15.47 · 28 Oktober 2026

WTI Tahan US$100, Siap Melonjak Lagi?

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$101,6 per barel setelah data awal American Petroleum Institute (API) mengindikasikan persediaan minyak mentah AS turun 2,03 juta barel, berlawanan dengan konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan stok (inventory build).

Yang lebih menarik, persediaan minyak di Cushing, Oklahoma, yang merupakan pusat penyerahan fisik kontrak berjangka WTI, diperkirakan turun sekitar 453 ribu barel. Penurunan ini berpotensi mengakhiri tren kenaikan persediaan selama lima minggu berturut-turut.

Pertanyaan utama bagi trader minyak menjelang rilis data resmi malam ini adalah apakah penumpukan stok di Cushing benar-benar mulai berbalik, sehingga membuka peluang harga WTI mengejar penguatan minyak Brent dan mempersempit selisih harga keduanya.

Cushing: Dari Beban Menjadi Potensi Katalis Harga Minyak WTI

Selama lima minggu hingga 16 Oktober, persediaan minyak mentah di Cushing melonjak dari sekitar 21,5 juta menjadi 27,6 juta barel. Kenaikan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi fundamental pasar WTI terlihat lebih longgar dibandingkan Brent.

Penumpukan stok ini juga menjadi alasan utama mengapa selisih harga Brent-WTI (Brent-WTI spread) sempat melebar signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Namun, data API terbaru memberikan indikasi awal bahwa tren tersebut mungkin mulai berbalik.

Berikut rincian perubahan persediaan minyak berdasarkan data awal API:

  • Persediaan minyak mentah AS: Turun sekitar 2,03 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan stok.

  • Persediaan Cushing: Turun sekitar 453 ribu barel, memberikan sinyal awal berkurangnya penumpukan minyak di pusat penyerahan WTI.

  • Persediaan bensin (gasoline): Naik sekitar 2,39 juta barel, memunculkan kekhawatiran terhadap kekuatan permintaan bahan bakar.

  • Persediaan distilat (distillate): Naik sekitar 380 ribu barel, menunjukkan peningkatan stok produk minyak olahan lainnya.

Kombinasi data tersebut belum sepenuhnya bullish bagi harga minyak WTI.

Di satu sisi, penurunan stok minyak mentah mengindikasikan pasokan mulai mengetat pada sektor hulu (upstream). Namun, peningkatan persediaan bensin dan distilat menunjukkan bahwa produk minyak olahan justru mengalami penumpukan di sektor hilir (downstream).

Dengan demikian, pasar menghadapi situasi ketika pasokan minyak mentah mengetat, tetapi permintaan produk akhir masih menimbulkan pertanyaan.

Tiga Skenario Data EIA Malam Ini

Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan merilis Weekly Petroleum Status Report pukul 21.30 WIB, dengan konsensus pasar memperkirakan kenaikan persediaan minyak mentah nasional sekitar 800 ribu barel. Artinya, apabila data resmi EIA mengonfirmasi penurunan stok seperti yang dilaporkan API, hasil tersebut akan menjadi kejutan positif dibandingkan ekspektasi pasar.

Terdapat tiga skenario utama yang perlu diperhatikan trader WTI:

  1. Skenario 1 — Stok crude dan Cushing sama-sama turun (bullish): Penurunan persediaan minyak mentah nasional yang disertai penurunan stok Cushing menjadi kombinasi paling mendukung kenaikan WTI. Kondisi ini akan mengonfirmasi bahwa pasar fisik minyak AS mulai mengetat dan berpotensi mempersempit diskon harga WTI terhadap Brent.
  2. Skenario 2 — Stok crude turun, tetapi gasoline dan distillate naik tajam (mixed): Penurunan stok minyak mentah memberikan sinyal positif, tetapi kenaikan besar persediaan produk olahan dapat membatasi penguatan WTI. Investor akan mempertanyakan keberlanjutan permintaan bahan bakar dan prospek margin kilang minyak (refinery margins).
  3. Skenario 3 — Persediaan Cushing kembali naik (bearish): Jika stok Cushing kembali meningkat, tekanan terhadap WTI berpotensi muncul lagi karena semakin banyak minyak tersimpan di pusat penyerahan kontrak berjangka. Situasi ini dapat membuat harga WTI kembali tertinggal dibandingkan Brent.

Analisis Teknikal WTI 1H dan Dua Katalis Berikutnya

Sumber: xStation

Pada grafik time frame 1 jam (1H), harga minyak WTI berada di sekitar US$101,61 per barel setelah berhasil keluar dari pola kanal menurun (descending channel) yang mendominasi pergerakan sejak mencapai swing high US$103,89 pada 24 Oktober.

Harga kini bergerak di atas garis tengah Bollinger Bands (BB median) pada US$100,72, serta berada di sekitar area Fibonacci retracement 38,2% pada US$100,58 yang berperan sebagai support dinamis.

Indikator teknikal menunjukkan momentum kenaikan jangka pendek masih terjaga:

  • RSI (14): 58,21, mengindikasikan momentum beli masih dominan tanpa memasuki wilayah overbought.

  • MACD: +0,13, menunjukkan bias pergerakan harga masih positif.

  • Histogram MACD: +0,16, mendukung indikasi momentum bullish jangka pendek.

  • Bollinger Bands median: US$100,72, menjadi acuan support dinamis terdekat.

Skenario bullish: Apabila data EIA mengonfirmasi penurunan stok minyak mentah nasional sekaligus penurunan persediaan Cushing, harga WTI berpeluang menguji resistance US$102. Penembusan di atas area tersebut dapat membuka jalan menuju US$103,89.

Skenario bearish: Jika data EIA mengecewakan, WTI berisiko kembali menguji support US$100,58, diikuti US$99,55 dan US$98,53 apabila tekanan jual berlanjut.

Dua Katalis Lanjutan: FOMC dan OPEC+

Selain data persediaan EIA, terdapat dua agenda penting yang dapat memengaruhi pergerakan harga minyak WTI dalam beberapa hari mendatang:

  • Keputusan FOMC malam ini: Kebijakan Federal Reserve dapat memengaruhi WTI secara tidak langsung melalui pergerakan dolar AS dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global. Sikap The Fed yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap permintaan minyak dunia.
  • Pertemuan OPEC+ pada 1 November: Agenda ini menjadi risiko peristiwa (event risk) berikutnya bagi pasar minyak. Sebelumnya, kelompok tujuh negara OPEC+ mempertahankan tingkat produksi November pada level September dan dijadwalkan kembali mengevaluasi kondisi pasar dalam pertemuan mendatang.

Dengan demikian, fokus trader minyak minggu ini tidak hanya tertuju pada angka utama persediaan EIA, tetapi juga pada interaksi tiga faktor penting: stok Cushing, arah dolar AS, dan kebijakan produksi OPEC+.

Apabila ketiganya bergerak mendukung pengetatan pasokan dan penguatan permintaan, peluang kenaikan harga WTI dapat semakin terbuka. Sebaliknya, apabila sinyal yang muncul saling bertentangan, pergerakan minyak WTI berpotensi tetap terbatas meskipun harga bertahan di atas US$100 per barel.

28 Oktober 2026, 11.30

Emas Bisa Rally Usai FOMC Malam Ini?

28 Oktober 2026, 02.00

Daily Summary: Nasdaq Reli 1%, Saham AI Bangkit Jelang Fed

27 Oktober 2026, 15.07

Emas Jebol US$4.000, Perak Anjlok 2%!

27 Oktober 2026, 12.34

Market Wrap: Nasdaq Melonjak, IPO Anthropic Picu Reli Saham AI

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.