Dalam beberapa hari ke depan, perhatian investor akan beralih ke katalis yang berdampak langsung pada dolar AS, logam mulia, dan sentimen risiko global. Pasar global memantau pergerakan harga minyak mentah yang terus naik di tengah konsentrasi kekuatan angkatan laut AS di sekitar Iran. Perak tetap sensitif terhadap rilis data ekonomi AS, sementara pasar saham menghadapi ujian penting seiring perusahaan Big Tech besar—termasuk Alphabet, Amazon, dan AMD—bersiap merilis laporan keuangan. Pelaku pasar akan mencermati data makro untuk mencari petunjuk arah suku bunga dan kebijakan Federal Reserve ke depan. Pekan ini, fokus utama tertuju pada SILVER, US100, dan OIL.
SILVER
Perak mengalami tekanan jual yang sangat kuat setelah periode kenaikan euforia yang juga tercermin di pasar emas. Meski masih terdapat premi harga spot di Shanghai, gelombang koreksi kali ini berlangsung sangat agresif, dengan valuasi perak anjlok lebih dari 10% pada hari Jumat. Pendorong utama pelemahan ini adalah kebangkitan dolar AS, yang dipicu oleh penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya.
Secara praktis, pasar mulai mendiskon skenario kebijakan moneter yang lebih ketat, yang secara otomatis menguatkan USD dan imbal hasil obligasi AS—faktor yang secara tradisional menjadi hambatan bagi aset tanpa imbal hasil seperti logam mulia. Akibatnya, perak dan logam mulia lainnya kemungkinan tetap sangat volatil dalam jangka pendek, meskipun proyeksi struktural jangka panjang masih menunjukkan bias kenaikan.
Hari Senin akan diwarnai rilis data PMI Manufaktur dari ekonomi utama dunia. Pekan ini juga sarat dengan agenda bank sentral: Reserve Bank of Australia (RBA) bertemu pada hari Selasa, disusul oleh RPP Polandia pada hari Rabu, serta Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) yang menutup rangkaian pertemuan pada hari Kamis.
US100
Kontrak berjangka Nasdaq 100 kehilangan momentum pekan lalu setelah saham Microsoft anjlok 12% dan terjadi aksi jual luas di sektor software dan data. Kinerja perusahaan seperti ServiceNow, Salesforce, FactSet, dan Gartner menunjukkan bahwa investor mulai mengevaluasi ulang risiko yang ditimbulkan AI—bukan hanya terhadap belanja modal (CAPEX) hyperscaler, tetapi juga terhadap model bisnis dan prospek pertumbuhan industri SaaS (Software as a Service).
Pasar saat ini bergeser ke mode sementara “risk-off”, dengan saham teknologi kembali menjadi pusat tekanan jual. Ke depan, fokus utama tetap pada laporan keuangan perusahaan AS. Meski laporan Apple memberikan bantalan sentimen dan Meta Platforms mencatat hasil kuat, persepsi terhadap Big Tech secara keseluruhan masih rapuh. Selain itu, data US ISM Manufacturing pada hari Rabu dan laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada hari Jumat diperkirakan akan menjadi pemicu volatilitas utama.
OIL
Presiden AS Donald Trump tampak bertekad untuk mengakhiri program nuklir Iran secara tegas. Amerika Serikat telah memusatkan aset militer dalam jumlah besar di sekitar Iran, dengan dukungan Israel dan sekutu NATO Eropa. Skenario dasar yang dipertimbangkan pasar adalah serangan terbatas terhadap infrastruktur militer Iran untuk memaksa Teheran menandatangani “Nuclear Deal” baru.
Namun, terdapat risiko ekor (tail risk) bahwa eskalasi besar dapat lepas kendali dan mengguncang stabilitas kawasan secara luas. Skenario ini berpotensi memicu lonjakan vertikal harga minyak serta mengganggu jalur transportasi melalui Terusan Suez dan Selat Hormuz—titik tersibuk dan paling krusial bagi distribusi “emas hitam” dunia. Pasar memantau harga minyak Brent dengan kewaspadaan tinggi, karena saat ini berfungsi sebagai indikator utama risiko inflasi global.
Morning wrap: RBA Naikkan Suku Bunga (03.02.2026)
Daily Summary: Logam Mulia Tertekan, Pemerintah AS Kembali Shutdown 🔒
US Open: Amerika Menguat, Logam Mulia Tertekan!
US500 Rebound Usai Sell-off 📈 Analisis Musim Laporan Keuangan Wall Street 🗽