Brent crude bergerak di sekitar US$106 per barel setelah settle di US$106,65 pada Senin, level tertinggi sejak 15 September.
Harga tetap bertahan tinggi meski OPEC baru memangkas proyeksi pertumbuhan demand oil 2026 menjadi hanya 400 ribu barel per hari, dari sekitar 1,4 juta bpd pada awal tahun.
Ketahanan harga di tengah outlook demand yang jauh lebih lemah memberikan sinyal penting.
Pasar saat ini tampaknya lebih mencemaskan apakah barel yang sudah diproduksi dapat sampai ke pembeli dengan aman, bukan apakah dunia membutuhkan lebih banyak oil.
Dengan kata lain, logistik, bukan produksi, mulai menjadi variabel utama yang menentukan arah harga.
Logistik Menjadi Bottleneck Baru
Aliran crude dari Timur Tengah sebenarnya sudah pulih mendekati level sebelum perang pada September.
Namun, serangkaian serangan baru kembali menggoyahkan pemulihan tersebut.
Houthi menyerang bandara internasional Riyadh pada akhir pekan lalu, sementara serangan terhadap tanker di sekitar Strait of Hormuz dilaporkan meningkat.
Semakin banyak kapal juga mulai menghindari rute yang sebelumnya menjadi bagian penting dalam arus ekspor dari kawasan Teluk.
OPEC menyebut biaya shipping dan insurance kini mencapai lebih dari sepertiga nilai komoditas pada sejumlah rute tertentu, level yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya.
Angka ini penting karena menunjukkan bahwa pasar mungkin tidak kekurangan barel di titik produksi, tetapi biaya untuk memindahkan barel tersebut ke konsumen sudah terlalu besar untuk diabaikan dalam pricing.
Dalam kondisi seperti ini, demand yang lebih lemah tidak otomatis menekan harga.
Supply memang tersedia, tetapi tetap sulit dan mahal untuk dialirkan secara efisien menuju konsumen.
Diesel Rusia Beri Relief Terbatas
Pemerintah AS sementara melonggarkan sanksi terhadap fuel Rusia setelah Presiden Donald Trump mengatakan Moskow akan meningkatkan supply diesel ke pasar global.
Langkah tersebut berpotensi mengurangi ketatnya pasar refined products dan sedikit menekan margin kilang yang sebelumnya ikut menopang harga crude.
Namun, anggota Kongres dari kedua partai mempertanyakan apakah kesepakatan tersebut bertentangan dengan undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia selama agresi terhadap Ukraina belum dihentikan.
Artinya, durasi relief ini masih belum pasti.
Di sisi lain, klaim mengenai energy ceasefire Rusia-Ukraina juga tetap rapuh.
Ukraina menyatakan akan terus menyerang infrastruktur energi Rusia selama Moskow juga melanjutkan serangan terhadap fasilitas energi Ukraina.
Dengan demikian, pasar memang mendapatkan sedikit relief dari sisi refined products, tetapi sumber geopolitical risk baru muncul hampir secara bersamaan.
Apa yang Perlu Dipantau Trader
Bagi trader OIL, fokus beberapa hari ke depan lebih relevan diarahkan pada indikator logistik dibandingkan data demand semata.
Faktor utama yang perlu dipantau adalah frekuensi serangan terhadap tanker di Hormuz dan Red Sea, serangan Houthi terhadap infrastruktur Saudi Arabia, serta realisasi tambahan supply diesel Rusia sebagai penyeimbang di pasar refined products.
Area US$105–US$107 pada Brent menjadi zona penting untuk menentukan apakah geopolitical premium masih dapat bertahan atau mulai terkikis.
Jika aliran oil tetap relatif normal meskipun konflik berlanjut, premi tersebut dapat berangsur turun tanpa membutuhkan ceasefire resmi.
Sebaliknya, satu serangan besar terhadap infrastruktur produksi atau jalur transit utama dapat memberikan alasan fundamental bagi Brent untuk bergerak lebih tinggi.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan oil kemungkinan tetap sangat sensitif terhadap headline logistik dan geopolitik, sehingga kedua faktor tersebut menjadi penting dalam membaca peluang trading jangka pendek.
Sumber: xStation
Pada timeframe 1 jam, OIL bergerak di sekitar US$105,3 dan masih berada dalam uptrend channel sejak awal Oktober. Namun, momentum mulai menunjukkan tanda pelemahan. RSI membentuk bearish divergence, ketika harga mencetak higher high tetapi RSI justru berada di bawah puncak sebelumnya. Pola ini menunjukkan bahwa kekuatan buyer mulai berkurang. Harga juga sudah turun ke bawah MA20 di sekitar US$105,88, memperkuat sinyal melemahnya momentum jangka pendek. Level US$102,5 menjadi support penting jika harga gagal membentuk higher high baru. Sebaliknya, penutupan yang kuat di atas US$106 dapat membuka ruang menuju resistance berikutnya di sekitar US$109,4.
Kalender Ekonomi: Agenda The Fed Pekan Ini
Market Wrap: Wall Street Menguat Jelang Rilis Inflasi CPI AS
Oil Melonjak 4%, Saham dan Obligasi Kembali Tertekan
Oil Turun 2%, Pasokan Teluk Persia Jadi Tekanan
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.