-
Gencatan senjata antara AS dan Iran, yang dicapai tepat sebelum dimulainya gelombang pemboman pada 7 April 2026, menjatuhkan harga minyak Brent dari $120 hingga serendah $90, meskipun fundamental pasar tetap tertekan. Iran menuntut agar Israel menghentikan serangannya ke Lebanon, dengan ancaman akan membatalkan kesepakatan.
-
Negara-negara seperti Qatar dan Kuwait melaporkan bahwa serangan dari Iran masih berlanjut, yang dapat mengindikasikan kurangnya kepatuhan terhadap perjanjian. Iran menolak menerima serangan Israel terhadap Lebanon.
-
Sumber dari Gedung Putih melaporkan bahwa rencana perdamaian 10 poin Iran yang dipublikasikan hari ini berbeda dari yang diterima Amerika Serikat melalui Pakistan. Meskipun demikian, perjanjian gencatan senjata harus tetap dihormati, dan negosiasi damai dijadwalkan dimulai pada 10 April. Namun, masih banyak titik ketegangan yang dapat menjadi tidak dapat diterima oleh salah satu pihak.
-
Lebih dari 800 kapal (sekitar 150–200 juta barel setara minyak dan LNG) terdampar di kawasan tersebut. Bahkan dengan perdamaian total, pemulihan ke kapasitas penuh akan memakan waktu bertahun-tahun (akibat kerusakan di Qatar, Kuwait, dan sektor petrokimia Iran).
-
Iran berupaya meresmikan biaya transit untuk Selat Hormuz ($2 juta per kapal), yang dapat menjadi komponen permanen baru dalam harga per barel.
-
Persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 3,08 juta barel (kenaikan mingguan ke-7 berturut-turut), memberikan sinyal bearish bagi harga komoditas.
-
Minyak mentah sempat rebound ke $95 per barel setelah laporan bahwa Iran menghentikan jalur kapal hingga Israel menghentikan serangannya ke Lebanon. Gedung Putih menyatakan bahwa isu Lebanon tidak termasuk dalam rencana gencatan senjata.
-
Secara bersamaan, persediaan distilat turun tajam (-3,14 juta barel), menjaga margin kilang tetap tinggi dan mencegah penurunan harga bahan bakar secara cepat (terutama diesel).
-
Kurva forward di pasar minyak tetap stabil untuk kontrak November dan Desember, yang diperdagangkan sedikit di bawah $80 per barel minggu lalu dan hari ini.
-
Futures AS mencatat rebound sebesar 2 - 3% hari ini. US500 diperdagangkan pada level tertinggi sejak 6 Maret.
-
Gold mencatat lonjakan signifikan hari ini, mencapai hingga $4.800 per ons, sementara Silver naik ke $77 per ons. Harga kemudian sedikit terkoreksi selama hari berlangsung.
-
Penurunan harga yang tajam juga terlihat pada pasar yang sebelumnya diuntungkan oleh harga minyak tinggi. Koreksi signifikan terjadi pada jagung, gula, dan gandum.
-
Risalah The Fed bulan Maret menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi kembali menjadi opsi jika terjadi guncangan inflasi yang berkelanjutan. Namun demikian, The Fed sendiri mengakui bahwa penilaian situasi saat ini sangat sulit.
-
The Fed terjebak dalam "risiko dua sisi": khawatir terhadap inflasi yang mengakar, tetapi sekaligus memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja yang rapuh dapat runtuh secara tiba-tiba. Risalah tersebut mencakup pernyataan bahwa konflik di Timur Tengah dapat memicu kehancuran pasar tenaga kerja, yang pada akhirnya dapat membenarkan kembalinya pemangkasan suku bunga.
-
Pasar mengabaikan The Fed: dolar dan pasar saham tidak bereaksi terhadap nada hawkish, karena investor menganggap data bulan Maret sudah usang dan lebih fokus pada apakah gencatan senjata 14 hari di Teluk dapat bertahan.
The Fed Hadapi Risiko Ganda?
➡️Risalah FOMC diperkirakan menegaskan sikap “no rush to cut”
BREAKING: Kenaikan Lagi Stok Minyak, Penurunan Persediaan Bahan Bakar
Zona Hijau di Wall Street 📈