Pada Jumat sebelum perdagangan Wall Street dimulai, perusahaan minyak besar Chevron akan merilis laporan keuangannya. Di seluruh sektor energi, Chevron menonjol karena memiliki sumber penggerak harga yang sangat beragam dan kompleks, terutama di tengah ketegangan pasar yang berkaitan dengan perubahan situasi di Rusia, Iran, dan Venezuela. Pasar saat ini memperkirakan EPS Chevron meningkat menjadi sekitar US$5,25 per saham, sedangkan pendapatan diproyeksikan naik menjadi sekitar US$63,2 miliar. Ekspektasi tersebut cukup tinggi karena mencerminkan pertumbuhan laba per saham sekitar 70% secara tahunan dan lebih dari 300% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Perlu diingat bahwa pada kuartal I, Chevron juga telah melampaui ekspektasi laba sekitar 40%. Perusahaan mencatatkan EPS sebesar US$1,41, dibandingkan perkiraan pasar sekitar US$0,97.
Dari Mana Pertumbuhan Ini Berasal?
Sumber tingginya ekspektasi pasar terhadap hasil Chevron terlihat cukup jelas, tetapi tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak mentah.
Faktor yang sering terlupakan adalah kenaikan harga bahan bakar yang bahkan lebih besar.
Kondisi tersebut berasal dari terbatasnya kapasitas kilang, yang jauh lebih sulit disesuaikan dibandingkan pasokan minyak mentah.
Berbagai jenis bahan bakar merupakan produk dengan margin lebih tinggi daripada minyak mentah.
Kenaikan harga bahan bakar juga dapat bertahan lebih lama dibandingkan kenaikan harga minyak.
Selain itu, pasar bahan bakar lebih sulit dipengaruhi oleh intervensi seperti pelepasan persediaan dari cadangan strategis.
Valero dan HF Sinclair sebelumnya telah menunjukkan bahwa perusahaan dengan eksposur yang tepat dapat menangkap margin lebih besar daripada perkiraan pasar.
Chevron berpotensi menjadi perusahaan berikutnya yang memberikan kejutan serupa, tetapi dalam skala yang jauh lebih besar.
Namun, agar pasar percaya bahwa Chevron benar-benar memanfaatkan keunggulan terbesarnya, pendapatan downstream di atas US$4 miliar akan menjadi sangat penting.
Apabila hasilnya berada di bawah level tersebut, investor dapat mempertanyakan kualitas pertumbuhan laba perusahaan.
Chevron seharusnya mulai memperoleh manfaat dari berbagai investasi, fasilitas, dan perjanjian yang telah dikembangkan selama beberapa tahun terakhir, tepat ketika harga minyak berada di level tinggi.
Aset dan proyek tersebut mencakup, tetapi tidak terbatas pada:
- TCO di Kazakhstan
- Hess di Guyana
- Permian Basin
- Teluk Meksiko
- Venezuela
Laba Bukan Satu-Satunya Penentu
Selain potensi laba besar dari minyak dan bahan bakar, pengelolaan kas serta cash flow akan menjadi faktor yang sangat penting.
Investor akan memperhatikan apakah laba bersih benar-benar diterjemahkan menjadi cash flow from operations atau CFFO. Pasar juga akan menilai posisi depresiasi dan amortisasi infrastruktur dalam hubungan tersebut. EPS yang mencapai rekor belum tentu cukup untuk mendorong harga saham apabila tidak menghasilkan CFFO yang kuat.
CFFO menentukan apakah keuntungan besar dari kenaikan harga minyak dan bahan bakar dapat diteruskan kepada pemegang saham.
Secara keseluruhan, agar seluruh faktor bullish benar-benar terpenuhi dan mampu mengejutkan pasar, beberapa kondisi berikut perlu terjadi:
- EPS harus berada di atas sekitar US$5,30.
- Pendapatan downstream minimal harus mencapai US$4 miliar.
- Manajemen perlu mengumumkan bentuk distribusi kas kepada pemegang saham.
- Dalam kondisi saat ini, distribusi tersebut setidaknya perlu mencapai sekitar US$2,5 miliar berdasarkan hubungan antara CFFO dan depresiasi serta amortisasi.
Analisis Teknikal Chevron D1
Harga saham Chevron saat ini masih terjebak di antara zona resistance kuat sekitar US$180 dan US$195. Pembeli membutuhkan katalis yang cukup besar untuk mendorong harga keluar dari area konsolidasi yang luas tersebut. Namun, potensi kenaikannya juga cukup menarik. Level Fibonacci menunjukkan bahwa breakout dapat membuka ruang menuju area sekitar US$220. Pembeli masih memperoleh dukungan dari tren jangka panjang pada grafik, termasuk momentum EMA.
Sumber: xStation5
US OPEN: Microsoft Angkat Nasdaq, Meta Malah Tersungkur
AWS Jadi Ujian Besar CapEx AI Amazon
Apple Hadapi Ujian Margin di Tengah Reli iPhone
Kinerja Rekor Belum Cukup bagi Visa
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.