16.18 · 3 September 2026

Chevron Taruh US$7 Miliar di Venezuela, Mesin Growth Baru?

Venezuela Dulu Jadi Risiko Chevron, Sekarang Malah Mau Jadi Mesin Growth?

Chevron menggelontorkan US$7 miliar untuk menggandakan produksi minyak di Venezuela. Dengan biaya produksi di bawah US$20 per barel, aset yang selama ini identik dengan risiko politik justru berpotensi menjadi salah satu sumber minyak termurah dalam portofolio perusahaan.

US$7 Miliar untuk Menggandakan Produksi: Ini Bukan Taruhan Buta

Chevron resmi mengumumkan rencana investasi lebih dari US$7 miliar di Venezuela selama lima tahun ke depan melalui joint venture yang dimilikinya. Targetnya agresif: menggandakan produksi dari sekitar 280 ribu barel per hari saat ini menjadi 600 ribu barel per hari.

Untuk memberikan perspektif, kenaikan tersebut setara dengan menambahkan satu blok produksi minyak besar tanpa harus membangun seluruh operasinya dari nol. Chevron juga memperoleh tambahan acreage di Carabobo-1 dan Carabobo-2-South-A, yang berada tepat di sebelah operasi Petroindependencia di Orinoco Belt.

Pengumuman tersebut datang bersamaan dengan kunjungan Menteri Energi AS Chris Wright ke Caracas dan sejalan dengan dorongan Washington untuk membawa kembali investasi swasta ke industri minyak Venezuela setelah perubahan politik di negara tersebut.

Yang menarik, ekspansi Chevron di Venezuela bukan keputusan mendadak. Sejak April 2026, perusahaan telah meningkatkan kepemilikannya di Petroindependencia dari 35,8% menjadi 49% melalui asset swap dengan PDVSA. Petropiar juga memperoleh hak pengembangan area Ayacucho 8.

Secara kolektif, tiga joint venture Chevron di Venezuela telah mencatat pertumbuhan produksi sekitar 15% year-to-date. Jadi ketika perusahaan menargetkan produksi dua kali lipat, sebagian fondasi operasional sebenarnya sudah dibangun sebelumnya.

Portofolio Joint Venture Chevron di Venezuela. Sumber: XTB Research Indonesia

Barrel Termurah dalam Portofolio? Biaya di Bawah US$20

Salah satu aspek paling menarik dari rencana ini bukan hanya volume produksi, tetapi economics dari setiap barel minyak yang dihasilkan. Chevron menyebut total biaya produksi di Venezuela dapat berada di bawah US$20 per barel.

Bandingkan dengan harga Brent yang saat ini berada di kisaran US$90-95 per barel. Secara sederhana, selisih tersebut memberikan ruang margin yang sangat besar sebelum memperhitungkan biaya lain, pajak, pembagian keuntungan joint venture, dan faktor operasional lainnya.

Jika Chevron berhasil mencapai produksi 600 ribu barel per hari dengan struktur biaya tersebut, Venezuela berpotensi menjadi salah satu sumber produksi dengan economics paling menarik dalam seluruh portofolio perusahaan.

Venezuela sendiri memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, lebih dari 303 miliar barel menurut OPEC Annual Statistical Bulletin 2025. Angka tersebut bahkan lebih besar dibanding Arab Saudi yang berada di kisaran 267 miliar barel.

Masalah Venezuela selama ini bukan kekurangan sumber daya, melainkan akses terhadap modal, ketentuan investasi, infrastruktur, dan stabilitas politik. Chevron tampaknya menilai bahwa kombinasi faktor tersebut kini telah membaik cukup jauh untuk kembali membuat Venezuela kompetitif dalam alokasi modal perusahaan.

Perubahan regulasi juga menjadi faktor penting. Pemerintahan interim Rodriguez mencabut kewajiban lama yang mengharuskan PDVSA memegang kepemilikan mayoritas dalam setiap joint venture minyak.

