- Harga minyak naik dan saham mengalami aksi jual ringan setelah Iran menuduh pelanggaran gencatan senjata
- Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup untuk lalu lintas
- Optimisme residual masih ada di pasar keuangan
- Pembicaraan damai akhir pekan menjadi kunci arah pasar selanjutnya
- Konflik membayangi musim laporan keuangan Q1
- Harga minyak naik dan saham mengalami aksi jual ringan setelah Iran menuduh pelanggaran gencatan senjata
- Selat Hormuz sebagian besar masih tertutup untuk lalu lintas
- Optimisme residual masih ada di pasar keuangan
- Pembicaraan damai akhir pekan menjadi kunci arah pasar selanjutnya
- Konflik membayangi musim laporan keuangan Q1
Optimisme terhadap gencatan senjata memudar pada hari Kamis, setelah arus berita dari Iran menjadi negatif. Reli saham global terhenti, dan harga minyak meningkat. Minyak mentah Brent berada di atas $97 per barel pagi ini, yang memicu aksi jual ringan pada obligasi Eropa di awal sesi perdagangan. Saham Eropa mulai menghapus sebagian kenaikan hari Rabu, dan suasana pasar terlihat jauh kurang optimistis. Volatilitas tetap stabil, namun dorongan pasar saat ini adalah untuk mengoreksi sebagian pergerakan hari Rabu, karena para trader tetap khawatir terhadap kelancaran pengiriman tanker melalui Selat Hormuz.
Memantau Selat Hormuz
Hanya tiga kapal yang melintas melalui Selat Hormuz pada hari Rabu, menurut data resmi. Sekitar 800 tanker masih menunggu di sekitar selat tersebut, yang menunjukkan bahwa proses normalisasi arus kapal bisa memakan waktu sangat lama. Hal ini dapat menjaga harga minyak tetap tinggi untuk sementara waktu.
Pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh berita, dan sentimen ditentukan oleh headline. Pejabat Iran menuduh bahwa pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata telah terjadi, dan terdapat laporan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk terus menjadi sasaran serangan rudal Iran. Pembicaraan antara AS dan Iran baru akan dimulai pada akhir pekan, sehingga kecil kemungkinan adanya kemajuan signifikan dalam 24 jam ke depan, yang dapat membuat pasar bergerak dalam kisaran terbatas hingga akhir pekan ini.
Optimisme residual masih ada
Meskipun harga minyak naik hampir 3% pada hari Kamis dan saham berada di bawah tekanan, fakta bahwa harga minyak belum kembali menembus $100 per barel dapat menjadi sinyal bahwa investor masih berharap akan adanya terobosan dalam beberapa hari ke depan, atau setidaknya fondasi yang lebih kuat bagi gencatan senjata. Hal ini dapat membatasi penurunan aset berisiko dalam jangka pendek sekaligus menahan kenaikan harga minyak.
Sepanjang konflik ini, para trader cenderung membeli saham dan menjual minyak ketika ada berita positif dari kawasan tersebut, dan pola ini diperkirakan tidak akan berubah. Jika arah keseluruhan menunjukkan bahwa perang akan berakhir, maka sentimen risiko akan tetap didukung. Diperlukan kemunduran besar, seperti pembatalan pembicaraan damai akhir pekan, untuk mengubah arah pasar secara signifikan dan memicu pesimisme.
Konflik Timur Tengah membayangi musim earnings Q1
Hal ini tidak berarti bahwa konflik di Timur Tengah tidak berdampak nyata terhadap ekonomi global. Seiring dimulainya musim laporan keuangan Q1, akan terlihat bagaimana kenaikan biaya komoditas mempengaruhi laba perusahaan. Delta Air Lines melaporkan hasil Q1 pada hari Rabu dan menyatakan bahwa mereka akan mengalami dampak sebesar $2 miliar akibat kenaikan biaya bahan bakar hingga bulan Juni akibat konflik tersebut, meskipun tetap mempertahankan proyeksi laba tahunan karena ketidakpastian situasi.
Ini dapat menjadi sinyal bahwa investor mungkin tidak akan mendapatkan “kejutan positif” yang biasanya diharapkan selama musim laporan keuangan, seperti peningkatan proyeksi laba atau pengumuman buyback saham, karena perusahaan harus mengelola dampak krisis. Jika hal ini memicu revisi laba secara luas, maka dapat berdampak jangka panjang terhadap minat investor pada saham. Konflik ini diperkirakan akan menjadi tema utama sepanjang musim earnings Q1, dengan perhatian pada potensi penurunan proyeksi laba untuk Q2 dan seterusnya.
Perusahaan minyak besar juga terdampak gangguan
Bahkan Exxon Mobil, yang mungkin diharapkan menjadi pemenang utama dari lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir, mengumumkan bahwa mereka kehilangan 6% produksi globalnya pada Q1 akibat penutupan fasilitas di kawasan Teluk.
Berita korporasi ini menunjukkan bahwa semakin cepat konflik ini diselesaikan, semakin baik bagi ekonomi. Jika negosiasi gencatan senjata terbaru gagal, maka dampak ekonomi dan tekanan terhadap laba perusahaan akan semakin besar.
Menjelang hari ini, data ekonomi AS menjadi sorotan utama. Inflasi inti PCE untuk Februari akan dirilis sore ini. Data ini terasa sudah cukup usang dan kemungkinan tidak akan banyak menggerakkan pasar. Namun, kejutan kenaikan inflasi inti dapat memperkuat dolar AS, yang saat ini melemah secara luas, dengan indeks dolar menguji level 99,00.
Rilis final PDB AS Q4 juga dijadwalkan hari ini, yang diperkirakan akan mengonfirmasi bahwa ekonomi AS tumbuh solid sebesar 0,7% secara kuartalan, didorong oleh konsumsi yang kuat.
By Kathleen Brooks, research director at XTB
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.
Kalender Ekonomi: Apakah PCE yang sudah usang masih bisa menggerakkan pasar?
Gold stagnan, pasar tunggu arah Fed & inflasi
Market Wrap: Brent naik di tengah ketegangan Iran-AS
The Fed Hadapi Risiko Ganda?