhadap model Claude.
Menurut Anthropic, antara 22 April hingga 5 Juni, pihak yang diduga terkait Alibaba menggunakan sekitar 25.000 akun palsu untuk menghasilkan hampir 28,8 juta interaksi dengan model Claude. Tujuannya diduga untuk mereplikasi kemampuan model tersebut dan menggunakan hasilnya sebagai bahan pelatihan sistem AI pesaing. Apabila tuduhan ini terbukti, kasus tersebut berpotensi memperkuat dorongan Amerika Serikat untuk memperketat pembatasan ekspor teknologi AI ke China. Bagi investor, kondisi ini kembali meningkatkan risiko regulasi dan geopolitik yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penyebab utama diskon valuasi saham teknologi China.
Lemahnya Konsumsi Masih Menjadi Masalah Utama
Namun, ketegangan geopolitik bukan satu-satunya penyebab pelemahan pasar saham China. Investor juga semakin memperhatikan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Beberapa faktor yang masih menjadi perhatian antara lain:
- Konsumsi rumah tangga yang masih lemah.
- Pasar properti yang belum menunjukkan stabilisasi.
- Pemulihan ekonomi yang masih berada di bawah ekspektasi.
Kondisi tersebut sangat penting bagi perusahaan e-commerce seperti Alibaba dan JD.com, yang pertumbuhan pendapatannya sangat bergantung pada konsumsi masyarakat. Tanpa pemulihan permintaan domestik yang signifikan, perusahaan-perusahaan tersebut diperkirakan akan kesulitan kembali mencapai tingkat pertumbuhan seperti sebelum krisis sektor properti.
Apakah AI Masih Bisa Menjadi Mesin Pertumbuhan?
Investor kini mulai membedakan prospek AI global dengan masa depan perusahaan teknologi China. Di Amerika Serikat, perusahaan teknologi masih menikmati lonjakan permintaan terhadap chip AI dan pembangunan pusat data. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan China harus mengembangkan model AI mereka dengan akses yang semakin terbatas terhadap chip paling canggih akibat pembatasan ekspor dari AS. Akibatnya, investor menjadi lebih berhati-hati dalam menilai apakah belanja modal AI yang sangat besar di China benar-benar mampu menghasilkan pertumbuhan laba yang menarik.
Faktor yang Akan Menentukan Arah Saham China
Dalam beberapa bulan ke depan, terdapat tiga faktor utama yang diperkirakan akan menentukan arah pasar saham China.
1. Pemulihan konsumsi domestik dan data ekonomi
Investor akan mencermati apakah konsumsi rumah tangga dan aktivitas ekonomi mulai menunjukkan perbaikan yang lebih konsisten.
2. Hubungan teknologi AS-China
Setiap kebijakan baru terkait pembatasan ekspor teknologi atau meningkatnya tensi geopolitik berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap sektor teknologi China.
3. Laporan keuangan perusahaan teknologi besar
Kinerja perusahaan-perusahaan seperti Alibaba, Tencent, Baidu, dan JD.com akan menjadi indikator penting apakah investasi AI mulai menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang nyata.
Selama ketiga faktor tersebut belum menunjukkan perbaikan yang jelas, saham-saham China diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan meskipun valuasinya semakin menarik secara fundamental.
Analisis Grafik Alibaba
Saham Alibaba telah turun lebih dari 50% dari puncaknya pada 2025 dan kini diperdagangkan hampir 30% di bawah exponential moving average (EMA) 200 hari.
Sentimen terhadap aset-aset China masih sangat lemah. Pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham teknologi besar lainnya seperti Baidu, Tencent, dan Yum China.

Sumber: xStation5
Data Michigan Tunjukkan Sentimen Konsumen AS Tetap Stabil
Saham AI Melemah, Wall Street Bersiap Dibuka Turun
Kalender Ekonomi: Fokus Pasar ke Sentimen Konsumen AS dan The Fed
Market Wrap: Saham Teknologi Tertekan, Wall Street Masih Melemah
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.