22.41 · 24 Juni 2026

Emas Tembus USD 4.000

Penembusan level psikologis USD 4.000 per ons menjadi pengingat keras setelah emas sempat mencetak rekor historis pada awal tahun. Pasar logam mulia kembali menunjukkan bahwa reli tajam tidak berlangsung selamanya, meskipun secara fundamental terdapat sejumlah faktor yang seharusnya mendukung harga emas.

Lalu bagaimana kondisi pasar saat ini?

Emas Turun Hampir 30% dari Puncaknya

Pada akhir Januari 2026, harga emas masih diperdagangkan di sekitar USD 5.600 per ons. Penurunan menuju kisaran USD 4.000 saat ini berarti harga telah terkoreksi hampir 30% dari puncak tertingginya. Penyebab utama pelemahan tersebut adalah perubahan drastis ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat yang mendorong penguatan tajam dolar AS. Indeks dolar kini berada di level tertinggi dalam sekitar 13 bulan. Karena emas diperdagangkan dalam dolar AS, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global. Di sisi lain, permintaan perhiasan yang lemah pada kuartal sebelumnya juga membatasi peluang pemulihan permintaan fisik, meskipun pembelian oleh bank sentral masih relatif kuat. Inflasi juga memberikan pengaruh yang berbeda dalam jangka pendek dan panjang. Dalam jangka panjang, inflasi cenderung positif bagi emas sebagai aset lindung nilai. Namun dalam jangka pendek, penurunan ekspektasi inflasi justru menjadi faktor yang menekan harga emas.

Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB

Seberapa Besar Koreksi 30% Secara Historis?

Bagi investor yang terbiasa melihat reli emas sepanjang 2025, penurunan hampir 30% memang terlihat sangat besar. Namun secara historis, emas merupakan aset yang sangat volatil dan pernah mengalami pasar bearish yang berlangsung sangat lama.

 

Koreksi Besar 1983–2007

Penurunan terdalam dalam sejarah modern emas terjadi antara 1983 hingga 2007. Harga emas anjlok sekitar 54% dan membutuhkan hampir 25 tahun untuk kembali ke rekor tertinggi sebelumnya.

Koreksi 2011–2015

Setelah mencapai puncak sekitar USD 1.920, emas kemudian turun sekitar 45% hingga mendekati USD 1.050.

Struktur Pasar

Dalam 50 tahun terakhir, emas menghabiskan hampir separuh waktunya dalam fase koreksi lebih dari 20% hingga 30%. Artinya, koreksi saat ini masih berada dalam kisaran yang relatif normal menurut sejarah pergerakan emas. Penurunan sekitar 30% bahkan dapat menjadi indikasi bahwa tekanan jual mulai mendekati fase perlambatan.

 

Sumber: Bloomberg Finance LP, XTB

Apa yang Menekan Harga Emas?

  1. Opportunity Cost: Emas tidak memberikan bunga maupun dividen. Ketika obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil riil yang tinggi, investor cenderung memindahkan dana ke aset yang menghasilkan pendapatan.
  2. Arus Keluar ETF Emas: Investor institusi terus mengurangi kepemilikan pada ETF berbasis emas. Arus keluar tersebut memperbesar tekanan jual di pasar spot.
  3. Meredanya Kekhawatiran Geopolitik: Meskipun ketegangan di Timur Tengah masih berlangsung, pasar mulai beradaptasi dengan kondisi tersebut. Akibatnya, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas mulai berkurang.

Seberapa Hawkish Kevin Warsh?

Ketua baru Federal Reserve, Kevin Warsh, yang mulai menjabat pada Mei 2026, langsung mengubah ekspektasi pasar.

Pada konferensi bulan Juni, Warsh mengambil langkah yang tidak diperkirakan sebelumnya dengan meninggalkan pendekatan forward guidance, yaitu memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga beberapa bulan ke depan.

Ia menegaskan bahwa keputusan The Fed akan sepenuhnya bergantung pada data ekonomi terbaru dan bahwa prioritas utamanya adalah membawa inflasi kembali ke target.

Warsh juga mengkritik metode pengukuran inflasi yang digunakan saat ini.

Ia membentuk beberapa kelompok kerja untuk mengevaluasi indikator tersebut, dengan hasil kajian dijadwalkan dipublikasikan pada akhir tahun.

Karena itu, terdapat kemungkinan The Fed tidak akan mengambil langkah besar sebelum proses evaluasi tersebut selesai.

Warsh juga menyatakan ingin mengadopsi pendekatan Alan Greenspan yang cenderung berhati-hati dalam mengubah suku bunga.

Bisakah Suku Bunga Tetap Naik Saat Harga Minyak Turun?

Harga minyak memang telah turun tajam dari puncaknya ketika konflik di Selat Hormuz memanas dan sempat membawa Brent mendekati USD 120 per barel. Kini harga minyak telah kembali ke kisaran USD 70 per barel. Meski demikian, Warsh menilai tekanan inflasi belum benar-benar hilang.

 

Inflasi Inti Masih Tinggi

Inflasi inti serta indikator PCE diperkirakan masih berada di sekitar 3,6%, jauh di atas target The Fed.

Fokus pada Kebijakan Moneter

Menurut Warsh, inflasi lebih dipengaruhi oleh jumlah uang beredar dan kebijakan moneter dibandingkan fluktuasi harga komoditas yang bersifat sementara.

Tidak Ada Dot Plot Baru

Warsh juga tidak merilis proyeksi suku bunga (dot plot). Di satu sisi, hal ini menunjukkan kehati-hatian. Namun di sisi lain, pasar menilai Warsh juga menghindari memberikan sinyal yang dapat memicu reaksi politik jika memang sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Saat ini pasar masih memberikan probabilitas tinggi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026. Bagi emas, kombinasi dolar AS yang kuat, suku bunga tinggi, dan The Fed yang tetap hawkish merupakan skenario yang paling menekan. Namun di sisi lain, apabila ekspektasi pasar berubah secara drastis dalam beberapa bulan mendatang, kondisi tersebut juga dapat menjadi pemicu pemulihan harga emas yang cukup signifikan.

 

 


 
25 Juni 2026, 00.33

Daily Summary: AI Tertekan, Micron Jadi Sorotan, Emas dan Minyak Melemah

24 Juni 2026, 22.06

BREAKING: Persediaan Minyak AS Turun Tajam, Harga Tetap Tertekan

24 Juni 2026, 15.53

Emas Tertekan Setelah Deutsche Bank Pangkas Target Harga

24 Juni 2026, 01.03

Daily Summary: Saham Chip Anjlok, Nasdaq Tertekan di Tengah Keraguan AI

Perdagangan Berjangka mengandung risiko kerugian. Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan nasihat investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang. Investasi memiliki risiko. Berinvestasilah dengan bijak. XTB Indonesia berizin dan diawasi oleh Bappebti, OJK dan BI.

Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.
Instrumen keuangan yang kami tawarkan, khususnya derivatif, berisiko tinggi. Saham Fraksional (FS) merupakan hak fidusia yang diperoleh dari XTB atas bagian saham fraksional dan ETF. FS bukanlah instrumen keuangan yang terpisah. Hak korporasi yang terbatas dikaitkan dengan FS.