Pasar minyak sedang mengalami volatilitas ekstrem akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun pasokan fisik menghadapi gangguan besar di Selat Hormuz dan Laut Merah, kilang global justru membukukan margin yang mencapai rekor. Pasar kini terus menganalisis setiap sinyal yang dapat mengindikasikan deeskalasi dalam waktu dekat atau penyebaran konflik yang lebih luas.
Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran
Situasi di Timur Tengah tetap sangat tegang setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan.
Amerika Serikat memutuskan kembali menyerang sejumlah posisi Iran sebagai respons langsung terhadap serangan ke pangkalan militer AS.
Presiden Donald Trump secara terbuka mengumumkan serangan yang tegas dan “sangat kuat” pada Rabu malam.
Pernyataan tersebut langsung meningkatkan premi risiko di pasar komoditas dan meredam sentimen positif yang sebelumnya muncul di pasar saham setelah konferensi Kevin Warsh.
Perlu diperhatikan bahwa setelah deeskalasi sebelumnya menurunkan harga minyak WTI dari sekitar US$93 menjadi US$80, kini harga telah memulihkan kurang lebih separuh dari penurunan tersebut.

Pergerakan minyak mentah secara umum menyerupai volatilitas yang terjadi pada dekade 1990-an. Apabila sejarah kembali terulang, pasar dapat menghadapi penurunan yang cukup jelas dalam waktu dekat. Namun, skenario tersebut tentu memerlukan deeskalasi penuh di Timur Tengah. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Arus Kapal: Hormuz dan Jalur Alternatif
Selat Hormuz tetap menjadi titik yang sangat penting bagi kondisi pasar minyak global. Namun, kenaikan harga tajam dalam beberapa pekan terakhir juga berkaitan dengan serangan Houthi di Selat Bab el-Mandab.
Meskipun pembatasan masih ketat, saat ini diperkirakan hingga 13 juta barel minyak tetap dapat mengalir keluar dari kawasan Teluk Persia. Dengan adanya penurunan permintaan global yang cukup jelas atau demand destruction, volume tersebut membantu membatasi besarnya defisit.

Meskipun Selat Hormuz secara teoritis ditutup, jumlah kapal komersial yang melintasi kawasan tersebut telah meningkat dengan jelas. Jumlahnya kini menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Juli, ketika eskalasi besar mulai terjadi. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB

Defisit global diperkirakan telah menurun hingga sekitar dua juta barel per hari. Pada puncaknya, defisit tersebut diperkirakan sempat mencapai tujuh hingga delapan juta barel per hari. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Ledakan Bisnis Kilang dan Penyusutan Persediaan
Guncangan geopolitik memberikan dampak yang tidak seimbang, tetapi sangat besar, terhadap ekonomi minyak. Terhambatnya arus minyak murah mendorong harga bahan bakar jadi, seperti bensin, diesel, dan bahan bakar pesawat, naik jauh lebih cepat daripada harga minyak mentah. Kondisi tersebut memicu ledakan keuntungan historis di sektor kilang.

Crack spread di Amerika Serikat masih berada pada level yang sangat tinggi. Aktivitas pengolahan minyak di China juga meningkat signifikan, yang dapat menunjukkan upaya perusahaan untuk memanfaatkan tingginya harga bahan bakar. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB

Pengolahan minyak mentah di kilang milik negara China meningkat dengan jelas dan kini berada di sekitar rata-rata lima tahun. Sumber: Bloomberg Finance LP

Aktivitas pengolahan di kilang swasta juga mulai pulih, meskipun masih mendekati level terendah dalam lima tahun. Perlu diingat bahwa kilang swasta China banyak mengolah minyak dari sumber yang terkena sanksi, termasuk Iran. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Perusahaan kilang global kini beroperasi pada kapasitas maksimum.
Sebagai contoh, Shell melaporkan tingkat utilisasi kilang sebesar 102%. Kapasitas 100% pada dasarnya hanya merupakan angka teoritis karena dalam praktiknya volume pengolahan dapat melampaui kapasitas yang tercantum secara resmi. Produksi bahan bakar pesawat Shell juga melonjak 20% secara tahunan.
Berkat margin yang mencapai rekor atau crack spread yang tinggi, keuntungan dari aktivitas perdagangan dan pengolahan minyak meningkat tajam. Namun, tingginya aktivitas kilang dan besarnya volume minyak mentah yang diolah juga menyebabkan persediaan komersial di Amerika Serikat terkuras dengan cepat. Persediaan tersebut kini telah turun ke level yang digambarkan sejumlah ahli sebagai “sangat rendah dan berbahaya”.
Biaya Ekonomi bagi Produsen dan Prospek Harga
Ketika trader dan kilang menikmati keuntungan di atas rata-rata, produsen minyak justru merasakan dampak negatif perang. Ekonomi Arab Saudi mencatatkan kontraksi GDP sebesar 4,8% secara tahunan pada kuartal II. Angka tersebut menjadi hasil terburuk sejak pandemi pada 2020. Penyebab utamanya adalah kontraksi sektor minyak Arab Saudi yang mencapai hampir 25%. Produksi minyak masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang. Infrastruktur yang tidak dapat beroperasi, termasuk fasilitas di Qatar yang memengaruhi produksi LNG Shell, turut membatasi pasokan.

Produksi Arab Saudi turun ke level yang lebih rendah daripada titik terendah selama pandemi. Meskipun sempat mengalami pemulihan, tingkat produksinya masih sangat rendah. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Harga di pasar masih menunjukkan volatilitas tinggi. Minyak Brent bergerak di sekitar US$88 per barel, sementara WTI diperdagangkan di kisaran US$84–US$85 per barel. Harga hari ini tetap berada di bawah tekanan meskipun eskalasi di Timur Tengah berlanjut.


Menariknya, apabila dibandingkan dengan rata-rata satu tahun dan lima tahun, harga minyak saat ini belum terlihat sangat overbought. Namun, harganya masih berada di atas kedua rata-rata tersebut. Sumber: Bloomberg Finance LP dan XTB
Daily Summary: The Fed Redakan Panik, Minyak Justru Melonjak
Warsh Bicara Banyak, Tapi Tak Beri Arah
Warsh Hapus Panduan, Saham Teknologi Bernapas
BREAKING: The Fed Tahan Suku Bunga
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.