Sentimen di pasar saham global terus memburuk, dengan futures Nasdaq 100 (US100) memperpanjang sell-off untuk sesi kedua berturut-turut dan hampir menghapus seluruh kenaikan Oktober yang sebelumnya membawa kontrak tersebut ke all-time high pada 6 Oktober.
Tekanan jual terutama terkonsentrasi di sektor teknologi, dengan beberapa faktor yang tampaknya mendorong pelemahan tersebut.
-
Pertama, futures Brent crude telah naik sekitar 10% sejak awal bulan hingga mendekati US$105 per barel, sementara kondisi makro tetap menantang. Bond yield bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade, memberikan tekanan terhadap valuasi risk assets dan pasar kredit. Saham juga merespons perkembangan yang lebih spesifik di sektor teknologi.
-
Changxin Memory Technologies (CXMT) asal China dengan cepat meningkatkan market share di industri memory yang sebelumnya didominasi oleh SK Hynix, Samsung, dan Micron. CXMT kini diperkirakan menguasai sekitar 9–10% pasar DRAM dan disebut sedang mempersiapkan pengumuman mengenai kemajuan signifikan pada arsitektur chip-nya. Perkembangan ini menekan saham produsen memory utama karena kekhawatiran terhadap persaingan yang semakin ketat. Menambah tekanan, Elon Musk mengatakan bahwa ketika perusahaan China mulai memproduksi sesuatu dalam skala besar, mereka biasanya menjadi sangat kompetitif, seperti yang terlihat pada lithium-ion battery dan solar panel. Namun, CXMT sejauh ini belum memiliki posisi berarti di segmen HBM dengan margin tinggi, yang memasok advanced memory untuk sistem AI.
-
Sementara itu, CEO Broadcom Hock Tan, dalam sebuah konferensi di Singapura, mengatakan revenue tahunan OpenAI sebesar sekitar US$50 miliar memang menunjukkan keberadaan bisnis yang besar, tetapi belum banyak menjelaskan sustainability finansial jangka panjang selama perusahaan masih merugi dan terus menanggung biaya besar untuk memperluas AI model serta computing capacity. Pada saat yang sama, credit default swap (CDS) spreads Broadcom dan Nvidia dilaporkan mencapai rekor tertinggi setelah sempat turun pada paruh kedua September. Instrumen tersebut mencerminkan harga pasar untuk proteksi terhadap risiko gagal bayar dan dapat digunakan sebagai indikator perceived credit risk, tetapi tidak seharusnya dibaca sebagai probabilitas langsung terjadinya kegagalan bisnis.
-
CEO Broadcom juga menyoroti tantangan lain, yaitu financing, yang berpotensi menjadi bottleneck pengembangan AI yang lebih besar dibandingkan keterbatasan akses terhadap hardware. Hock Tan bahkan membandingkan sebagian perilaku di pasar AI dengan “investor di kasino”, komentar yang dibaca investor sebagai sinyal peringatan.
-
Dalam kondisi ini, investor juga semakin mengkhawatirkan ketersediaan listrik dan keterbatasan koneksi jaringan listrik di AS. Namun, jika dilihat lebih dekat, pelemahan saham yang berkaitan dengan semikonduktor dapat sebagian diimbangi oleh sikap yang sedikit lebih positif terhadap perusahaan software. Saham software berpotensi mendapat keuntungan bukan hanya dari rotasi modal tetapi juga dari kemungkinan turunnya biaya infrastruktur AI.
-
Dua barometer utama industri semikonduktor, ASML dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), akan merilis earnings kuartalan pekan ini dan berpotensi menjadi tes penting bagi AI-driven demand di tengah sell-off teknologi. ASML akan melaporkan hasil pada Rabu, 14 Oktober, disusul TSMC pada Kamis, 15 Oktober. Meski sentimen pasar melemah, analis masih memperkirakan pertumbuhan earnings yang kuat. EPS kuartalan ASML diproyeksikan naik sekitar 89% YoY dan revenue sekitar 51%, sementara TSMC diperkirakan mencatat pertumbuhan EPS sekitar 55% dan revenue sekitar 41%. Kedua perusahaan berhasil melampaui ekspektasi earnings dalam empat kuartal terakhir. Namun, investor kemungkinan akan lebih fokus pada order book, tren capital expenditure, dan forward guidance untuk menilai apakah siklus investasi infrastruktur AI masih berkelanjutan.
Earnings season AS juga resmi dimulai hari ini dengan laporan dari sejumlah bank besar, termasuk JPMorgan, Wells Fargo, dan Goldman Sachs.
Dalam beberapa pekan ke depan, investor akan menilai apakah pertumbuhan laba perusahaan masih cukup kuat untuk membenarkan eksposur terhadap saham, terutama ketika Treasury yield yang tinggi membuat obligasi pemerintah semakin kompetitif sebagai alternatif investasi.
Kalender Ekonomi: Earnings Bank AS dan CPI Jadi Fokus Pasar
Market Wrap: Kospi Anjlok 7%, AI dan Oil Tekan Pasar
Kalender Ekonomi: Agenda The Fed Pekan Ini
Market Wrap: Wall Street Menguat Jelang Rilis Inflasi CPI AS
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.