- CVS dan Disney sama-sama melampaui estimasi EPS, tetapi saham keduanya mendapat reaksi pasar yang berbeda.
- Western Digital mencatat pertumbuhan kuat dan guidance di atas konsensus, namun saham tetap turun akibat ekspektasi tinggi.
- Alphabet tertekan setelah Jeff Dean meninggalkan Google untuk mendirikan startup AI baru.
- Investor kini tidak hanya menilai earnings beat, tetapi juga margin, guidance, valuasi, dan kualitas eksekusi.
- Persaingan merebut talenta AI menjadi risiko yang semakin penting bagi perusahaan teknologi besar.
- CVS dan Disney sama-sama melampaui estimasi EPS, tetapi saham keduanya mendapat reaksi pasar yang berbeda.
- Western Digital mencatat pertumbuhan kuat dan guidance di atas konsensus, namun saham tetap turun akibat ekspektasi tinggi.
- Alphabet tertekan setelah Jeff Dean meninggalkan Google untuk mendirikan startup AI baru.
- Investor kini tidak hanya menilai earnings beat, tetapi juga margin, guidance, valuasi, dan kualitas eksekusi.
- Persaingan merebut talenta AI menjadi risiko yang semakin penting bagi perusahaan teknologi besar.
Pekan pertama Agustus 2026 menghadirkan hasil yang beragam. CVS dan Disney mencatat laba di atas ekspektasi, Western Digital tetap tertekan meski mencetak beat, sementara Alphabet menghadapi perombakan besar di divisi AI.
CVS Health dan Disney: Laba Kuat, Reaksi Pasar Kontras
-
CVS Health mencatatkan kuartal yang sangat solid dengan laba per saham atau EPS sebesar US$2,58, jauh melampaui estimasi analis sebesar US$1,83. Pendapatan tumbuh 7,3% secara tahunan menjadi US$106,1 miliar, juga berada di atas konsensus sebesar US$100,03 miliar. Hal yang lebih penting, perusahaan menaikkan proyeksi EPS setahun penuh menjadi US$7,90–US$8,10. Angka tersebut meningkat signifikan dari guidance sebelumnya sebesar US$7,30–US$7,50. CVS juga mengumumkan bahwa MinuteClinic akan mulai menawarkan layanan resep obat penurun berat badan seharga US$29, termasuk Wegovy dari Novo Nordisk dan Zepbound dari Eli Lilly. Menariknya, meskipun saham CVS sempat naik sekitar 5% dalam perdagangan pra-pasar, tekanan jual muncul sepanjang sesi. Saham akhirnya ditutup turun sekitar 6,7% pada hari laporan.
-
Walt Disney juga mencatatkan kuartal yang positif dengan EPS kuartal III tahun fiskal 2026 sebesar US$2,06. Hasil tersebut melampaui estimasi US$1,86. Pendapatan tercatat sebesar US$25,25 miliar, naik 7% secara tahunan, meskipun sedikit di bawah konsensus US$25,43 miliar. Laba operasional segmen melonjak 21% menjadi US$5,6 miliar. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh segmen Experiences yang naik 20% menjadi US$3,0 miliar dan Entertainment yang melonjak 64% menjadi US$1,7 miliar. Satu-satunya titik lemah berasal dari segmen Sports yang turun 17% menjadi US$858 juta. Disney juga menaikkan target pembelian kembali saham untuk tahun fiskal 2026 menjadi minimal US$9 miliar. Perusahaan sekaligus menegaskan guidance pertumbuhan EPS dua digit untuk tahun fiskal 2027. Berbeda dengan CVS, pasar merespons positif laporan Disney. Saham perusahaan naik sekitar 3,7% pada hari publikasi hasil.

Sumber: XTB Research Indonesia
Western Digital dan Alphabet: Sinyal Campuran dari Sektor Teknologi
-
Western Digital menutup tahun fiskal 2026 dengan kinerja yang solid. EPS kuartal IV tercatat sebesar US$3,56, melampaui estimasi US$3,29. Pendapatan tumbuh 44% secara tahunan menjadi US$3,75 miliar. Untuk setahun penuh, pendapatan Western Digital mencapai US$12,92 miliar atau naik 36%. EPS non-GAAP juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$10,22 dari US$5,02 pada tahun sebelumnya. Guidance kuartal I tahun fiskal 2027 turut berada di atas konsensus. Perusahaan memproyeksikan EPS sebesar US$3,85–US$4,15, dibandingkan estimasi pasar US$3,77. Pendapatan diperkirakan berada di kisaran US$4,0–US$4,2 miliar. Namun, meskipun hampir seluruh metrik melampaui estimasi, saham justru turun sekitar 5%–8% setelah laporan dirilis. Reaksi tersebut mencerminkan ekspektasi pasar yang sudah sangat tinggi serta aksi ambil untung setelah reli panjang sepanjang tahun.
-
Sementara itu, Alphabet menghadapi tekanan dari arah yang berbeda. Saham induk Google turun hingga 5,4% setelah Jeff Dean, karyawan ke-30 Google yang bergabung sejak 1999 dan salah satu pendiri Google Brain, mengumumkan kepergiannya untuk membangun startup AI bernama Discovery Loop. Bersama Sanjay Ghemawat, Oriol Vinyals, dan Quoc Le, Dean akan mengembangkan infrastruktur yang dirancang untuk mengotomatisasi eksperimen sains dan rekayasa yang kompleks. Alphabet menjadi salah satu investor awal dalam perusahaan tersebut bersama Radical Ventures dan Khosla Ventures. Kepergian Dean menambah daftar talenta AI terkemuka yang meninggalkan Google dalam beberapa waktu terakhir. Nama lain yang disebut mencakup Noam Shazeer yang pindah ke OpenAI dan John Jumper yang bergabung dengan Anthropic. Bersamaan dengan perkembangan tersebut, Google mengumumkan restrukturisasi kepemimpinan AI. Demis Hassabis akan bertransisi menjadi Chair Google DeepMind sekaligus Chief Scientist Alphabet. Sementara itu, Koray Kavukcuoglu dipromosikan menjadi Senior Vice President Google DeepMind.
Secara keseluruhan, pekan ini menunjukkan bahwa melampaui estimasi analis tidak selalu cukup untuk mendorong kenaikan harga saham. CVS dan Western Digital sama-sama melaporkan kuartal yang solid, tetapi saham keduanya tetap ditutup di zona merah. Sebaliknya, Disney yang hanya melampaui estimasi dari sisi laba dan sedikit gagal memenuhi ekspektasi pendapatan justru diapresiasi pasar karena kekuatan margin, pertumbuhan laba operasional, dan strategi buyback. Bagi Alphabet, tantangannya bukan berasal dari angka keuangan, melainkan dari kemampuan mempertahankan talenta AI kelas dunia. Isu tersebut menjadi semakin penting di tengah persaingan ketat antara perusahaan teknologi besar untuk mendominasi era kecerdasan buatan.
Daily Summary: Dow Cetak Rekor, Nasdaq Justru Tertahan
US Open: Wall Street Naik, tapi Saham AI Terbelah
Shopify Naik 20%, Pertumbuhan Makin Kuat
Arista Beat Besar, AI Bukan Cuma Soal Chip
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.