Tiga Pasar yang Perlu Dipantau
Pekan Natal biasanya identik dengan volatilitas yang lebih rendah dan volume perdagangan yang tipis. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya jumlah sesi perdagangan di bursa-bursa utama, tetapi juga karena faktor musim liburan. Namun, tahun ini kondisi pasar berpotensi menghadirkan kejutan. Akumulasi rilis data ekonomi dari Amerika Serikat tepat sebelum libur panjang, ditambah dengan rilis data GDP utama dan final dari Inggris, membuat investor perlu tetap waspada. Dalam beberapa hari ke depan, perhatian khusus sebaiknya diarahkan pada pasangan mata uang GBPUSD, indeks US100, serta pasar minyak (OIL).
GBPUSD
Pada hari Senin, data penting dari Inggris terkait pertumbuhan GDP dan tingkat investasi bisnis akan dirilis. Pertemuan Bank of England terbaru menghasilkan pemangkasan suku bunga sesuai ekspektasi, namun pernyataan bank sentral bernada cukup hawkish, yang sempat menopang nilai pound sterling. Pasar memperkirakan pertumbuhan GDP kuartalan sekitar 0,1% dan pertumbuhan tahunan sebesar 1,3%. Kekecewaan pada data tersebut, terutama jika GDP kuartalan mencatat kontraksi, dapat meningkatkan tekanan terhadap BoE untuk mempercepat pemangkasan suku bunga, yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap sentimen pound Inggris. Di sisi lain, rilis GDP final diperkirakan tidak akan jauh berbeda dari estimasi sebelumnya.
US100
Hari Selasa, 22 Desember, akan menghadirkan gelombang besar laporan penting dari Amerika Serikat yang berpotensi memberikan gambaran baru mengenai kondisi perekonomian. Investor akan menerima, antara lain, estimasi kedua GDP kuartal ketiga, inflasi PCE kuartalan, data produksi industri, laporan pasar perumahan, pesanan barang tahan lama, serta indeks kepercayaan konsumen. Konsentrasi data dalam satu hari ini berpotensi memicu lonjakan volatilitas dan dapat mengubah ekspektasi pasar terkait arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Perubahan ekspektasi tersebut akan berdampak signifikan pada Nasdaq 100 (US100) serta perusahaan berkapitalisasi kecil di indeks Russell 2000, yang sangat sensitif terhadap biaya pendanaan eksternal. Aktivitas yang meningkat juga diperkirakan akan terjadi pada dolar AS.
OIL
Harga minyak mentah masih bertahan di dekat level terendah lima tahun, mencerminkan proyeksi kelebihan pasokan yang besar pada tahun 2026. Saat ini, investor hanya membayar sekitar 55 dolar AS per barel untuk minyak WTI. Rilis data GDP dan PCE Amerika Serikat yang akan datang memungkinkan pasar untuk menilai kembali prospek permintaan minyak ke depan. Risiko utama, meskipun sulit diperkirakan, tetap berasal dari situasi di Venezuela. Kehadiran armada laut AS dalam jumlah besar di lepas pantainya, ancaman blokade maritim, serta pemberian bonus luar biasa bagi tentara mengindikasikan bahwa risiko konflik bersenjata tidak bisa diabaikan. Meskipun ekspor minyak Venezuela saat ini tidak dominan secara global, pecahnya konflik di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang tajam dan bersifat spekulatif. Perlu dicatat bahwa akibat kalender libur, data persediaan minyak mingguan AS untuk pekan ini baru akan dirilis pada 29 Desember.
Morning Wrap (13.02.2026)
Daily Summary: Silver Anjlok 9%, Wall Street Tertekan
Morning Wrap (12.02.2026)
Daily Summary: NFP Kuat Tunda Rate Cut The Fed