Perusahaan networking AS tersebut melaporkan hasil Q2 2026, setelah itu saham turun sekitar 7% pada pembukaan Wall Street. Meskipun hasilnya sedikit melampaui ekspektasi tinggi yang didorong oleh investasi AI, pasar tetap bereaksi negatif terhadap laporan tersebut.
Earnings
- Revenue naik menjadi US$17,3 miliar dibandingkan ekspektasi sekitar US$16,8 miliar, mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% secara tahunan.
- EPS lebih kuat, mencapai US$1,22 secara non-GAAP dibandingkan ekspektasi US$1,17, dengan kenaikan sekitar 100% secara tahunan. Perlu dicatat bahwa angka Q2 2026 tahun lalu merupakan anomali akuntansi dengan basis yang sangat rendah, tetapi hasil ini tetap impresif: secara kuartalan, EPS meningkat hampir 20%.
- Gross margin menjadi titik lemah, turun dari 68,4% menjadi 66,3% pada kuartal terbaru tahun fiskal berjalan.
Informasi Lebih Jelas Terlihat dari Masing-Masing Segmen Bisnis
- Networking: total order naik 40%, atau 25% jika order dari perusahaan “hyperscale” dikeluarkan. Total order mencapai US$9,3 miliar pada tahun fiskal berjalan.
- AI: untuk tahun fiskal berikutnya, perusahaan memperkirakan AI revenue sebesar US$7,5 miliar. Angka ini naik dari US$4 miliar pada tahun berjalan.
- Security: segmen ini tumbuh 14% secara tahunan menjadi US$2,22 miliar.
Guidance
- Proyeksi manajemen untuk hasil akhir tahun berada di atas konsensus sebelumnya. Revenue pada akhir tahun fiskal berikutnya diperkirakan mencapai US$72,8 miliar, sekitar 6% lebih tinggi dari estimasi sebelumnya.
- Guidance EPS meningkat jauh lebih cepat dan lebih jelas. Proyeksi EPS untuk kuartal berikutnya mencapai US$1,33, yang secara hipotetis berarti pertumbuhan hampir 30% secara tahunan.
- Bagian terlemah dari earnings call adalah outlook margin untuk kuartal berikutnya, dengan perusahaan memperkirakan penurunan 60 basis poin menjadi di bawah 66%.
Kesimpulan
Hasil Cisco mengonfirmasi bahwa perusahaan terus diuntungkan oleh siklus investasi yang masih berlangsung, tetapi masih menghadapi tantangan dalam optimalisasi biaya.
Demand tetap kuat dan tersebar luas.
Pendorong utama masih berasal dari segmen networking, terutama, meskipun tidak hanya, dari investasi hyperscaler.
Pertumbuhan memang terlihat, tetapi masih tampak agak mengecewakan jika dibandingkan dengan bagian lain dari industri, terutama mengingat skala dan pengalaman Cisco.
Namun, karena Cisco memperkirakan pertumbuhan lebih lanjut dalam penjualan AI infrastructure, berlanjutnya siklus upgrade jaringan, serta perbaikan pada security dan services, pasar masih memiliki ruang untuk memperhitungkan skenario yang lebih optimistis.
Meski demikian, valuation ceiling Cisco dalam periode spekulasi earnings jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan lain yang terkait dengan boom AI.
Perlu dicatat juga bahwa bauran pertumbuhan semakin berat ke hardware.
Kondisi ini meningkatkan tekanan terhadap gross margin dan membuat peningkatan profitabilitas berikutnya semakin bergantung pada disiplin biaya, area yang masih menjadi tantangan bagi perusahaan.
Dalam beberapa kuartal ke depan, fokus utama bukan hanya seberapa cepat AI orders dapat dikonversi menjadi revenue.
Investor juga akan semakin memperhatikan kemampuan Cisco mempertahankan margin dan meningkatkan free cash flow.
Analisis Teknikal Cisco, Interval H1
- Meskipun saham telah turun cukup signifikan dari puncak terbaru, sekitar 12%, dan menembus ke bawah long-term rising channel, outlook teknikal masih relatif bullish.
- Zona resistance antara 107 dan 101 cukup lebar dan dapat menjadi lebih kuat daripada yang saat ini diperkirakan seller.
- Area tersebut dapat menopang saham dalam jangka pendek hingga menengah jika harga turun menuju batas bawah dari wide consolidation channel.
- Target berikutnya bagi buyer dari level saat ini berada di sekitar resistance 120, kemudian retest area resistance 126-130.
- Pergerakan tersebut juga didukung oleh fenomena “golden cross” pada EMA100 dan EMA200.
Sumber: xStation5
Cisco Terlalu Mahal? Beat Besar Malah Picu Sell-Off
Daily Summary: Nasdaq Naik, AI dan Chip Kembali Jadi Motor Pasar
Temasek Bidik Chip Memori, Saham AI Melonjak
US Open: CPI Reda, Saham AI Kembali Jadi Mesin Wall Street
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.