- Brent bergerak di kisaran US$78–79 per barel setelah koreksi tajam.
- Pasar mengantisipasi kembalinya ekspor minyak Iran pasca kesepakatan dengan AS.
- IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global dan memperingatkan potensi surplus besar pada 2027.
- Goldman Sachs menurunkan target harga Brent menjadi US$85 pada 2026 dan US$75 pada 2027.
- Secara teknikal, Brent menguji MA 200-hari yang menjadi area support penting.
- Brent bergerak di kisaran US$78–79 per barel setelah koreksi tajam.
- Pasar mengantisipasi kembalinya ekspor minyak Iran pasca kesepakatan dengan AS.
- IEA memangkas proyeksi permintaan minyak global dan memperingatkan potensi surplus besar pada 2027.
- Goldman Sachs menurunkan target harga Brent menjadi US$85 pada 2026 dan US$75 pada 2027.
- Secara teknikal, Brent menguji MA 200-hari yang menjadi area support penting.
Harga minyak melanjutkan pelemahannya pada perdagangan pagi hari sebelum akhirnya berkonsolidasi dan kembali naik menuju area US$79 per barel untuk Brent.
Meskipun pasar saat ini cenderung mengantisipasi penurunan lebih lanjut seiring meningkatnya peluang perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat, perlu ditekankan bahwa masih banyak isu penting yang belum terselesaikan maupun dipublikasikan secara resmi.
Perlu dicatat bahwa rincian memorandum 14 poin yang sedang dibahas masih terus disempurnakan. Dalam banyak aspek, dokumen tersebut masih lebih menyerupai daftar tujuan dibandingkan kesepakatan final yang sepenuhnya mengikat.
Meski demikian, pasar telah mulai mendiskon kemungkinan kembalinya pasokan minyak dalam jumlah besar ke pasar global. Hal ini tercermin dari penurunan harga minyak yang mencapai hampir 40% dari puncak harga saat konflik berlangsung. Kontrak Brent kini bergerak di kisaran US$78–79 per barel, sementara minyak WTI sempat turun di bawah level psikologis US$75 sebelum stabil di area US$75–76 per barel.
Saat ini, harga minyak masih berada sekitar 11% di atas level sebelum konflik dimulai.
Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB
Apa yang Mempengaruhi Harga Minyak?
- Persetujuan Ekspor Langsung Iran: Meskipun isi resmi kesepakatan belum dipublikasikan, berbagai laporan menunjukkan bahwa Iran berpotensi langsung kembali menjual minyak dan produk energi segera setelah penandatanganan perjanjian. Selain itu, Amerika Serikat disebut berkomitmen mencabut blokade pelabuhan dan memberikan pengecualian sanksi yang mencakup ekspor minyak, industri petrokimia, layanan perbankan terkait, dan layanan asuransi terkait perdagangan energi
- Aktivitas Kapal Tanker: Perusahaan pelayaran mulai mempersiapkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan memindahkan armada kapal kosong mereka menuju Timur Tengah. Sebagian besar analis menjadikan pemulihan penuh lalu lintas kapal di Selat Hormuz sebagai skenario dasar.
- Dampak Pelepasan Pasokan Tertahan: Diperkirakan lebih dari 100 kapal tanker bermuatan yang sebelumnya tertahan akibat konflik dapat segera meninggalkan Teluk Persia setelah jalur pelayaran dibuka kembali. Masuknya volume minyak dalam jumlah besar tersebut berpotensi memberikan efek yang mirip dengan pelepasan cadangan strategis ke pasar. Meski demikian, pemulihan ekspor ke tingkat sebelum konflik tetap membutuhkan waktu beberapa bulan, termasuk karena proses pembersihan ranjau di jalur pelayaran.
- Normalisasi Produksi: Produksi minyak di kawasan tersebut diperkirakan sempat turun hingga 14 juta barel per hari. Kemampuan meningkatkan produksi saat ini terutama dimiliki oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sebagai perbandingan, pada konflik di era 1990-an, produksi minyak membutuhkan sekitar 12 bulan untuk kembali normal. Di negara-negara yang terdampak langsung seperti Irak dan Kuwait, proses pemulihan bahkan berlangsung lebih lama.
Proyeksi International Energy Agency (IEA)
Dalam laporan terbarunya, IEA kembali menyampaikan pandangan yang cenderung bearish terhadap pasar minyak.
