16.12 · 27 Juli 2026

Arus Dana ETF Tembus Rekor Baru

Arus Dana ETF Tembus Rekor meski Risiko Pasar Meningkat

Semester pertama 2026 seharusnya menjadi periode yang membuat investor lebih berhati-hati. Konflik geopolitik di Timur Tengah sempat memicu aksi jual tajam pada Maret, harga minyak melonjak, dan valuasi saham teknologi menghadapi tekanan akibat ketidakpastian suku bunga. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Investor tidak keluar dari pasar, melainkan menambah eksposur secara lebih agresif.

ETF yang terdaftar di bursa Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih lebih dari USD 1 triliun selama semester pertama tahun ini. Angka tersebut menjadi rekor tercepat sepanjang sejarah industri ETF. Nilainya meningkat 86% dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan hampir dua kali lipat dari rekor semester pertama sebelumnya. Apabila tren tersebut berlanjut, State Street memperkirakan total arus masuk ETF sepanjang 2026 dapat mencapai USD 2,3 triliun. Proyeksi ini jauh melampaui rekor 2025 sebesar USD 1,5 triliun.

Ke Mana Arus Dana ETF Mengalir?

Data dari iShares milik BlackRock dan State Street memperlihatkan gambaran yang lebih menarik daripada sekadar nilai total arus masuk. ETF ekuitas memimpin dengan arus dana sekitar USD 680 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, ETF obligasi menyerap sekitar USD 292 miliar ketika investor berusaha menyeimbangkan antara mengejar imbal hasil dan melindungi portofolio dari risiko pasar. ETF aktif juga mencatatkan arus masuk terbaik sepanjang sejarah pada semester pertama 2026. Berbeda dari ETF pasif yang hanya mengikuti indeks, ETF aktif dikelola berdasarkan keputusan manajer investasi. Kategori ini menarik arus masuk sekitar USD 350 miliar atau setara 39% dari seluruh arus dana ETF.

ETF emerging market juga mencatat pertumbuhan kuat. Arus masuk sepanjang tahun telah mencapai lebih dari USD 38 miliar, melampaui total arus dana sepanjang 2025 yang sebesar USD 35 miliar hanya dalam waktu enam bulan. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak sekadar membeli indeks secara acak. Mereka mempertahankan eksposur terhadap aset pertumbuhan, tetapi pada saat yang sama menambah diversifikasi dan perlindungan portofolio.

Kategori ETF berbiaya rendah dan ETF aktif dapat tumpang tindih dengan kategori ekuitas atau obligasi. Sumber: State Street dan laporan iShares semester I 2026, XTB Research Indonesia.

Satu data penting yang sering terlewat adalah perubahan distribusi arus dana ETF ekuitas. Dari seluruh arus dana ETF saham tahun ini, sekitar 68% mengalir ke produk berbasis Amerika Serikat, turun dari 73% pada 2025. Sisa 32% mengalir ke saham internasional dan emerging market. Proporsi tersebut jauh lebih besar dibandingkan bobot aset non-AS dalam portofolio global yang hanya sekitar 20%.

Dengan kata lain, investor secara tidak langsung mengambil posisi overweight terhadap pasar di luar Amerika Serikat. Pergerakan ini bukan menunjukkan kepanikan, melainkan proses rebalancing. Investor tetap mempertahankan eksposur terhadap saham AS sebagai mesin pertumbuhan global, sambil secara proaktif mengurangi risiko konsentrasi pada satu wilayah.

Apakah SPY dan QQQ Masih Menjadi Fondasi Portofolio?

