EIA merilis laporan Short-Term Energy Outlook (STEO) terbaru dan secara signifikan menaikkan proyeksi harga minyak.
Menariknya, revisi harga tersebut dilakukan meskipun EIA sekaligus memperkirakan adanya perbaikan bertahap pada arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta peningkatan supply minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Produksi minyak Timur Tengah diperkirakan meningkat ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali pulih.
Namun, EIA masih memperkirakan sebagian kendala ekspor dari kawasan tersebut akan bertahan hingga akhir 2026.
- EIA menaikkan proyeksi rata-rata harga WTI pada 2026 menjadi US$84,65 per barel, dari sebelumnya US$80,88. Proyeksi Brent juga dinaikkan menjadi US$91,01, dari US$86,81.
- Untuk 2027, proyeksi WTI dinaikkan menjadi US$69,74 dari US$65,39, sementara Brent direvisi menjadi US$73,74 dari sebelumnya US$69,39.
- Produksi minyak global pada 2026 diperkirakan rata-rata mencapai 100,6 juta barel per hari, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 100,8 juta. Untuk 2027, EIA memperkirakan produksi sebesar 109,9 juta barel per hari, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 109,7 juta.
- Permintaan minyak global pada 2026 diproyeksikan sebesar 102,6 juta barel per hari, dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 102,7 juta. Proyeksi 2027 tetap tidak berubah di 105 juta barel per hari.
- Produksi minyak mentah AS diperkirakan rata-rata sebesar 13,83 juta barel per hari pada 2026, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya. Untuk 2027, estimasi dinaikkan menjadi 14,26 juta barel per hari dari 14,15 juta.
- Dalam jangka pendek, produksi minyak mentah AS diperkirakan naik dari 13,88 juta barel per hari pada Agustus menjadi 13,96 juta pada September, sebelum rata-rata berada di sekitar 13,95 juta pada Oktober.
- Permintaan minyak AS pada 2026 tetap diproyeksikan sekitar 20,6 juta barel per hari, sementara estimasi 2027 berada di 20,8 juta.
Revisi terbaru menunjukkan bahwa EIA melihat harga minyak akan bertahan lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya meskipun kondisi supply diperkirakan membaik secara bertahap.
Hal tersebut mencerminkan dampak gangguan ekspor dari Timur Tengah yang diperkirakan belum sepenuhnya hilang hingga akhir tahun.
Di sisi lain, peningkatan produksi AS dan pemulihan arus melalui Selat Hormuz diperkirakan memberikan tambahan supply yang lebih besar pada 2027.
Ini turut menjelaskan mengapa proyeksi harga minyak tahun depan masih jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata yang diperkirakan untuk 2026.
Daily summary: Wall Street Melemah, Yield 10 Tahun Tembus 4,85%
Treasury AS Perbesar Buyback, Tapi Yield Justru Tembus 4,85%
Minyak Tembus US$100, Risiko Inflasi Memanas
US Open: Wall Street Turun, Minyak Tembus US$100
Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.