Prediksi Utama
- Perkiraan Pendapatan Q3 FY25: $89,1–$89,3 miliar (+3,7–4,2% YoY)
- EPS: $1,42–$1,43 (+1,4% YoY)
- Pendapatan iPhone: $40,1–$40,6 miliar (+2,2–3,3% YoY)
- Pendapatan Layanan: $26,9–$27,0 miliar (+10,7–11,3% YoY)
- Margin Kotor: 45,5–46,5% (vs. 47,1% di Q2)
- Dampak Tarif: -$900 juta\
- Performa Saham Tahun Ini: penurunan 13% hingga 20%
Tantangan Utama: Tarif dan Masalah Rantai Pasokan
Apple berada di pusat sengketa tarif pemerintahan Trump. Presiden mengancam akan memberlakukan tarif 25% pada iPhone yang tidak diproduksi di AS, yang dapat menaikkan harga konsumen hingga $3.500. Produksi domestik akan menghambat penjualan di AS karena biaya yang sangat tinggi. Selain itu, daya saing produk Apple telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, dengan para pesaing kini menandingi atau melampaui perusahaan ini di pasar smartphone.
Sebagai respons terhadap risiko tarif, Apple mempercepat relokasi produksi dari Tiongkok ke India, yang saat ini memproduksi sekitar 20% iPhone. Strategi perusahaan adalah agar sebagian besar iPhone yang dijual di AS diproduksi di India pada akhir 2026. Ini merupakan target ambisius, mengingat biaya produksi di India 5–10% lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok karena harga komponen lebih mahal dan efisiensi pabrik lebih rendah. Selain itu, Tiongkok memberlakukan pembatasan perjalanan untuk para insinyur, sehingga transfer keahlian teknis menjadi lebih sulit.
Secara paradoks, relokasi ini mungkin tidak sepenuhnya mengurangi risiko. Donald Trump juga mengumumkan potensi tarif 25% untuk India. Namun, hal ini kemungkinan besar tidak akan mengubah rencana Apple. Perusahaan ini sudah mengandalkan India untuk lebih dari 70% pasokan iPhone ke pasar AS. Para ahli juga menyebutkan bahwa sebagian besar penjualan ponsel di AS dilakukan melalui paket langganan operator, sehingga kenaikan harga karena tarif hanya akan menambah sedikit biaya bulanan bagi konsumen. Diversifikasi produksi masih dianggap lebih efektif dan efisien dibanding memulai produksi di AS.
Tertinggal dalam Strategi AI
Apple tertinggal jauh dibanding para pesaingnya dalam perlombaan kecerdasan buatan. Saat Microsoft, Google, dan Meta menginvestasikan puluhan miliar dolar dalam infrastruktur AI, Apple hanya mengalokasikan $12 miliar per tahun untuk belanja modal (Capex), dibandingkan $80+ miliar dari para pesaingnya. Layanan Apple Intelligence yang dinanti-nantikan masih belum tersedia sepenuhnya, dan pembaruan utama Siri ditunda hingga 2026.
Perusahaan juga kehilangan talenta AI ke pesaing seperti Meta dan OpenAI. Pendekatan Apple yang berfokus pada privasi membatasi pengembangan solusi AI berbasis cloud, sementara para pesaing membangun pusat data canggih dengan chip Nvidia.
Transformasi Menjadi Perusahaan Layanan
Aspek positif yang menonjol adalah pertumbuhan dinamis dari segmen Layanan, yang kini menjadi pendorong utama ekspansi margin. Pendapatan layanan melonjak dari $53,77 miliar pada 2020 menjadi $96,17 miliar pada 2024, dengan CAGR sebesar 12,3%. Segmen ini kini menyumbang sekitar 21% dari total pendapatan dan menawarkan margin lebih tinggi dibandingkan penjualan perangkat keras.
Apple telah melampaui satu miliar langganan berbayar dalam ekosistem layanannya, dan pendapatan App Store per unduhan hampir dua kali lipat menjadi $0,98. Tren ini membantu perusahaan mempertahankan margin kotor yang tinggi meskipun terjadi penurunan penjualan iPhone.
Prospek dan Risiko
Analis memperkirakan kuartal yang “solid,” didorong oleh permintaan iPhone di Tiongkok dan pembelian sebelum tarif diberlakukan. Namun, prospek jangka panjang menimbulkan kekhawatiran. Kurangnya strategi AI yang jelas dan valuasi tinggi (P/E mendekati 40) di tengah pertumbuhan rendah menunjukkan bahwa saham Apple rentan terkoreksi, bahkan setelah penurunan YTD sebesar 13% dan penurunan satu tahun sekitar 4%.
Diperkirakan Apple memiliki waktu sekitar 1,5 tahun untuk menyampaikan strategi AI yang meyakinkan sebelum berdampak negatif pada penjualan iPhone. Sementara itu, OpenAI sedang mengembangkan perangkat keras sendiri bekerja sama dengan mantan desainer Apple, Jony Ive, yang meningkatkan tekanan persaingan.
Apple tetap menjadi perusahaan paling bernilai ketiga di dunia dengan kapitalisasi pasar sebesar $3,2 triliun, tetapi dominasinya di segmen premium dapat terancam oleh persaingan di bidang AI dan ketegangan perdagangan global.
Sejak Mei, saham Apple bergerak dalam pola konsolidasi, berbeda dengan pasar secara umum yang tidak hanya pulih tetapi mencetak rekor tertinggi baru hampir setiap hari.
Sumber: xStation5
SAP turun 4% meski rekomendasi positif dari Bernstein 📉
Rekor terbaru Micron
Ryanair di level terendah 5 bulan 🚩 Lonjakan harga jet fuel menekan industri penerbangan
Wall Street tahan Sell-off, Alibaba anjlok 7% 🚩