17.14 · 4 September 2026

Adobe Ganti CEO di Tengah Tekanan AI, Apa yang Bisa Berubah?

Adobe Ganti Kapten di Tengah Badai AI. Tapi Apa Bedanya?

Anil Chakravarthy ditunjuk sebagai CEO baru Adobe efektif Desember 2026. Namun, pertanyaan terbesar bagi investor bukan sekadar siapa yang mengisi posisi tersebut, melainkan apakah pergantian kepemimpinan bisa membantu Adobe menghadapi tekanan AI yang semakin agresif.

Pilihan yang Mengejutkan

Adobe menunjuk Anil Chakravarthy sebagai President & CEO baru mulai 1 Desember 2026, menggantikan Shantanu Narayen yang telah memimpin perusahaan selama 18 tahun. Keputusan ini cukup mengejutkan karena banyak pihak sebelumnya memperkirakan David Wadhwani, kepala divisi Creative & Productivity yang mengelola sekitar tiga perempat revenue Adobe, akan menjadi penerus Narayen.

Jefferies bahkan langsung menerbitkan catatan berjudul “New ADBE CEO Not Who Many Expected.” Tak lama setelah pengumuman tersebut, Wadhwani memutuskan mengundurkan diri, menambah daftar eksekutif senior Adobe yang hengkang setelah CFO Dan Durn keluar pada Juni lalu.

Chakravarthy sendiri tidak berasal dari latar belakang industri kreatif. Ia bergabung dengan Adobe pada 2020 untuk memimpin divisi Digital Experience, yang kini dikenal sebagai Customer Experience Orchestration, sekaligus menangani worldwide field operations. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai CEO Informatica, perusahaan yang bergerak di bidang enterprise data management.

Pilihan ini memberikan sinyal yang cukup jelas mengenai arah Adobe. Board perusahaan tampaknya melihat bahwa persaingan utama ke depan bukan semata-mata soal siapa yang memiliki software editing terbaik, tetapi siapa yang mampu memenangkan belanja enterprise ketika AI semakin terintegrasi ke dalam workflow perusahaan.

Agentic Software: Taruhan atau Jargon?

Salah satu istilah utama yang dibawa Chakravarthy adalah “agentic software”. Konsepnya adalah bahwa masa depan AI tidak hanya terbatas pada teknologi yang mampu menghasilkan gambar, video, atau teks, tetapi juga AI agents yang dapat menjalankan keseluruhan workflow kreatif dan pemasaran secara lebih otomatis.

Adobe sudah memiliki Firefly sebagai salah satu fondasi utama strategi AI perusahaan. Salah satu keunggulan Firefly adalah modelnya yang dikembangkan menggunakan konten berlisensi, sehingga menawarkan tingkat keamanan hukum yang lebih menarik bagi perusahaan besar yang sensitif terhadap persoalan hak cipta.

Namun, keunggulan dari sisi legal saja belum tentu cukup. Dalam industri AI yang berkembang sangat cepat, Adobe tetap harus memastikan produknya mampu berinovasi dengan kecepatan yang setara atau bahkan lebih tinggi dibandingkan kompetitor.

Tekanan kompetitif kini datang dari berbagai arah. OpenAI memiliki Sora, Midjourney dan Runway terus memperbarui teknologi generatif mereka, sementara Canva semakin agresif memperluas penetrasi di segmen pengguna nonprofesional. Di sisi lain, Figma yang telah melantai di bursa juga semakin memperkuat posisinya sebagai alternatif serius dalam kolaborasi desain.

Pertanyaan berikutnya adalah soal monetisasi. Adobe menggunakan sistem generative credits untuk membatasi sekaligus memonetisasi penggunaan fitur AI, tetapi dampak ekonominya masih belum sepenuhnya jelas.

Investor perlu melihat apakah penggunaan AI benar-benar mampu meningkatkan average revenue per user atau ARPU, atau justru membuat pelanggan merasa nilai subscription yang sudah mereka bayar menjadi semakin terdilusi karena fitur tambahan membutuhkan kredit terpisah.

Tekanan tersebut sudah tercermin pada harga saham Adobe. Saham ADBE telah turun sekitar 52% sejak awal 2024, menunjukkan bahwa pasar masih belum sepenuhnya yakin perusahaan memiliki strategi AI yang cukup kuat untuk mempertahankan dominasi jangka panjangnya.

Laporan keuangan Q3 FY2026 yang dijadwalkan pada 10 September akan menjadi salah satu ujian penting berikutnya. Pergantian CEO di tengah perubahan besar industri tidak otomatis mengubah posisi kompetitif perusahaan.

Bagi Chakravarthy, tantangannya bukan hanya menciptakan narasi baru untuk Adobe. Ia harus menunjukkan bahwa strategi agentic software, Firefly, dan ekspansi enterprise dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan revenue, monetisasi AI yang lebih jelas, dan pada akhirnya pemulihan kepercayaan investor terhadap saham ADBE.

4 September 2026, 13.51

Market Wrap: Wall Street Menguat, Pasar Menanti Data NFP

4 September 2026, 09.08

Daily Summary: Yield Treasury Turun, Saham Teknologi Wall Street Kembali Menguat

3 September 2026, 22.29

US Open: The Fed Terbelah Jelang September, Wall Street Kembali Menguat

3 September 2026, 17.12

Broadcom Tumbuh 86%, Tapi Pasar Masih Mengharapkan Lebih

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.