CEO Chevron Mike Wirth menyebut posisi perusahaan di Venezuela kini dapat bersaing untuk mendapatkan investasi dalam portofolio Chevron selama beberapa dekade ke depan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan melihat Venezuela bukan sekadar proyek pemulihan jangka pendek, tetapi sebagai potensi sumber produksi jangka panjang.

Sumber: XTB Research Indonesia

Konteks finansial Chevron secara keseluruhan juga mendukung ekspansi tersebut. Pada Q2 2026, Chevron membukukan adjusted EPS US$6,06, di atas konsensus pasar US$5,60.

Revenue mencapai US$70,1 miliar, naik lebih dari 50% secara tahunan, didorong harga komoditas yang lebih tinggi, integrasi aset Hess, dan rekor produksi di Amerika Serikat. Adjusted free cash flow mencapai US$15,4 miliar pada kuartal tersebut.

Dengan kemampuan menghasilkan kas sebesar itu, investasi US$7 miliar yang disebarkan selama lima tahun relatif lebih mudah diserap oleh Chevron. Perusahaan memiliki ruang untuk membiayai ekspansi Venezuela tanpa harus secara langsung mengorbankan shareholder return maupun proyek capex utama lainnya.

Twist Menarik, Tapi Risikonya Belum Hilang

Selama bertahun-tahun, Venezuela identik dengan political risk, sanksi ekonomi, dan kerusakan infrastruktur akibat buruknya pengelolaan industri minyak selama era Chavez-Maduro. Produksi minyak nasional sempat jatuh hingga sekitar 527 ribu barel per hari pada 2020, jauh dari puncaknya yang berada di atas 3 juta barel per hari pada akhir 1990-an.

Saat ini produksi nasional telah pulih ke kisaran 1,1-1,25 juta barel per hari, tetapi masih jauh dari potensi historisnya. Jika Chevron benar-benar mampu mencapai produksi 600 ribu barel per hari, perusahaan sendiri akan menyumbang volume yang setara dengan hampir separuh produksi Venezuela saat ini.

Namun tesis investasi ini masih memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, legitimasi hukum dari konsesi jangka panjang yang diberikan pemerintahan interim Rodriguez masih dapat diperdebatkan karena konstitusi Venezuela mensyaratkan persetujuan Majelis Nasional yang belum diperoleh.

Kedua, pemulihan industri minyak Venezuela dalam skala besar membutuhkan tenaga kerja teknis dan engineering yang selama bertahun-tahun telah meninggalkan negara tersebut. Mike Wirth sebelumnya juga telah menyinggung keterbatasan sumber daya manusia ini sebagai salah satu hambatan pemulihan produksi.

Ketiga, perubahan pemerintahan di Amerika Serikat maupun Venezuela dapat kembali mengubah kerangka regulasi dan investasi. Kesepakatan yang terlihat menarik hari ini belum tentu memiliki kondisi yang sama lima atau sepuluh tahun dari sekarang.

Chevron bukan sekadar kembali ke Venezuela karena negara tersebut memiliki cadangan minyak yang besar. Perusahaan melihat kombinasi sumber daya melimpah, biaya produksi rendah, aset yang sudah beroperasi, dan terms investasi yang membaik sebagai peluang untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Bagi investor Chevron, Venezuela kini berpotensi berubah dari aset yang selama bertahun-tahun dilihat sebagai sumber political risk menjadi salah satu sumber produksi dengan economics paling menarik dalam portofolio perusahaan. Namun pertanyaan terbesarnya tetap sama: apakah fondasi politik dan regulasi yang memungkinkan ekspansi ini cukup kuat untuk bertahan melewati siklus pemerintahan berikutnya?

3 September 2026, 13.30

Market Wrap: Wall Street Rebound, Fokus Mulai Beralih ke NFP

3 September 2026, 13.13

Snowflake Naik 22%: AI Melesat, Tapi Margin Mulai Tertekan

3 September 2026, 09.08

Daily Summary: Wall Street Menguat Tipis Jelang Earnings Broadcom

3 September 2026, 09.02

Broadcom Jelang Earnings: Bisakah Rally Saham AI Berlanjut?

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.