PayPal: Deal Raksasa yang Gagal Terwujud
Stripe dan Advent International resmi mundur dari upaya akuisisi senilai US$53 miliar. PayPal kini harus membuktikan bahwa keputusan menolak tawaran tersebut bukan sebuah kesalahan.
Saga akuisisi yang paling banyak dibicarakan di industri pembayaran digital tahun ini akhirnya menemui jalan buntu. Bloomberg melaporkan pada Kamis (27/8) bahwa konsorsium Stripe dan Advent International telah memutuskan menghentikan upaya mengakuisisi PayPal, mengakhiri drama yang berlangsung selama lebih dari enam bulan. Kabar ini menjadi pukulan bagi investor yang berharap premium akuisisi dapat mendongkrak harga saham PayPal, sekaligus menjadi momen penting bagi perusahaan yang pernah menjadi salah satu simbol kejayaan fintech Amerika Serikat.
Untuk memahami mengapa perkembangan ini begitu signifikan, konteks yang lebih luas perlu diperhatikan. PayPal bukan sekadar kehilangan satu calon pembeli. Perusahaan ini kehilangan sesuatu yang mungkin menjadi salah satu jalan tercepat untuk memulihkan valuasinya, yang telah jatuh tajam dari puncak sekitar US$360 miliar pada 2021 menjadi sekitar US$52 miliar saat ini.
Stripe, yang kini memiliki valuasi sekitar US$159 miliar berdasarkan tender offer Februari 2026, untuk pertama kalinya mencatatkan volume pembayaran sebesar US$1,9 triliun pada 2025, melampaui PayPal yang berada di US$1,79 triliun. Dengan kata lain, pemain yang sebelumnya jauh lebih kecil kini telah melampaui PayPal dalam salah satu metrik terpenting industri pembayaran.
Kronologi Tawaran yang Ditolak
Cerita ini dimulai pada Februari 2026, ketika Bloomberg pertama kali melaporkan bahwa Stripe sedang mempertimbangkan akuisisi terhadap PayPal. Saat itu, saham PayPal baru saja jatuh lebih dari 20% setelah laporan keuangan Q4 2025 yang mengecewakan dan pergantian CEO dari Alex Chriss ke Enrique Lores.
Rumor akuisisi sempat mendorong saham PYPL naik hampir 10% dalam sehari, memperlihatkan betapa besarnya kebutuhan pasar terhadap katalis positif untuk saham tersebut.
Pendekatan awal dilakukan melalui konsorsium yang terdiri dari tiga pihak: Stripe, Advent International, dan Block, perusahaan induk Square. Namun, Block kemudian mundur sebelum tawaran resmi diajukan.
Pada 15 Juli, Stripe dan Advent mengajukan penawaran sebesar US$60,50 per saham, yang memberikan valuasi sekitar US$53 miliar kepada PayPal. Tawaran tersebut disertai komitmen pembiayaan bank senilai US$50 miliar dan, apabila terealisasi, berpotensi menjadi salah satu leveraged buyout terbesar dalam sejarah.
Namun, board PayPal menolak tawaran tersebut. Harga US$60,50 per saham dinilai belum mencerminkan potensi jangka panjang perusahaan. Investor terkenal Michael Burry, yang dikenal luas melalui kisah "The Big Short", bahkan menilai fair value PayPal berada di sekitar US$100 per saham.
Negosiasi sempat kembali dibuka pada pertengahan Agustus dengan harapan munculnya harga yang lebih tinggi. Namun, Stripe dan Advent kini memilih mundur sepenuhnya.

Performa saham PayPal dibandingkan Nasdaq 100 secara year-to-date 2026 menunjukkan bahwa PYPL baru berhasil menghapus kerugian tahunannya, tetapi masih tertinggal jauh dari indeks teknologi. Sumber: Bloomberg
Mengapa Stripe Akhirnya Mundur?
Ada beberapa faktor yang kemungkinan mendorong keputusan tersebut. Pertama adalah perbedaan ekspektasi valuasi yang sulit dijembatani. PayPal menginginkan valuasi mendekati US$70 per saham, sementara Stripe dan Advent menilai premium sebesar itu tidak sebanding dengan risiko integrasi dan hambatan regulasi yang kemungkinan harus dihadapi.
