Sentimen Risiko Menguat, Harga Minyak Stabil
Pasar keuangan global pada hari Kamis menunjukkan sentimen risk-on. Imbal hasil obligasi turun, indeks saham menguat tipis, dan harga minyak dunia tetap stabil. Ketegangan geopolitik mulai mereda, sementara ekspektasi terhadap pemotongan suku bunga besar-besaran oleh The Fed semakin meningkat, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Shell Tegas Tolak Akuisisi BP
Berita utama dari Inggris datang dari Shell, yang secara tegas membantah rumor bahwa mereka akan mengakuisisi BP. Kabar pembicaraan akuisisi sempat beredar Rabu malam, namun Shell langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah laporan tersebut dan memicu aktivasi Pasal 2.8 dalam Takeover Code. Artinya, potensi akuisisi Shell terhadap BP baru bisa dibicarakan kembali paling cepat tahun 2026.
Menariknya, saham BP justru naik pada Kamis, sementara saham Shell sedikit turun. Sejauh ini di tahun berjalan, keduanya tertinggal dari kinerja indeks FTSE 100, sebagian karena harga minyak yang masih lemah. Kini dengan Shell keluar dari daftar calon pembeli, kecil kemungkinan harga saham BP akan pulih dalam waktu dekat.
Meski rumor ini mereda, ada logika bisnis dalam kemungkinan merger antar raksasa minyak. Menurut IEA, pasokan minyak global masih melimpah tahun ini dan tahun depan, sehingga harga minyak mentah diperkirakan tetap tertekan. Dalam situasi ini, penyatuan cadangan bisa jadi strategi bertahan yang masuk akal.
Dolar Anjlok Karena Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga
Fokus pasar kini tertuju pada dolar AS setelah muncul laporan bahwa Donald Trump sedang mempertimbangkan mengumumkan calon pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed secepat musim gugur ini, meskipun masa jabatan Powell baru berakhir Mei 2026.
Hal ini berpotensi melemahkan otoritas Powell di sisa masa jabatannya. Konsensus pasar memperkirakan Trump akan menunjuk figur dovish yang siap menurunkan suku bunga. Akibatnya, imbal hasil obligasi AS turun tajam, dan indeks dolar jatuh ke level terendah dalam tiga tahun terakhir.
Apakah Independensi The Fed Terancam?
Pasar futures suku bunga kini memperkirakan pemangkasan hingga 5 kali (2,5 kali di 2025 dan 2,5 kali di 2026). Di akhir 2026, suku bunga acuan AS diprediksi hanya sekitar 3%. Ini sejalan dengan visi Trump, tapi juga menimbulkan pertanyaan tentang independensi The Fed.
Jika pengganti Powell diumumkan dalam waktu dekat, bisa muncul fenomena “shadow Fed” yang mengganggu komunikasi resmi Powell. Kandidat terdepan saat ini meliputi Kevin Warsh, Kevin Hassett, Christopher Waller (yang mendukung pemangkasan suku bunga Juli), dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Penurunan Imbal Hasil dan Kekhawatiran Fiskal Tekan Dolar
Dalam gambaran besar, pelemahan dolar mencerminkan lemahnya minat terhadap obligasi AS. Imbal hasil obligasi menurun drastis dalam beberapa hari terakhir—yield Treasury 2 tahun turun lebih dari 18 basis poin minggu ini—mendorong depresiasi mata uang dolar.
Saat ini, dolar adalah mata uang terlemah kedua dalam kelompok G10 minggu ini, terutama terhadap pound sterling karena yield obligasi Inggris diperkirakan tetap lebih tinggi dalam jangka menengah.
Saham AS Menguat, Nvidia Cetak Rekor Baru
Futures saham AS mengindikasikan pembukaan yang lebih tinggi hari ini. Saham teknologi melambung karena yield yang lebih rendah meningkatkan daya tarik sektor ini. Nvidia naik 4% pada hari Rabu dan mencetak rekor harga tertinggi baru, menjadikannya perusahaan paling bernilai di dunia setelah reli lebih dari 60% sejak April.
Bitcoin juga menguat sejalan dengan pasar saham AS, mendekati rekor tertingginya dan mendorong kenaikan saham seperti Coinbase, yang menjadi top performer di indeks S&P 500 minggu ini.
Tiga Pasar yang Perlu Dipantau Minggu Depan (27.02.2026)
Daily summary: Awal dari Berakhirnya Disinflasi?
Jane Street: Market Maker Legendaris di Meja Hijau
US Open: Kenaikan Minyak & PPI Tekan Wall Street 📉