- Pukulan Terhadap Permintaan: IEA secara signifikan merevisi estimasi permintaan minyak global tahun ini. Lembaga tersebut kini memperkirakan konsumsi minyak dunia akan turun sebesar 1,1 juta barel per hari akibat tingginya harga bahan bakar dan gangguan pasokan produk olahan. Sebelumnya, penurunan hanya diperkirakan sebesar 420 ribu barel per hari. Berdasarkan estimasi awal, permintaan global kini telah turun ke sekitar 100 juta barel per hari.
- Risiko Surplus Besar pada 2027: Untuk pertama kalinya, IEA juga memberikan proyeksi rinci hingga tahun 2027. Menurut perkiraan tersebut:
- Pasokan global berpotensi meningkat 8 juta barel per hari.
- Permintaan global hanya bertambah sekitar 2 juta barel per hari.
- Apabila skenario ini terjadi, pasar minyak berpotensi menghadapi surplus pasokan yang sangat besar. Bahkan jika realisasinya hanya setengah dari proyeksi tersebut, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan tetap signifikan.
- Kondisi Cadangan Global: Saat ini cadangan minyak global masih menyusut dengan cepat. Namun, surplus pasokan yang diperkirakan muncul pada akhir tahun diharapkan dapat membantu membangun kembali stok yang telah terkuras selama periode konflik.
Permintaan global yang kini berada di sekitar 100 juta barel per hari juga diperkirakan belum akan mengalami pemulihan yang signifikan dalam waktu dekat.
Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB
Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Minyak
Institusi keuangan global mulai menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap pasar energi. Goldman Sachs melakukan revisi turun yang cukup signifikan terhadap target harga minyak.
- Proyeksi 2026: Goldman Sachs kini memperkirakan rata-rata harga Brent pada 2026 berada di level:
- Brent: US$85 per barel (sebelumnya US$90)
- WTI: US$80 per barel (sebelumnya US$85)
- Menariknya, harga pasar saat ini sudah berada di bawah rata-rata proyeksi tersebut.
- Proyeksi 2027: Untuk tahun 2027, Goldman Sachs memperkirakan:
- Brent: US$75 per barel
- WTI: US$70 per barel
- Level US$75 per barel saat ini bahkan sudah tercermin dalam kurva kontrak berjangka Brent untuk Mei 2027.
- Normalisasi Lebih Cepat: Revisi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz memungkinkan ekspor dari Teluk Persia kembali normal pada akhir Juli. Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan proses tersebut baru selesai pada akhir Agustus.
- Risiko Masih Ada: Meski demikian, Goldman Sachs mengingatkan bahwa kesepakatan yang akan ditandatangani masih bersifat awal. Apabila negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran gagal mencapai hasil, Teheran berpotensi kembali mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Saat ini, kurva forward minyak menunjukkan penurunan ekspektasi harga dalam jangka pendek hingga menengah. Level US$75 per barel sudah tercermin pada kontrak Mei 2027, sementara level US$70 baru terlihat pada kontrak jangka panjang hingga 2031.
Kurva forward saat ini terlihat jauh lebih datar dibandingkan periode sebelumnya.
Kurva forward saat ini terlihat jauh lebih datar dibandingkan periode sebelumnya.
Sumber: Bloomberg Finance LP
Indikator Pasar dan Analisis Teknikal
Investor tampaknya lebih fokus pada prospek surplus pasokan tahun depan dibandingkan risiko gangguan fisik pasokan yang masih mungkin terjadi saat ini. Namun demikian, terdapat beberapa perkembangan menarik dari sisi pasar fisik dan teknikal.
- Struktur Contango: Di pasar Timur Tengah, khususnya Dubai, spread kontrak berjangka telah bergerak ke struktur contango. Kondisi ini umumnya dianggap sebagai sinyal bahwa pasar sedang mengalami kelebihan pasokan fisik. Untuk sesaat, spread kontrak Brent terdekat juga sempat mendekati struktur contango.
- Sinyal Teknikal: Tekanan jual semakin kuat setelah Brent menguji rata-rata pergerakan 200 sesi (MA 200) untuk pertama kalinya sejak Februari. Penembusan area support ini memiliki arti penting bagi tren jangka panjang. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat mengindikasikan bahwa pasar mulai memasuki fase oversold dalam jangka pendek. Meskipun sentimen pasar saat ini sangat optimistis terhadap pemulihan pasokan global, proses normalisasi penuh masih membutuhkan waktu dan ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang.

BREAKING: Retail Sales AS Melonjak, Dolar Kembali Menguat
Daily Summary: Minyak Anjlok, SpaceX Salip Amazon di Wall Street
Minyak Anjlok, Pasar Mulai Percaya Kesepakatan AS-Iran
Daily summary: Wall Street Rebound, SpaceX dan AI Jadi Sorotan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.