Di tengah diversifikasi yang semakin luas, ETF inti seperti SPY yang mengikuti S&P 500 dan QQQ yang mengikuti Nasdaq 100 tetap menjadi pilar utama portofolio investor. SPY dan QQQ secara konsisten masuk dalam daftar ETF dengan arus masuk harian terbesar sepanjang 2026. Pada hari-hari tertentu, QQQ dapat menyerap arus masuk lebih dari USD 3 miliar dalam satu sesi perdagangan. Sementara itu, SPY mencatatkan arus masuk mingguan sekitar USD 5 miliar hingga USD 17 miliar pada periode-periode puncaknya. Dari sisi kinerja, QQQ memimpin dengan return year-to-date sekitar 12%–15%. Kenaikan tersebut didukung rally saham AI dan semikonduktor yang memiliki bobot besar dalam indeks Nasdaq 100. SPY memberikan return year-to-date yang lebih moderat, sekitar 9%, karena memiliki diversifikasi sektor yang lebih luas.

Perbedaan antara SPY dan QQQ bukan sekadar menentukan ETF mana yang lebih baik. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda dalam portofolio. SPY memberikan eksposur ke 11 sektor ekonomi AS, termasuk kesehatan, keuangan, energi, dan barang konsumsi pokok. Diversifikasi tersebut memberikan stabilitas relatif ketika terjadi rotasi sektor di pasar.

Sebaliknya, QQQ memiliki konsentrasi yang lebih besar pada saham teknologi dan AI. Sekitar 52% bobot QQQ berasal dari sektor teknologi informasi, membuat pergerakannya lebih sensitif terhadap saham-saham pertumbuhan besar. Dalam konteks pasar 2026, investor masih menginginkan eksposur terhadap pertumbuhan AI, tetapi juga semakin waspada terhadap volatilitas dan valuasi. Karena itu, kombinasi SPY dan QQQ semakin banyak digunakan sebagai bagian dari strategi portofolio. QQQ dapat berfungsi sebagai mesin pertumbuhan, sedangkan SPY menjadi penopang stabilitas melalui diversifikasi sektoral yang lebih luas.

​​​​​​​

Data per minggu ketiga Juli 2026. Sumber: XTB Research Indonesia

Bagaimana Kerangka Berpikir Investor Berubah?

Pergerakan arus dana pada semester pertama 2026 bukan hanya cerita tentang uang yang masuk ke pasar. Tren tersebut mencerminkan perubahan cara investor mengelola risiko. Alih-alih hanya memilih antara masuk atau keluar dari pasar, semakin banyak investor menggunakan ETF sebagai building block untuk membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi dan tangguh.

Arus dana ke obligasi, emerging market, dan strategi aktif terjadi bersamaan dengan tetap kuatnya arus dana menuju ETF saham AS. Hal ini menunjukkan bahwa investor tidak sepenuhnya meninggalkan aset berisiko. Mereka justru menyesuaikan komposisi portofolio agar tetap memperoleh eksposur pertumbuhan sekaligus mengurangi risiko konsentrasi. Survei iShares mencatat bahwa menjelang kuartal III 2026, sekitar 44% investor masih bersikap bullish, sementara hanya 14% yang bearish.

Namun, optimisme tersebut lebih terukur dibandingkan awal tahun. Kondisi ini bukan sekadar euforia pasar. Investor tetap melihat potensi pertumbuhan, tetapi semakin menyadari risiko geopolitik, inflasi, suku bunga, dan valuasi saham teknologi. ETF seperti SPY dan QQQ memungkinkan pendekatan tersebut diterapkan dengan lebih praktis dan efisien.

Investor dapat mempertahankan eksposur terhadap saham AS, menambah diversifikasi melalui pasar internasional dan obligasi, serta menyesuaikan tingkat risiko tanpa harus memilih saham individual satu per satu.

27 Juli 2026, 15.10

Micron Hadapi Persaingan Ketat di Pasar DRAM

27 Juli 2026, 13.58

Kalender Ekonomi: Bursa Global Rebound, Minyak Turun Tajam

27 Juli 2026, 12.28

Market Wrap: Gencatan Senjata Dorong Risk-On Global

25 Juli 2026, 00.55

Daily Summary: Dow Menguat, Saham Chip Masih Tertekan

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.