Dengan kapitalisasi pasar PayPal saat ini berada di kisaran US$52 miliar, selisih antara tawaran awal dengan ekspektasi board mencapai lebih dari US$8 miliar.
Kedua adalah kompleksitas regulasi. Menggabungkan dua perusahaan pemrosesan pembayaran terbesar dunia hampir pasti akan menarik perhatian regulator antitrust di Amerika Serikat maupun Eropa.
Skenario ketika regulator memaksa divestasi unit bisnis tertentu, seperti Braintree, bahkan dapat mengurangi nilai strategis dari akuisisi itu sendiri. Stripe telah membangun ekosistem pembayaran yang semakin terintegrasi secara vertikal, mulai dari stablecoin melalui Bridge, blockchain settlement Tempo, hingga Open USD. Dalam kondisi tersebut, perusahaan mungkin menilai bahwa melanjutkan pertumbuhan organik lebih masuk akal dibandingkan mengambil risiko integrasi berskala sangat besar.
Ketiga, Stripe sendiri sedang disibukkan oleh agenda ekspansi lain. Perusahaan dilaporkan tengah melakukan pembicaraan untuk mengakuisisi OpenRouter, platform AI model routing, melalui transaksi yang diperkirakan bernilai sekitar US$10 miliar.
Ekspansi menuju infrastruktur artificial intelligence mungkin dipandang lebih strategis dibandingkan mengambil alih perusahaan incumbent yang masih berusaha mempertahankan pangsa pasarnya.
Apa Selanjutnya untuk PayPal?
Dengan menolak tawaran tersebut dan kini ditinggalkan calon pembelinya, PayPal berada dalam posisi yang menuntut eksekusi bisnis jauh lebih kuat.
Laporan Q2 2026 memang memberikan sedikit ruang bernapas. Revenue naik 5% menjadi US$8,7 miliar, melampaui ekspektasi analis. EPS non-GAAP sebesar US$1,38 juga berada di atas konsensus US$1,28.
Total payment volume tumbuh 9% secara currency-neutral menjadi US$486 miliar, sementara jumlah monthly active accounts untuk Venmo Debit Card melonjak lebih dari 50%. Manajemen bahkan menaikkan guidance setahun penuh dengan proyeksi EPS non-GAAP sebesar US$5,38.
Namun, angka-angka tersebut masih menyimpan sejumlah kelemahan.
Pertumbuhan branded checkout, yang merupakan bisnis inti PayPal, hanya mencapai 2% secara currency-neutral. Non-GAAP operating margin turun 248 basis poin menjadi 17,4%.
Program efisiensi biaya sebesar US$1,5 miliar dalam dua hingga tiga tahun ke depan memang cukup ambisius, tetapi belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan kompetitif dari Apple Pay, Google Pay, dan tentu saja Stripe.
CEO Enrique Lores, yang baru memimpin sejak Maret 2026, telah membagi perusahaan menjadi tiga unit utama: Checkout, Venmo, serta Payments & Crypto. Namun, restrukturisasi tersebut masih terlalu dini untuk dinilai keberhasilannya.
Investor Takeaway
Mundurnya Stripe dan Advent dari upaya akuisisi menghilangkan premium takeover yang selama ini menjadi salah satu penopang sentimen terhadap harga saham PayPal.
Dengan konsensus analis berada di level Hold dan target harga rata-rata sekitar US$59,14, PayPal kini harus membuktikan bahwa transformasi internalnya mampu menghasilkan pertumbuhan dan penciptaan nilai yang lebih besar dibandingkan apa yang sebelumnya ditawarkan melalui deal senilai US$53 miliar.
Risiko terbesar bagi PayPal bukan sekadar apakah perusahaan mampu bertahan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah PayPal dapat kembali tumbuh cukup cepat di tengah lanskap pembayaran digital yang semakin kompetitif.
NVIDIA Tambah US$442 Miliar, Tapi Wall Street Masih Minta Lebih
Daily Summary: Nvidia Naik 9%, Tapi Rally Nasdaq Ternyata Sangat Sempit
US Open: Nvidia Naik 7%, Tapi Rally Chip Belum Menyebar
Apakah Nvidia Sekarang Perusahaan Terbaik di Dunia?
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.