18.26 · 24 September 2026

PMI AS Kuat Dorong Yield, Nasdaq Tertekan

Katalis utama yang mendorong lonjakan yield saat ini adalah rilis indikator PMI AS untuk September pada sesi kemarin.

Data tersebut jauh melampaui ekspektasi dan mencapai level tertinggi dalam lima tahun.

Composite PMI naik ke 58,4, level yang konsisten dengan pertumbuhan GDP sekitar 5%.

Namun laporan tersebut juga menunjukkan bahwa tekanan biaya kembali meningkat dan perusahaan semakin aktif meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

Gambar 1: Indikator PMI AS (2023–2026)

Sumber: XTB Research, 24.09.2026

Kondisi ini memberikan alasan tambahan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Kekhawatiran mengenai ekonomi yang terlalu panas dan kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut demi menekan inflasi semakin menjadi fokus utama pasar.

Probabilitas pasar bahwa siklus kenaikan suku bunga akan berlanjut seawal Oktober kini naik di atas 70%.

Repricing tersebut juga didukung oleh komentar pejabat FOMC.

Michael Barr mengatakan bahwa penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan, sementara John Williams menyatakan bahwa kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun masih masuk akal.

Harga minyak juga tetap menjadi faktor penting dalam konteks ini.

Brent crude melanjutkan kenaikan sekitar 1,6% hari ini, sementara WTI naik sekitar 1,2%.

Kenaikan harga energi kembali menambah kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat tekanan pada pasar obligasi.

Selloff obligasi juga diperburuk oleh lemahnya permintaan pada lelang Treasury tenor 5 tahun pada Rabu.

Program buyback obligasi dari Departemen Keuangan AS juga mengecewakan pasar.

Pemerintah hanya mengumumkan pembelian obligasi jangka panjang maksimum sekitar US$6 miliar untuk hari ini, jauh di bawah ekspektasi pasar.

Dampak ke Aset Lain

Kenaikan yield memberikan tekanan langsung terhadap pasar saham, terutama saham teknologi.

Futures menunjukkan Nasdaq 100 turun hampir 1% pada perdagangan pre-market.

Tekanan pada S&P 500 lebih ringan, tetapi tetap negatif sekitar 0,5%.

Saham teknologi sangat sensitif terhadap yield karena valuasinya bergantung pada cash flow jangka panjang.

Semakin tinggi yield Treasury, semakin besar discount rate yang digunakan investor untuk menilai earnings masa depan.

Precious metals juga ikut tertekan.

Bagi banyak investor, gold dan logam mulia lainnya bersaing langsung dengan obligasi sebagai penyimpan nilai.

Ketika yield obligasi meningkat, daya tarik relatif aset yang tidak menghasilkan bunga menjadi lebih rendah.

Gambar 2: Gold (2026)

24 September 2026, 01.13

Daily Summary: Yield Tembus 5%, Wall Street Kembali Tertekan

23 September 2026, 23.01

US Open: Wall Street Turun Saat Yield Tembus 5%

22 September 2026, 19.14

Diplomasi AS-Iran Tekan Harga Minyak

22 September 2026, 12.39

Market Wrap: AI Dorong Nasdaq, Minyak dan Emas Tetap Jadi Fokus

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.