Kontrak berjangka minyak Brent terus melemah pada Kamis, mendekati level $70 per barel dan menghapus hampir seluruh kenaikan yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Investor semakin memperhitungkan risiko yang lebih rendah terhadap gangguan pasokan berkepanjangan, dengan perhatian kembali bergeser ke fundamental pasar, termasuk negosiasi AS-Iran, pertemuan OPEC+ mendatang, dan prospek permintaan minyak global. Faktor lain yang membantu menenangkan pasar adalah normalisasi bertahap lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Harga Pasar Memperhitungkan De-eskalasi
Minyak Brent turun ke sekitar $70,7 per barel, level terendah sejak sebelum pecahnya konflik AS-Iran. Minyak WTI, acuan utama AS, juga melemah dan turun ke bawah $67 per barel.
Selama konflik berlangsung, kedua acuan harga minyak sempat reli tajam karena premi risiko geopolitik meningkat. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut kini telah terhapus setelah adanya gencatan senjata 60 hari dan dimulainya negosiasi tidak langsung yang bertujuan mencapai kesepakatan permanen.
Selat Hormuz Membantu Meredakan Kekhawatiran Pasokan
Salah satu pendorong terkuat di balik penurunan harga minyak baru-baru ini adalah membaiknya kondisi di Selat Hormuz. Lalu lintas tanker melalui jalur perairan strategis tersebut terus pulih, sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Sebelum konflik, sekitar seperlima ekspor minyak dan produk petroleum dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap perubahan ketegangan regional menjadi faktor penting bagi pergerakan harga minyak.
Persediaan AS Gagal Mendukung Harga
Tekanan tambahan datang dari laporan terbaru Departemen Energi AS. Persediaan minyak mentah turun sekitar 2 juta barel, tetapi penurunan tersebut lebih kecil dari yang diantisipasi pasar. Data ini memperkuat pandangan bahwa pasar minyak global masih relatif memiliki pasokan yang cukup, sehingga membatasi alasan bagi harga minyak untuk kembali naik lebih tinggi.
OPEC+ Mungkin Kembali Menaikkan Produksi
Peristiwa besar berikutnya bagi pasar minyak adalah pertemuan OPEC+ akhir pekan ini. Menurut laporan media, kelompok produsen tersebut diperkirakan akan menaikkan kuota produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi kenaikan produksi bulanan kelima berturut-turut, mencerminkan strategi OPEC+ untuk secara bertahap memulihkan pasokan saat harga mulai mereda. Sementara itu, OPEC baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 untuk bulan kedua berturut-turut, dari 1,17 juta menjadi 970.000 barel per hari. Meski memangkas proyeksi, organisasi tersebut masih memperkirakan ekonomi global tetap resilien di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dengan meredanya ketegangan geopolitik, investor kembali berfokus pada kebijakan bank sentral dan prospek inflasi. Harga minyak yang lebih rendah mengurangi risiko tekanan inflasi baru, yang berpotensi memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan sikap moneter yang tidak terlalu restriktif.
Beberapa pekan mendatang akan menentukan apakah negosiasi antara Washington dan Teheran dapat menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama. Jika de-eskalasi berlanjut dan OPEC+ kembali menaikkan produksi sesuai ekspektasi, harga minyak mentah dapat tetap berada di bawah tekanan sepanjang paruh kedua musim panas.
NFP Lemah Ubah Narasi Hawkish The Fed
US Open: Futures Saham AS Menguat, Tesla Kejutkan Wall Street
NFP AS Mengecewakan, Emas Uji $4.100
BREAKING: NFP AS Jauh di Bawah Ekspektasi, US100 Menguat
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.