21.45 · 25 September 2026

Yield AS Tembus 5,22%, TNOTE Kembali Tertekan

Selloff di pasar US Treasury semakin dalam, mendorong yield ke level tertinggi dalam hampir dua dekade dan menekan futures Treasury 10 tahun AS, TNOTE, secara tajam.

Tekanan awal datang dari kenaikan harga minyak yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi yang persisten dan kemungkinan The Fed harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin hari ini menjadi 5,22%, mencapai level tersebut untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade.

Sementara itu, yield Treasury tenor 5 tahun naik menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007.

  • Sentimen pasar obligasi semakin tertekan setelah data ekonomi AS September kembali lebih kuat dari ekspektasi. Preliminary Manufacturing dan Services PMI mencapai level terkuat sejak 2021, mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat dan memperkuat pandangan bahwa ekonomi masih cukup resilient untuk menghadapi suku bunga tinggi.
  • Faktor lain yang mendorong yield adalah hasil lelang Treasury tenor 5 tahun yang relatif lemah. Permintaan yang lebih rendah menunjukkan investor meminta premium lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah di tengah inflasi yang tetap tinggi, suplai obligasi besar, dan ketidakpastian jalur suku bunga.

Akibatnya, pasar saat ini menghadapi kombinasi harga energi tinggi, data makroekonomi yang solid, dan permintaan obligasi pemerintah yang melemah.

Kombinasi tersebut terus mendorong yield lebih tinggi, meningkatkan biaya pembiayaan di seluruh ekonomi, dan menciptakan tekanan yang semakin besar pada aset sensitif terhadap suku bunga, termasuk saham growth.

Yield 10 Tahun Kembali ke Level yang Tak Terlihat Sejak 2007

Tekanan pada pasar obligasi AS berlanjut untuk sesi berikutnya.

Yield Treasury AS tenor 10 tahun sebelumnya sudah naik ke sekitar 5,19% pada Kamis, mencapai level penutupan tertinggi sejak Juli 2007.

Pendorong utamanya masih sama:

  • perang dengan Iran;
  • harga energi tinggi;
  • dan risiko inflasi yang tetap bertahan.

Harga diesel di AS berada di sekitar US$6,50 per galon, sementara regular gasoline mendekati US$4,50 per galon.

Kondisi ini menambah tekanan biaya di seluruh ekonomi dan memperkuat ekspektasi terhadap pengetatan moneter lanjutan.

Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada dua pertemuan berikutnya.

Tekanan tambahan juga datang dari memburuknya posisi fiskal AS serta meningkatnya kompetisi terhadap modal akibat investasi terkait AI.

Berapa Lama Pasar Saham Bisa Mengabaikan Yield Tinggi?

Meski biaya modal melonjak tajam, S&P 500 masih berada sekitar 1% di bawah all-time high.

Hal ini menunjukkan bahwa investor masih lebih fokus pada prospek pertumbuhan laba perusahaan.

JPMorgan mencatat bahwa hubungan historis antara yield Treasury 10 tahun dan valuasi S&P 500 menyerupai bentuk “U terbalik”.

Dalam periode ketika pertumbuhan EPS sangat kuat, pasar saham masih dapat mentoleransi yield sekitar 5% tanpa langsung mengalami compression pada valuation multiple.

Karena itu, ekspektasi earnings tetap menjadi faktor utama.

Konsensus Wall Street saat ini memperkirakan pertumbuhan EPS perusahaan S&P 500 sekitar 29% YoY pada kuartal ketiga.

Selama ekspektasi tersebut tetap kuat, pasar saham masih dapat menyerap sebagian tekanan dari kenaikan yield.

Namun jika biaya pembiayaan terus meningkat, risiko bahwa valuasi saat ini semakin sulit dipertahankan juga akan naik.

 

25 September 2026, 20.57

US Open: Wall Street Naik, Synopsys Melesat Usai Re-rating

25 September 2026, 14.29

Kalender Ekonomi: Trump-Xi Tanpa Terobosan

25 September 2026, 13.17

Market Wrap: Minyak Koreksi, Yield AS Turun

25 September 2026, 01.02

Daily Summary: Yield Melonjak, Pasar Diguncang Iran dan Trump-Xi

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.